Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang melintasi ruang dan waktu dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Ia adalah titik puncak perjalanan spiritual manusia perjalanan batin menuju Tuhan, melewati lapisan dunia yang fana untuk menemukan hakikat hidup yang sejati.
Bagi manusia abad ke 21 yang hidup di tengah derasnya arus teknologi, informasi, dan kompetisi material, Isra’ Mi’raj bukan sekadar kisah untuk direnungi setahun sekali. Ia adalah peta jalan kehidupan modern agar manusia tak kehilangan arah di tengah gemerlap dunia.
1. Isra’ Menata Arah dan Tujuan Hidup
Isra’ berarti perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sebuah simbol perjalanan horizontal manusia di dunia. Ini menggambarkan dimensi sosial kehidupan kita bekerja, berinteraksi, berkeluarga, dan membangun masyarakat.
Makna untuk manusia masa kini:
- Jadikan setiap langkah kehidupan sebagai ibadah.
- Dalam dunia yang serba cepat, jangan biarkan diri berjalan tanpa arah.
- Evaluasi ke mana kita sedang “ber-Isra”? Menuju Allah, atau sekadar mengejar dunia?
Tindakan nyata:
- Mulai hari dengan niat yang jelas dan tujuan yang benar.
- Gunakan teknologi, pekerjaan, dan relasi sosial sebagai sarana kebaikan, bukan ajang pamer atau keserakahan.
- Biasakan refleksi diri setiap malam apakah hari ini mendekatkan kita kepada Allah, atau menjauh?
2. Mi’raj Meninggikan Jiwa dan Akhlak
Mi’raj berarti naik perjalanan vertikal menuju Allah SWT. Ini menggambarkan pendakian spiritual manusia meninggalkan ego, hawa nafsu, dan keduniawian untuk mendekat kepada Tuhan.
Makna untuk manusia masa kini:
- Dunia modern menuntut kecepatan, tapi sering melupakan kedalaman.
- Mi’raj mengajarkan bahwa kemajuan sejati bukan hanya naik jabatan, karier, atau status sosial melainkan naiknya kualitas jiwa, akhlak, dan iman.
Tindakan nyata:
- Jadwalkan “waktu mi’raj pribadi” setiap hari momen tenang untuk berzikir, membaca Al Qur’an, atau merenung tanpa gangguan notifikasi.
- Gunakan kemajuan teknologi untuk memperdalam spiritualitas: dengarkan kajian, baca tafsir, atau berbagi inspirasi iman di media sosial.
- Lawan kelelahan spiritual (spiritual burnout) dengan memperbanyak syukur, istighfar, dan doa.
3. Shalat Hadiah Mi’raj dan Koneksi Abadi
Dari Mi’raj lahirlah perintah shalat lima waktu bukan sekadar ritual, tapi jembatan langsung antara manusia dan Tuhannya.
Shalat adalah “Mi’raj”nya setiap mukmin saat jiwa naik menembus batas ruang dan waktu, berdialog dengan Allah.
Makna untuk manusia masa kini:
- Di era sibuk, shalat mengajarkan disiplin dan kesadaran diri.
- Ia menyeimbangkan logika dengan nurani, kerja dengan istirahat, dunia dengan akhirat.
- Shalat adalah “restart system” spiritual menata ulang pikiran yang kalut oleh tuntutan hidup.
Tindakan nyata:
- Jadikan shalat bukan sekadar rutinitas, tapi ruang pertemuan hati dengan Allah.
- Setelah shalat, biasakan diam sejenak rasakan kedamaian yang muncul dari kesadaran bahwa kita baru saja berbicara dengan Pencipta Semesta.
- Terapkan nilai-nilai shalat dalam kerja jujur, tepat waktu, penuh tanggung jawab, dan menghargai sesama.
4. Tanggung Jawab Sosial Dari Masjidil Aqsa ke Dunia
Perjalanan Isra’ tidak berhenti di Masjidil Aqsa tanpa makna. Di sanalah Rasulullah memimpin para nabi shalat berjamaah simbol kepemimpinan moral dan tanggung jawab kemanusiaan.
Makna untuk manusia masa kini:
- Islam bukan hanya urusan pribadi, tapi sosial.
- Mi’raj mengajarkan bahwa semakin tinggi seseorang dekat dengan Allah, semakin besar pula tanggung jawabnya kepada manusia.
Tindakan nyata:
- Jadilah bagian dari solusi bantu tetangga, dukung pendidikan, peduli lingkungan.
- Dalam profesi apa pun guru, pengusaha, ibu rumah tangga, atau pelajar niatkan semua untuk kemaslahatan umat.
- Bangun “Masjidil Aqsa” dalam diri tempat suci hati yang membuat kita peduli, bukan hanya beribadah sendiri.
5. Menapaki Isra’ Mi’raj di Dunia Digital
Di abad ini, perjalanan manusia tidak lagi hanya fisik, tapi juga digital. Dunia maya bisa menjadi Isra’ Mi’raj modern tempat manusia “melintasi dunia” dengan satu sentuhan layar.
Refleksi penting:
- Apakah perjalanan digital kita membawa keberkahan, atau malah menjerumuskan?
- Di dunia yang serba maya, iman adalah kompas agar langkah kita tidak tersesat.
Tindakan nyata:
- Gunakan media sosial untuk kebaikan, bukan untuk kesia-siaan.
- Jaga adab digital: jangan menyakiti lewat kata, jangan menyebar kebencian.
- Jadikan setiap postingan sebagai bentuk dzikir: mengingat Allah dan mengajak kebaikan.
Kesimpulan:
Isra’ Mi’raj Adalah Peta Hidup Sepanjang Zaman. Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah metafora kehidupan manusia sepanjang masa:
Isra’ adalah perjalanan lahiriah kita di dunia. Mi’raj adalah perjalanan batin menuju Allah. Diantara keduanya, manusia harus seimbang: bekerja keras di bumi, tapi tetap berorientasi ke langit. Membangun dunia, tapi tidak melupakan akhirat. Mengejar kemajuan, tapi tetap menjaga kemanusiaan.
Inti Ajaran Isra’ Mi’raj bagi Manusia Modern
1. Perkuat hubungan dengan Allah (Hablum minallah) melalui shalat, dzikir, dan kesadaran spiritual.
2. Perbaiki hubungan dengan sesama (Hablum minannas) melalui akhlak, empati, dan tanggung jawab sosial.
3. Kendalikan ego dan nafsu duniawi agar kemajuan tak menjauhkan kita dari kebenaran.
4. Gunakan waktu dan teknologi secara bijak jadikan dunia digital sebagai sarana dakwah dan kebaikan.
5. Terus naik (Mi’raj) bukan dalam status sosial, tapi dalam iman, ilmu, dan amal.
Jika Rasulullah melakukan perjalanan dari bumi ke langit dalam satu malam, maka manusia modern harus belajar menempuh perjalanan dari hati ke nurani setiap hari.
Karena sesungguhnya, Mi’raj terbesar bukanlah naik ke langit, melainkan naiknya jiwa menuju cahaya Ilahi.
Daftar Referensi:
1. Al Quran Al Karim
2. Tafsir Ibnu Katsir
3. Tafsir Al Maraghi, Ahmad Mustofa Al Maraghi
4. Fi Zhilalil Quran, Sayyid Quthb
5. Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali
6. Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim
7. HR. Tirmidzi



