PROLOG: SAAT PENGETAHUAN TIDAK LAGI MENUNTUN KE KEBIJAKSANAAN
Krisis terbesar zaman ini bukan krisis informasi, melainkan krisis cara mengetahui. Pengetahuan tumbuh cepat, tetapi arah kemanusiaan justru kehilangan kompas.
Kita menyaksikan paradoks yang berulang: semakin banyak data, semakin dangkal pemahaman;
semakin canggih metodologi, semakin rapuh makna; semakin netral klaim ilmiah, semakin besar luka yang ditinggalkan.
IPCE memandang bahwa krisis sosial, ekologis, dan spiritual yang kita alami hari ini berakar pada cara mengetahui yang terputus dari tanggung jawab etis dan visi peradaban.
Manifesto ini lahir sebagai pernyataan sikap: bahwa perubahan tidak cukup dilakukan pada ranah kebijakan, kurikulum, atau teknologi, jika cara kita memahami dunia tetap sama.
LUKA EPISTEMIK SEBAGAI POLA, BUKAN INSIDEN
Luka epistemik bukan kecelakaan sejarah. Ia adalah pola yang diproduksi secara sistemik.
Ia muncul ketika: Pengetahuan digunakan untuk mengatur, bukan memahami.
Klasifikasi menggantikan dialog.
Objektivitas dipakai untuk menyingkirkan suara yang tidak nyaman.
Keberhasilan akademik diukur dari publikasi, bukan dari pemulihan sosial.
Luka ini tidak selalu terasa di ruang kelas, tetapi meledak di ruang publik sebagai konflik identitas, ketimpangan ekologis, dan keterasingan spiritual.
IPCE menyebut kondisi ini sebagai krisis orientasi epistemik: kita tahu banyak, tetapi tidak tahu ke mana pengetahuan itu membawa kita.
MENOLAK NETRALITAS, MENEGASKAN TANGGUNG JAWAB
IPCE menolak mitos bahwa pengetahuan dapat berdiri di luar nilai. Setiap teori membawa asumsi. Setiap kurikulum adalah pilihan moral. Setiap riset memiliki konsekuensi sosial.
Mengaku netral justru sering menjadi cara paling efektif untuk menyembunyikan kepentingan.
Karena itu, IPCE menegaskan:
pengetahuan harus jujur terhadap posisinya, sadar akan dampaknya, dan bertanggung jawab atas lukanya.
PRINSIP-PRINSIP EPISTEMIK
1. Pengetahuan adalah Relasi, bukan Sekadar Representasi
Mengetahui bukan hanya soal menggambarkan dunia, tetapi terlibat di dalamnya.
Pengetahuan yang memutus relasi dengan manusia, alam, dan Yang Transenden akan melahirkan dominasi, bukan kebijaksanaan.
2. Kebenaran Tidak Tumbuh dari Monolog
Kebenaran membutuhkan dialog antar-cara-mengetahui: ilmu modern, tradisi lisan, pengalaman spiritual, dan refleksi kritis. Bukan untuk disamakan, tetapi untuk saling mengoreksi.
3. Verifikasi Tanpa Kekerasan Epistemik
IPCE menolak relativisme, tetapi juga menolak penyingkiran.
Perbedaan diuji, bukan dibungkam. Ketidaksepakatan diproses, bukan dimenangkan.
4. Fungsi Pengetahuan adalah Pemulihan
Pengetahuan yang memperdalam luka sosial, ekologis, atau historis tanpa upaya penyembuhan adalah pengetahuan yang gagal menjalankan mandat peradaban.
AGENDA TRANSFORMASI:
DARI KRITIK KE PRAKSIS
1. Reformasi Orientasi Pendidikan Tinggi
Kampus harus bertransformasi dari pabrik legitimasi menjadi ruang refleksi etis.
Keunggulan akademik tidak cukup diukur dari reputasi global, tetapi dari dampak kemanusiaan.
2. Pengakuan Epistemologi Lokal sebagai Mitra Setara
Tradisi lisan, kearifan lokal, dan pengetahuan non-teksual bukan pelengkap folkloris, melainkan sumber kritik serius terhadap epistemologi modern.
3. Perlindungan terhadap Pengetahuan yang Mengganggu
Riset yang mengguncang paradigma tidak boleh diperlakukan sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk kedewasaan intelektual.
4. Etika Pengetahuan Publik
Di era algoritma, produksi pengetahuan harus disertai tanggung jawab naratif: apa yang disebarkan, untuk membangkitkan apa, dan dengan risiko sosial apa.
SERUAN EPISTEMIK
Berhentilah menjadi teknisi paradigma lama. Mulailah menjadi penjaga kesadaran epistemik.
Ajarkan bukan hanya hasil pengetahuan, tetapi proses dan konsekuensinya.
Tulislah bukan hanya untuk jurnal, tetapi untuk kehidupan.
Bertutur bukan untuk viral, tetapi untuk memulihkan.
Jangan serahkan pendidikan hanya pada institusi. Setiap keluarga, komunitas, dan ruang dialog adalah situs epistemik.
EPILOG: MENUJU KAMPUS DAN MASYARAKAT YANG MEMULIHKAN
IPCE membayangkan masa depan di mana: Kampus menjadi ruang aman bagi pertanyaan sulit.
Sejarah diajarkan sebagai latihan empati, bukan identitas beku.
Pengetahuan menjadi jalan pulang manusia kepada tanggung jawabnya.
Setiap langkah kecil: mendengarkan cerita yang terpinggirkan, mengajar dengan kesadaran etis, meneliti dengan keberanian intelektual, adalah bagian dari pemulihan peradaban.
Karena cara kita mengetahui akan selalu menentukan
cara kita hidup bersama.



