Kembang Kempis Gerakan Aktivis Mahasiswa Era New Media

  • Whatsapp

Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa selalu menjadi  pelopor gerakan perubahan pada setiap zaman. Gerakannya pun beranekaragam mulai dari turun jalan hingga membuat tulisan Рtulisan progresif untuk mengkritik hal Рhal yang dianggap sebagai bentuk penindasan ataupun bentuk penyalahgunaan kekuasaan.

Pada era lalu, tulisan – tulisan tersebut dimuat dalam bentuk cetak. Baik melalui surat kabar maupun selebaran yang mereka buat sendiri terus kemudian disebar. Gerakan yang pada masanya berjalan sangat efektif hingga mampu membuat gelombang gerakan yang luar biasa.

Pertanyaannya, apakah hari ini hal tersebut masih berlaku?

Jawabannya, kemungkinan besar tidak. Kemajuan teknologi yang beberapa waktu belakangan berjalan sangat pesat nyatanya membuat dunia berubah. Utamanya perilaku dalam berkomunikasi. Terdapat banyak kebiasaan pada dunia lalu bergeser cepat.

Membaca surat kabar misalnya. Kebiasaan ini konon katanya sudah bergeser menjadi membaca berita di media sosial, entah itu Facebook, Twitter (X), Instagram, YouTube maupun media sosial lainnya. Perubahan perilaku ini juga menandai adanya New Media (Media Baru) yang membuat banyak media konvensional bermigrasi menjadi online atau banyak dikenal dengan istilah Konvergensi Media.

Fakta ini sepertinya tidak banyak diseriusi oleh banyak Organisasi Aktivis Mahasiswa. Baik intra kampus maupun ekstra kampus. Tuduhan serius ini setelah melihat fenomena banyaknya organisasi mahasiswa yang semakin sepi peminat dari anak-anak generasi now, juga melihat perilaku organisasi mahasiswa dalam memperlakukan media sosialnya masing-masing.

Media sosial yang tersedia secara gratis itu tidak diperlakukan sebagaimana organisasi aktivisme. Isinya masih banyak berisi pamflet ucapan “selamat bertugas… “, ” Selamat atas dilantiknya… “, ” Selamat merayakan…” lengkap dengan gambar ketua umum dan sekretaris umum dengan senyum merekah. Maka tak usah heran banyak organisasi mahasiswa semakin kehilangan peminat juga simpati di Masyarakat secara luas.

lha wong perilaku organisasinya sek gawe jaman lawas, jamanku 15 tahun wingi. Yaopo carane mahasiswa iki dadi tertarik melbu dadi anggota, gausah melbu dadi anggota, melu acarane wae ora gelem. Malah jaman saiki wes jarang aku ndelok aktivis iki moco buku, melingkar berdiskusi opo maneh nulis. Ucap seorang Kanda

Media sosial harusnya menjadi alat yang sangat penting dalam memobilisasi dan mengorganisir gerakan aktivis mahasiswa. Dari demonstrasi hingga kampanye sosial, platform-platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube harusnya telah membuka pintu bagi para aktivis mahasiswa untuk menyampaikan pesan, menggalang dukungan, dan memperjuangkan perubahan sosial maupun memperlihatkan aktivitas yang dilakukan organisasi tersebut.

Memobilisasi Massa

Salah satu kekuatan utama media sosial adalah kemampuannya untuk memobilisasi massa dengan cepat dan efisien. Melalui penggunaan tagar (hashtag) dan ajakan berbagi, aktivis mahasiswa dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu singkat untuk menghadiri demonstrasi, acara, atau kampanye tertentu. Hal ini memungkinkan gerakan mahasiswa untuk mendapatkan momentum yang kuat dan menarik perhatian publik secara luas.

Penggalangan Dukungan

Media sosial juga memungkinkan aktivis mahasiswa untuk menggalang dukungan secara global. Mereka dapat berbagi cerita, foto, dan video tentang isu-isu yang mereka perjuangkan, serta mengajak teman mahasiswa lainnya ataupun masyarakat luas untuk bergabung dalam gerakan mereka. Dengan memanfaatkan fitur-fitur seperti polling dan petisi online, mereka dapat mengumpulkan tanda tangan atau suara dukungan dalam jumlah besar untuk memperkuat tuntutan mereka.

Menyampaikan Pesan dengan Efektif

Platform media sosial menyediakan ruang yang luas bagi aktivis mahasiswa untuk menyampaikan pesan mereka secara langsung kepada khalayak. Melalui tulisan, gambar, video, dan live streaming, mereka dapat mengkomunikasikan tujuan, nilai, dan aspirasi gerakan mereka dengan cara yang menarik dan memengaruhi. Ini memungkinkan mereka untuk menciptakan narasi yang kuat dan memperoleh dukungan yang lebih besar dari masyarakat.

Mendukung Jurnalisme Warga

Media sosial juga telah memungkinkan berkembangnya jurnalisme warga (citizen journalism), dimana individu biasa dapat menjadi sumber berita dan informasi yang relevan. Aktivis mahasiswa dapat menggunakan platform media sosial untuk menyebarkan informasi tentang peristiwa penting, pelanggaran hak asasi manusia, atau ketidakadilan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Hal ini memungkinkan mereka untuk memperoleh visibilitas yang lebih besar dan memicu respons lebih lanjut dari pihak berwenang atau masyarakat umum.

Sudah banyak contoh gerakan di media sosial yang mampu mendorong gerakan perubahan ataupun setidaknya mendapat atensi dari pihak terkait didalamnya. Misal #NoViralNoJustice yang mampu mendorong pengusutan berbagai perkara yang dianggap janggal atau dihiraukan sebelumnya namun karena riuhnya media sosial akhirnya mendorong berbagai peristiwa tersebut diatasi oleh pihak terkait

Media sosial yang harusnya menjadi kekuatan yang kuat dalam memobilisasi, menggalang dukungan, dan menyampaikan pesan dalam gerakan aktivis mahasiswa namun kenyataannya masih banyak organ mahasiswa menyepelekan hal tersebut. Padahal jika mampu memanfaatkan platform-platform ini secara efektif, para aktivis dapat menciptakan perubahan sosial yang signifikan dan memperjuangkan hak-hak dan keadilan bagi masyarakat.

Dengan kenyataan yang sudah demikian terpampang, Kapan rencana tobat kanda, sahabat, bung?

Pos terkait