Beras dan Masyarakat Asia

Tak ada yang mengejutkan jika orang Barat heran mengapa orang Asia bisa makan nasi sehari tiga kali. Yang justeru menarik adalah mencari penjelasan mengapa orang Asia begitu gemar mengonsumsi nasi.

Eating rice has become an identity for Asian in consuming food. Bahkan, beras sebagai bahan makanan pokok di Asia tetap belum tergantikan. Tradisi kuliner modern yang bersifat lintas peradaban hari ini berkembang begitu pesat. Tetapi itupun belum cukup untuk menggeser beras.

Guansheng Ma, ahli makanan dari Department of Nutrition and Food Hygiene, School of Public Health, Peking University membuat ulasan menarik. Ia dalam jurnal Science Direct menulis tentang “Food, eating behavior, and culture in Chinese society.”

Manusia memerlukan nutrisi dari makanan untuk survive dan sehat. Ketentuan untuk mendapatkan energi dan nutrisi berbeda menurut ras, usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik. Orang-orang yang tinggal di tempat berbeda mendapatkan nutrisi dari makanan berbeda. Karena itu, nutrisi lebih merupakan proses biologis kultural daripada sekadar proses fisiologis dan biokimikal. Memasukkan makanan ke tubuh dapat langsung mempengaruhi fungsi biologis melalui kehidupan. Apa yang dimakan orang, prosesnya dapat dipengaruhi oleh ekonomi, politik, budaya, dan banyak faktor lainnya.

Artikel itu berusaha menjelaskan fungsi sosial dari makanan. Menurutnya, makanan bukan hanya sumber nutrisi bagi manusia, tapi juga memainkan berbagai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi sosial makanan menurut Guansheng Ma antara lain seperti berikut ini:

  1. Membangun dan merawat hubungan interpersonal. Makanan punya banyak makna simbolik. Tidak hanya mengekspresikan tapi juga membangun hubungan antara orang dengan lingkungan, juga dengan apa yang jadi kepercayaannya. Karena itu, makanan adalah komponen penting dalam masyarakat. Jenis makanan yang dikonsumsi oleh satu orang saja bukanlah makanan untuk masyarakat. Dalam masyarakat Asia, orang biasanya memperlakukan orang lain dengan menyajikan hidangan untuk membangun atau memperkuat persahabatan.
  2. Mengekspresikan tingkat hubungan antar personal. Makanan yang berbeda bisa menunjukkan tingkat kedekatan hubungan yang berbeda.
  3. Menunjukkan status sosial. Makanan bisa berguna untuk menunjukkan status sosial. Makanan yang mahal dengan nutrisi tinggi dan langka didapat mewakili makanan kalangan dengan status ekonomi yang tinggi. Ini biasanya terkait dengan gaya hidup kaum kaya.
  4. Sebagai penanda ciri khas kelompok. Makanan bisa pula digunakan sebagai penanda kelompok, misalnya kelompok dengan beragam latar belakang daerah, keluarga, ras, atau agama. Beberapa negara bahkan punya makanan khas dan dikenal sebagai hasil budaya mereka. Perilaku makan, jika telah terbentuk, akan memiliki kesinambungan. Ketika orang berpindah ke daerah atau negara lain, dia akan membawa tradisi makan, citarasa makanan, juga cara memasak.
  5. Merayakan peristiwa penting. Pada peristiwa seperti pernikahan atau upacara keagamaan, makanan bisa berfungsi menjelaskan representasi kedudukan sosial dan tingkat luasnya jalinan hubungan sosial. Makanan juga menandai momen-momen merayakan festival tertentu di berbagai negara.
  6. Membawa makna simbolik. Beberapa jenis makanan membawa makna simbolik tertentu. Buah kurma Cina (Chinese dates) dianggap bisa membuat pasangan yang baru menikah cepat punya keturunan. Jeruk bermakna membawa keberuntungan. Mie instan bermakna membawa kesehatan. Beras bermakna menyatukan anggota keluarga.

Catatan kecil dari artikel Guansheng Ma juga menarik diungkapkan. Makanan bisa digunakan memberi hukuman atau penghargaan. Survey menunjukkan 29 persen orangtua menggunakan makanan untuk menyenangkan anak-anaknya, 23 persen sebagai bentuk penghargaan, dan 10 persen untuk memberi hukuman dengan tidak membolehkan si anak mengonsumsi. Sementara itu, 62 persen ibu-ibu menggunakan rasa manis sebagai penghargaan, dan melarang menikmati rasa manis sebagai hukuman.

Penjelasan ahli nutrisi Guansheng Ma mengingatkan kita dengan penjelasan ulama dan pemikir Islam terkenal Al Gazali. Menurut Al Gazali, ada hubungan antara makanan dengan moral atau kepribadian seseorang. YOU ARE WHAT YOU EAT. Begitu singkatnya jika pendapat Al Gazali ingin dikatakan.

Jika orang mengonsumsi makanan yang halal, diperoleh dengan cara yang baik dan benar, tidak melanggar hukum, dan dimasak dengan cara yang tepat, lalu dikonsumsi secara ugahari atau tidak berlebihan, maka kandungan zat-zat dalam makanan akan berproses dalam tubuh, dan menghasilkan sesuatu yang “ajaib” … Ternyata, makanan itu mampu membuat orang yang mengonsumsi menghasilkan pikiran yang jernih dan bermutu tinggi (higher thinking), serta menghasilkan tindakan yang sepenuhnya sejalan dengan imperative moral yang tinggi dan mulia.

Bukankah pikiran yang cerdas dan tindakan-tindakan sosial berbasis moral yang kuat dan luhur adalah basis bagi terciptanya masyarakat yang unggul.

Buat masyarakat Asia toh berabad-abad sudah jelas duduk perkaranya: beraslah yang membuat badan mereka tetap tegak.

Pos terkait

banner 468x60