Saat Pesantren Menjadi Motor Kemajuan Menuju Indonesia 2045

Cak Nur, sapaan akrab untuk Nur Cholish Madjid cendekiawan Muslim Indonesia pernah berandai-andai: jika Indonesia tak pernah dijajah, mungkin sistem pendidikannya akan tumbuh mengikuti pola pesantren. Dalam bayangannya, pesantren bisa saja berkembang menjadi institusi sebesar UGM, UI, atau ITB, bahkan, bukan sekadar tempat belajar agama, tapi pusat ilmu pengetahuan yang menyeluruh di Indonesia.

 

Namun, kenyataan sekarang berbeda. Di tengah arus modernisasi, sebagian masyarakat masih sering memandang pesantren dengan kacamata sebelah mata. Tak sedikit dari mereka beranggapan bahwa pendidikan di lembaga pesantren tertinggal, tidak siap menghadapi tantangan zaman, apalagi dalam hal teknologi dan pemikiran kritis.

Banyaknya kasus yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap pesantren seperti Bullying, tindak asusila, dan lain sebagainya, semakin membuat sebagian besar masyrakat merasa skeptis untuk memasukkan anak mereka kedalam lingkungan pondok pesantren. Mereka juga khawatir anak mereka menjadi buruk ketika dimasukkan kedalam pesantren dan menjadi gagap terhadap teknologi dengan derasnya arus perkembangan zaman.

 

Padahal, kalau kita lihat lebih dekat, pesantren justru punya rekam jejak sejarah yang panjang sebagai lembaga pendidikan yang membentuk karakter dan intelektualitas anak bangsa. Terbukti sejak sebelum kemerdekaan, pesantren sudah berperan menjadi tempat tumbuhnya semangat belajar dan berpikir anak bangsa. Dari sana lahir tokoh-tokoh penting bangsa seperti K.H. Hasyim Asy’ari, Gus Dur, dan tokoh bangsa lainnya yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tapi juga punya kepekaan sosial dan spiritual yang kuat.

 

Bentransformasi dengan zaman, pesantren Kini tak lagi hanya berbicara tentang kitab kuning dan halaqah saja. Banyak pesantren yang sudah mulai membuka diri terhadap ilmu pengetahuan umum, teknologi, bahkan literasi digital dan kewirausahaan. Sebagian besar pesantren sudah mempunyai toko, koperasi, bahkan perguruan tinggi sendiri. tak hanya itu pembelajaran tentang desain grafis, bisnis, hingga coding juga mulai diterapkan di berbagai pesantren.

 

Di tengah dunia yang makin kompleks dan dinamis, nilai-nilai seperti toleransi, integritas, dan spiritualitas yang diajarkan di pesantren justru terasa makin terasa relevan. Bukan hanya untuk membentuk pribadi yang utuh, tapi juga untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan beradab.

 

Jadi, kalau dulu pesantren dianggap sebagai warisan tradisi, sekarang ia sedang bergerak menjadi motor perubahan. Bukan hanya menjaga nilai-nilai tradisi lama, tapi juga merespon zaman dengan cara yang segar untuk Indonesia 2045. Oleh karena itu, menuju satu abad kemerdekaan negara Indonesia, pesantren punya potensi besar untuk ikut menentukan arah peradaban bangsa sebagai pencetak generasi muda yang unggul.

Pos terkait

banner 468x60