Berkat Berbuah Fitnah

“Jangan mengajak dia,” ungkap Pardi kepada pimpinan Musholla di depan rumahnya. Pardi memang tidak suka Latif. Melihatnya pun ada rasa malas.

 

Pardi meyakini bahwa Latif memiliki keimanan dibawah dia. Hal ini semata-mata karena Latif tidak pernah hadir di setiap acara keagamaan di Musholla depan rumahnya.

Pernah suatu ketika, ada pengajian mendatangkan seorang kyai kondang, Latif hadir tapi dengan wajah agak malas karena tidak seorang pun panitia mengajak dia bercakap-cakap, minimal menyapanya.
Standar keimanan yang berbeda inilah ujung pangkalnya. Namanya buruk karena jarang bahkan tidak pernah hadir di peringatan hari keagamaan.

Bagi Latif acara keagamaan itu bukan alasan pokoknya. Melainkan dia trauma dengan berkat, makanan kotakan atau bungkusan, yang dibagikan ke setiap jama’ah yang hadir.
Awal mulanya, Latif selalu aktif menghadiri setiap kenduri yang diadakan Musholla dekat rumahnya. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan awal Ramadhan, peringatan hari raya Idul Fitri, ataupun Idul Adha.

Pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, Latif membawa berkat berupa nasi kotak. Prinsip hidupnya, ketika dia memberikan kepada orang lain, siapapun itu, harus makanan yang baik. Apabila dia tidak mau memakannya, dia tidak akan memberikannya.

Kenyataan sebaliknya, dia mendapatkan makanan basi, sebagai gantinya. Karena setiap makanan dibungkus dengan kresek, dia tidak bisa melihat isinya. Pun, tidak etis pula memilah-milah manakah makanan yang baik.

Dia pasrah atas berkat perolehannya. Bagaimanapun, kalau sudah tidak bisa mengendalikan apa yang seharusnya bisa, itu merupakan kehendak dan kuasa-Nya.
Berikutnya, dia juga mengalami hal serupa. Tepatnya pada peringatan awal Ramadan. Malam itu, jam’ah sudah berduyun-duyun mendatangi Musholla. Aneka berkat sudah ditata di ruangan utama. Semua jama’ah menunggu imam untuk mendoakan agar Ramadan kali ini membawa keberkahan pada semua orang yang hadir.

 

Ada kekhawatiran muncul seketika. Banyangan kekecewaan tentang makanan basi seolah tidak mau beranjak dari pikirannya. Dia mengamati bagaimana para jama’ah memilah dan memilih setiap kotak atau bungkus.

Satu persatu makanan bergerak. Nampak olehnya, mereka menggeser apabila terlihat bungkusnya kurang menarik. Sebaliknya, makanan yang dibungkus menarik akan tinggal atau ditahan di depan mereka. Sesuka hati mereka.

 

“Oh, begitu cara memilihnya,” batin Latif. Tentu hal itu merugikan bagi yang mendapat bungkus buruk. Isinya sudah bisa ditebak. Orang kebanyakan memilih bungkus kresek yang bagus. “Pasti enak makanannya!” Latif mencoba menebak cara jama’ah berfikir.
Dia menyadari, dirinya bukan tokoh masyarakat atau orang yang memiliki jabatan sehingga jama’ah pun segan lalu memberikan bungkusan terbaik. Sebaliknya, dia hanya warga biasa dan dia pantas menerima bungkus yang sudah dipilih oleh jama’ah yang membagikannya.

Sungguh ketidakadilan benar-benar dirasakan. Hanya dari hal kecil yakni makanan yang dikirimkan ke sebuah kenduri.

Benar juga, tatkala dia membuka hasil perolehannya dia tidak terkejut, bukan makanan mewah melainkan makanan ala kadarnya di mana dia pun enggan menyantapnya.

Dia berfikir sejenak mengapa orang-orang tega memberikan sesuatu kepada orang lain yang mana mereka sendiri enggan memakannya. Apakah karena ada desakan ekonomi atau memang seperti itukah watak mereka? Mementingkan diri sendiri hingga melupakan kebahagiaan orang lain. Bagaimana Tuhan akan memberikan hal terbaik pada mereka, apabila persoalan sederhana yakni menghargai orang lain saja tidak dilakukan.

Sebagai bagian dari rasa kesalnya, pada peringatan malam sebelum Idul Fitri ini, dia tidak lagi berangkat ke kenduri. Dia yang selama ini selalu memberikan nasi yang baik, ternyata telah dibalas dengan keburukan oleh jama’ah yang tidak diketahui siapa pemberinya. Dia tidak nyaman berangkat. Bayangan keburukan seolah belum sirna dari pikirannya.

 

Atas ketidaknyamanan itu, hingga bulan berganti bulan, dia tidak pernah datang pada peringatan keagamaan di dekat rumahnya tersebut. Itulah yang menjadi fitnah terhadap dirinya. Dia hanya pasrah bagaimana harus menghadapi kekecewaan demi kekecewaan. Sementara sindiran dan pertanyaan atas ketidakhadirannya dari jama’ah lain seolah menyudutkan keimanannya.
Bagi Latif, kenyamanan adalah kunci utama beribadah, termasuk menghadiri kenduri yang itu bahkan bukan ibadah wajib.

Pos terkait

banner 468x60