Menyimak Diksi Epic Fury versus True Promise AS-Iran

Dunia hari-hari ini dikerangkeng dua “mantra” kata yang menghebohkan. Apa lagi jika bukan slogan perang “Kemarahan nan Agung” gaya Amerika Serikat (AS) dengan “Janji Sejati” ala Iran.

 

Selayaknya komunitas budaya, seni dan sastra yang mungkin bisa memberi perespektif membeda, yang mencerahkan. Bisa membahas bergantian memberi komentar di TV nasional pun juga podcast-podcast di media sosial seperti YouTube, IG pun Tiktok selain juga media online seperti ini.

 

Yang terjadi, adalah menyaksikan geberan narasi para pengamat geopolitik, analis militer sampai mantan duta besar, mantan marsekal udara juga jurnalis Perang Teluk Persia yang rerata mirip.

 

Yakni kecanggihan persenjataan militer, politik propaganda pemerintahan sejumlah negara yang terlibat, strategi tempur dengan perang yang disebut asimetris dengan strategi saling bakar kandang lawan; pun teori-teori kombat lewat ekonomi dan energi global via Selat Hormus.

 

Sebulan sudah menjelang, perang Teluk Persia bergulir makin menawan. Dengan tak bermaksud mengabaikan mereka yang terdampak ekonomi secara global dan mereka yang terbunuh menjadi korban.

 

Kita patut menengok, bagaimana para panglima perang negara berseteru dengan slogan- slogan, pamflet digital sampai tekanan mental di ruang siber mengambil hati publik global.

 

Perang narasi kita mulai dari diksi Epic, sebah kata sifat yang menggambarkan sesuatu yang megah. Perang berskala raksasa dan menakjubkan yang diberi kobaran amunisi ingatan akan menghantar pada kisah-kisah heroik. Konon, menarasikan kepahlawan yang seru dan berlarat- larat mempertahankan martabat. Biasa kita kenal dengan cerita-cerita negeri-negeri kuno, yang dikenal dengan “hikayat abadi” atau sebuah epos.

 

Jika digabungkan dengan kata Fury, yang ditranslasi bebas menjadi makna Amok, atau seseorang yang meledak hebat kemarahannya, cenderung tak terkendali. Maka kita akan segera menemukan bahwa para jenderal AS ingin operasi militernya memberi penanda sosok pahlawan atau prajurit perang sedang memanggul kemarahan puncak siap melumat musuh.

 

Sayangnya, simbol-simbol “Kemarahan nan Agung” yang dihasratkan seorang serdadu dengan semangat kepahlawan itu oleh Netizen—warga dunia maya, diplesetkan menjadi Epic Fail, bukan Fury. Jadi amok yang tak tepat sasaran kecuali hanya untuk guyonan, atau orang tak bernalar mengaku-aku hero, menyerang membabi-buta dengan alasan tak jelas.

 

Iran kali ini, melangkah ke panggung perang frontal di Teluk Persia dengan Janji Sehati, yang nampaknya tak heboh, juga tidak ingin menunjukkan kedigdayaan serta rasa pongah sebab tak mengantungi persenjataan tercanggih sejagad. Iran memulung kosa-kata datar, umum namun berdimensi jauh mendalam.

 

True Promise, adalah dua kata yang dijalin tak hanya mengusung tentang kekerasan, konflik serta kemarahan hebat namun, sebuah janji yang berbau “sakral” tentang sesuatu direlung hati, yang mungkin seperti pesan pada kekasihnya?

 

Atau sebuah tekad “melindungi Tanah Air, meski darah bertumpah ia berjanji”, yang ini dikaitkan dengan peristiwa 2025. Iran berkomitmen bukan pada kekasihnya, mereka “bersumpah” untuk membalas serangan pada Israel, membela Tanah Airnya, yang diteruskan perang terbuka di Februari 2026 sampai kini.

 

Kebudayaan maju Iran kuno, yakni Persia dengan kekayaan sastra, ilmu filsafat serta peradabannya, yang di Amerika Serikat bersampir hanya auman kemarahan, seperti juga dulu Perang Teluk di Irak dengan “mantra Desert Storm” pada negeri liberal dan demokratis memuja kedigdayaan nalar, teknologi militer serta ekonominya.

 

Sebaliknya, Iran bisa ditafsirkan Janji Sehatinya memilih diantara manifestasi negara Republik sekaligus pendekatan bentuk negara Teokrasi, negeri para Mullah, bisa jadi semboyan perang Garda Republik Islam Iran mencomot teks sakral:

 

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar…” — Surah Ar-Rum 30:60.

 

Perang Biblikal AS dan Kesederhanaan Iran

Sebuah negara liberal seperti AS, yang memang agak mengherankan menggunakan diksi-diksi biblikal akhir-akhir ini mengarah pada propaganda datangnya mesias akhir zaman.

 

Termasuk dari “Menteri Perang” AS, Pete Hegseth, seorang millennial dan mantan news anchor di Fox News mendapatkan kritikan keras, yang mana sering berpidato tentang kebijakan luar negerinya bersandar pada buku miliknya American Crusade, tahun 2020.

 

Ia digunakan oleh Donald Trump menarik empati internal publik AS dengan menyerukan perlawanan terhadap apa yang ia sebut musuh Amerika, termasuk “kaum kiri” dan Islam. Ironisnya, Trump juga menyalahkan semua diawali serangan pada Iran sebab provokasi Hegseth, kala negara-negara NATO enggan membantunya juga sekutu-sekutu AS di Arab mencari solusi di Selat Hormus yang diblokade Iran.

 

Tentunya, kesembronoan Hegseth, berbeda dengan Perang Salib abad pertengahan (abad ke- 11 hingga ke-13) yang merupakan perang reliji untuk merebut Yerusalem, penggunaan istilah ini dalam konteks Amerika senyatanya berkarakter politis dan bukan ideologis.

 

Hegseth memang sosok kontroversial, saat Januari lalu, tatkala ia masih menjadi kandidat Menteri Pertahanan, sering diserang oleh senator Partai Demokrat yang meragukan kemampuannya memahami peta geopolitik dunia.

 

Menyimak kesederhanaan Iran dengan kata “True Promise”, penulis diterbangkan benak pada sejumlah tokoh dunia yang memuliakan kata Janji. Dari JJ Rosseau, filsuf, komponis dan penulis asal Jenewa yang menjadi fundamen bapak demokrasi.

 

Ia menyitir sindiran pada bukunya untuk para aristokrat bahwa bahwa kekuasaan semata du contrat social, dikontrak semata. Kekuasaan bisa berganti, manusia bersetara dalam kedudukan, semudah dipilih oleh rakyat. Rosseau berseru “mereka yang paling lambat dalam membuat janji adalah yang paling setia dalam menepatinya”.

 

Sementara, dari bapak bangsa India, Mahatma Gandhi kita menemui tokoh pencerahan spiritual dan patriotisme negeri berdaulat dengan menyatakan bahwa “pengkhianatan janji adalah penyerahan kebenaran yang hina”.

 

Dari tanah Persia sendiri, seorang Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī, penyair sufi, teolog Maturidi, sekaligus ulama yang lahir di Balkh menggumamkan puisi ke angkasa “genderang terwujudnya janji itu berdentum, kita sedang membuka jalan menuju langit. Kebahagiaanmu ada di sini hari ini, apa yang tersisa untuk besok?

Pos terkait

banner 468x60