Yogyakarta, 26 November 2025 – Hujan lebat berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Bantul pada Jumat, (21/11), mengakibatkan terjadinya bencana longsor serta kerusakan sejumlah fasilitas umum. Kerusakan paling parah terjadi pada ruas jalan utama yang menghubungkan Padukuhan Wunut dan Padukuhan Sompok, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Akibat kejadian tersebut, sebanyak 150 warga Sompok dan 300 warga Kedungmiri terdampak langsung.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul pun menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang melalui Keputusan Bupati Bantul Nomor 723 Tahun 2025. Sedangkan rekonstruksi jalan yang amblas akan dilakukan setelah masa tanggap darurat berakhir, sementara kebutuhan dasar warga menjadi prioritas utama.
Selama masa tanggap darurat yang berlangsung dari 21 November hingga 5 Desember 2025, warga bersama relawan membangun jembatan darurat agar aktivitas sehari-hari tetap bisa berlangsung. Meski demikian, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada. Khusus warga Wunut, pemerintah meminta agar pada malam hari sementara waktu mengungsi hingga status gawat darurat dicabut.
Bantuan dari pemerintah daerah maupun masyarakat terus berdatangan, mencakup kebutuhan pokok, logistik, selimut, dan perlengkapan darurat lainnya. Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menegaskan bahwa fokus utama tanggap darurat adalah keselamatan jiwa.
“Dalam tanggap darurat ini, fokus utamanya adalah keselamatan nyawa. Maka kita mendirikan posko logistik. Tidak boleh ada warga yang kelaparan, kekurangan makan, atau tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari akibat terputusnya akses,” jelas Bupati Abdul Halim Muslih.
Selain pendirian posko, pemerintah daerah juga menyiapkan lokasi evakuasi jika kondisi kembali memburuk. Hal ini dilakukan karena BMKG memprediksi puncak musim hujan berlangsung hingga Desember 2025 untuk wilayah Indonesia bagian Barat, dan hingga Februari 2026 untuk wilayah bagian Selatan.
Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa, namun beberapa rumah warga mengalami kerusakan, termasuk satu rumah yang terancam roboh. Sebanyak 7 kepala keluarga (18 jiwa) di area rawan longsor di Padukuhan Wunut, Kalurahan Sriharjo, berada dalam pengawasan ketat pemerintah daerah.



