“Pendidikan seharusnya tidak menghasilkan keseragaman, melainkan praktik kebebasan, sarana yang memungkinkan manusia untuk menghadapi realitas secara kritis dan kreatif serta menemukan cara untuk berpartisipasi dalam transformasi dunia mereka.” –
—Pedagogi Kaum Tertindas, Paulo Freire, 1968
Jika kita telah lama akrab dan intim dengan konsep Ki Hajar Dewantara di Tanah Air, maka kali ini sesekali menoleh pada filsuf dan pendidik dari Brasil, yang tenar dengan konsep Conscientização. Yakni, ditranslasikan bebas sebagai konsep kesadaran kritis dalam pendidikan yang tahun 2026 awal ada fenomena yang menampar sebagai bangsa Indonesia.
Bunuh diri seorang anak SD Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebab ketidakmampuan membayar uang sekolah dan membeli perlengkapan sekolah wujud paras menyayat dunia pendidikan.
Pendidik dan seluruh sistem yang menopang sekolah, telah sejak dini gagal membantu manusia menghadapi realitas, kita semua remuk-redam dari nalar sampai nurani. Freire semenjak awal sudah bersuara lantang tentang pendidikan sejatinya membebaskan manusia menghadapi hidup.
Bukan seperti “bank layaknya rekening yang ditransfer masuk pundi-pundi uang” yang mencekoki kita seluruhnya sampai dewasa, tentu saja atas nama kurikulum sakral menumpuk di otak dan tak menggerakkan nalar, apalagi nurani?
Seorang ketua BEM, badan eksekutif mahasiswa dari UGM, kemudian menjadi viral saat bunuh diri anak SD di NTT itu memuncak, pada Februari 2026; ia menjadi polemik nasional tatkala menyurati badan dunia agar memberi peringatan pada Pemerintah Indonesia. Suratnya kemudian bersliweran di media-sosial menaikkan darah para petinggi Pendidikan kita.
Januari 2026 juga bulan muram, tatkala anggaran pendidikan dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar Rp757,8 triliun hingga Rp769 triliun, angka tertinggi dalam sejarah Indonesia yang memenuhi mandatory spending 20%. Celakanya, fokus utamanya yang mencakup peningkatan kualitas SDM, teknologi pendidikan, malahan untuk mensubsidi integrasi Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai lebih dari Rp223 triliun.
Awal bulan Januari juga, dilaporkan lebih dari 20.000 siswa di Indonesia mengalami keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurut laporan Tempo, yang meningkat dari data sebelumnya per Oktober 2025 yang mencatat sekitar 11.566 sesuai data di Watimpres.
Sebuah Ironi dan gambaran tragik terjadi, penyebab utama keracunan dengan dugaan kontaminasi makanan (cemaran mikrobiologis dan kimia) itu kembali mencipta trenyuh di hati saat diketahui program MBG, Badan Gizi Nasional serta pengelola SPPG sangat sembrono dalam pengelolaan dana dari APBN.
Tahun ini, Indonesia dihajar juga warisan 2025 dengan menghadapi beban hampir 200 juta penduduk miskin di Indonesia (sekitar 194-208 juta jiwa pada 2024-2025) yang seturut proyeksi Bank Dunia menggunakan standar baru yang lebih tinggi ($8,30 per hari), bukan data resmi BPS.
Semuanya berakibat Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yakni rasio perbandingan harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup dari data United Nations Development Programme (UNDP) mencipta di ASEAN Indonesia dipecundangi oleh Singapura (0,95) kemudian disusul oleh Brunei Darussalam (0,82) dan Malaysia (0,81), peringkat keempat adalah Thailand (0,80), kelima adalah Vietnam (0,73), baru Indonesia dengan angka (0,71) terjerembab keras.
Balik ke tokoh Pendidikan, filsuf pedagogi Paulo Freire, dengan Conscientização-nya. Ia menekankan pendidikan hakekatnya wajib membangun proses perkembangan untuk memahami ketidaksetaraan sosial, politik, dan ekonomi. Dengan demikian siswa yang bunuh diri di NTT tersebut, adalah hasil dari sistem masyarakat yang tidak dididik mengambil tindakan untuk menantang struktur penindasan guna menciptakan dunia yang lebih adil.
Freire sudah gamblang menjelaskan dalam inti pada bukunya yang tenar itu, Pedagogy of the Oppressed.
Guru Seni Joseph Beuys
Dari Jerman, seniman sohor dunia Joseph Beuys nampaknya yang paling ideal untuk membawa konsep Freire. Yakni, yang mana pendidikan seni musti mencetak individu-invididu seniman yang menganalisis realitas secara kritis dan menggubah dunia personal mereka sendiri, daripada sekadar menyesuaikan sistem yang ada.
Beuys sangat bangga dengan ujarannya tentang menjadi guru adalah merupakan berkah karya seni teragung baginya yang mana, ia getol mempromosikan pendidikan seni yang radikal, terbuka, dan berfokus pada “patung sosial”; sebagai tindakan artistik yang paling utama untuk membentuk masyarakat dimulai dengan diri terlebih dahulu.
Seniman ini kuat mempengaruhi kehadiran perspektif seni aktivisme dengan konsep “seni yang diperluas” (extended definition of art). Sebab itu, baginya seni adalah potensi besar manusia, jeder mensch ist ein künstler, tiap orang adalah seniman.
Tiap orang, bahkan bagi Beuys memiliki kemampuan kreatif untuk membentuk masyarakat dan kehidupannya bukan sekedar “melukis atau membuat patung”; guru itu justru karya seni yang sesungguhnya, selebihnya adalah produk limbah berupa demonstrasi konsep dan kecanggihan teknis.
Dengan kita membebaskan, ujar Beuys, seni adalah satu-satunya kekuatan politik, satu-satunya kekuatan revolusioner, satu-satunya kekuatan evolusioner, satu-satunya kekuatan untuk membebaskan umat manusia dari segala penindasan dengan beraksi kreatif lewat intuisi, inspirasi, kesadaran diri, dan tekad yang mampu membongkar efek represif dari sistem sosial yang telah lama keropos.
Seniman tenar ini,yang juga beririsan dalam gerakan Fluxus di tahun 1970-an ini, bahwa eksistensi kelak seniman mampu berikhtiar mencipta kreasi “organisme sosial sebagai sebuah karya seni”. Paling mengagumkan, Beuys memulai sebuah konsep radikal dalam pendidikan— persis dengan visi Freire, bahwa Pendidikan seni dalam sistem ajar-mengajar layaknya sebuah arsitektur dialog kesetaraan.
Bukanlah konstelasi guru-dari-siswa dan siswa-dari-guru yang sudah lapuk, namun dialektika yang menggedor dengan metode anyar: guru-siswa dengan siswa-guru. Disanalah tantangan guru seni menggunakan komunikasi resiprokal dua arah adalah memberi kehidupan kesejatian manusia mampu meraih makna, yakni mendidk sekaligus membebaskan.

Guru Gambar Moelyono

Jika kita berpulang ke Indonesia, segera saja nama Moelyono menggetarkan dengan resonansi aksi seni baik konsep Freire pun laku Beuys; seturut pengakuannya di sebuah blog personal, “melukis realis tema sosial membawa kegundahan, ternyata tidak menyelesaikan persoalan sosial”,ujarnya tandas.
Kala pulang kampung ke Tulungagung, ia tertarik masuk ke dusun-dusun dengan mwnyaksikan langsung seluruh problem sosial, misalnya ke desa ‘Waung’ yang selalu jadi rawa. Ikut-ikutan Moelyono membuat lahan apung dari enceng gondok yang dibalik diberi tanah ditanami bayam, jagung dan cabe.
Disanalah konsep seni dan realitas sosial tersambung, yang menggegerkan kemudian di kancah ekosistem seni aktivisme ala Moelyono, seniman Jawa Timur ini pada 1985 kegiatan di rawa Waung dengan membuat ekspresi karya “KUD” – Kesenian Unit Desa – sebagai syarat ujian S1 di Perguruang Tinggi Seni di Jogjakarta.
Wujudnya, berupa paparan 12 lembar tikar merah, tiap tikar ada pincuk tempat nasi daun pisang berisi tanah dengan tunas kangkung, kacang, bayam, cabe, jagung, ubi, satu dangau pendek berisi tikar dengan sketsa wajah konglomerat.
Sementara, di ujung deretan tikar dipasang Moelyono podium dengan mike untuk suara gelombang gemerisik radio transistor. Di sudut paparan tikar diletakkan speaker bersuara gemerisik gelombang radio.
Malangnya, sidang ujian dibuka ketua dewan penguji dengan peryataan bahwa karya Moeyono tersebut ditolak. “Tidak memenuhi syarat sebagai karya seni lukis, maka ujian dinyatakan ditolak. Saya mengangkat tangan akan menjelaskan karya, tapi langsung oleh panitia diajak keluar sidang” ujar Moelyono.
Di kemudian Hari, konsep Moelyono Sang Guru Gambar menyeruak di pentas seni Tanah Air, bahwa pemikiran substansial pameran seni semata berkarya tidak berangkat dari rasa trenyuh atau keharuan romantis, produk ekspresi perasaan semata kemudian menerakan simbol-simbol semata di kanvas lukis, tapi bertolak data-data obyektif yang akurat dan membuat aksi kongkrit di lapangan kehidupan.
Jika tak terhitung jumlah seniman kontemporer menjalani eksplorasi dalam hidup di kota besar, ia memilih minggir dan menikmati desa. Saat para perupa bergairah membawa tema-tema isu budaya urban yang saat sama eksis berpameran dari galeri privat ke galeri lainnya, Moelyono tercandu mengelana di desa-desa semata “memberdayakan orang desa yang melarat” dengan seni. Tatkala sebagian seniman berasyik-masyuk memeluk kemakmuran atas hasil penjualan lukisan dan makin berjarak pada realitas sosial— apalagi saat ini Indonesia di masa genting dan krisis–, rupanya Moelyono setia pada komunitas desanya.
Bersama komunitas itu, Moelyono berusaha mendorong kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian. Seniman selayaknya bergeliat dalam kehidupan nyata akar rumput terbawah; lewat kesenian, seniman dan penduduk desa bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.
Ia yakin, seni bisa jadi metode istimewa yang ditularkan dan dipelajari untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni sejujurnya menjadi instrumen mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar.
Sama dengan Beuys, Moelyono memaknai seniman sama-sama jadi “subyek yang aktif”, untuk menjadikan “patung-sosial” guna memperjuangkan perubahan hidup lebih baik.
Moelyono dengan pengalamannya mendidik anak-anak kecil di desa-desa nelayan di Tulung Agung, yang pada akhirnya meraihnya ganjaran semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992.
Jadi, seniman itu seperti juga Friere dan Beuys, maka Moelyono menyatakan bahwa guru seni ya harus menjadi pekerja seni, organisatoris pun seniman dan sekaligus peneliti. Dan, kita semua tahu bahwa Moelyono tekun menulis di media masa dan dikumpulkan menjadi sebuah buku yang kemudian sohor dengan gagasan otentiknya: Seni Rupa Penyadaran (1997).
Maka, kembali pada fenomena bunuh diri seorang anak SD Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) awal 2026 lalu, seorang guru seni atau “seni guru” layak menauladani Beuys pun Moelyono, yang harus menopangnya dengan “tur-ba”? —ingat saat era sanggar-sanggar Lekra tahun 1950-an,– guru seni, tentu dengan kompleksitas hidup mereka dan biaya tinggi di kota, guru-guru seni hari ini tak harus mengikuti total jejak Moelyono, apalagi se-ekstrem pengalaman Beuys.
Cukuplah, dengan menjaga tenggang rasa dan kepedulian yang mendalam pun kata Moelyono, lewat penelitian, menjelajahi buku-buku tentang pemberdayaan sosial, serta inisiatif membuat “sanggar atau studio di kota-kota besar” yang kata kerennya, collective initiative artist, yang membawa pesan bahwa kepedulian pada sesama wajib terus digaungkan, kita semua sungguh tertoreh luka yang amat dalam di dunia Pendidikan Indonesia.



