Panggung yang Mengalahkan Ketakutan

Langit pagi di Fakultas Sastra selalu terasa sedikit murung, bahkan ketika matahari bersinar terang. Gedung-gedung tua di Jalan Jawa berdiri dengan cat yang mulai memudar, seperti halaman buku lama yang terlalu sering dibuka. Deretan pohon angsana di sepanjang jalan kampus menebarkan bayang-bayang teduh yang bergerak pelan mengikuti angin. Rumput di halaman tumbuh hijau subur, basah oleh embun yang belum sepenuhnya menguap. Dari kejauhan, aroma tanah bekas sawah masih terasa samar, seolah kampus ini belum sepenuhnya meninggalkan masa lalunya sebagai ladang sunyi.

Mahasiswa berlalu-lalang membawa map, buku, dan kecemasan masing-masing. Ada yang berjalan cepat mengejar kelas, ada yang sengaja lambat karena tidak siap menghadapi kenyataan hari itu. Di sudut kampus, suara kendaraan dari Jalan Jawa bercampur dengan kicau burung dan tawa mahasiswa yang belum tersentuh beban hidup. Tidak jauh dari sana, Jembatan Jarwo berdiri melintang di atas Sungai Bedadung yang mengalir tenang, menyimpan rahasia banyak mahasiswa yang pernah duduk termenung di pagar besinya.

Aku sering merasa kampus ini seperti cermin besar. Ia tidak pernah menghakimi siapa pun, tetapi selalu memperlihatkan siapa diri kita sebenarnya. Setiap langkah di koridor membawa pertanyaan yang sama: apakah aku benar-benar pantas berada di sini?

Kadang, tempat belajar bukan sekadar ruang mencari ilmu. Ia menjadi arena pertempuran batin yang tidak terlihat siapa pun.

***

 

Suatu pagi, ketika aku berjalan menuju gedung kuliah, sebuah seruan keras tiba-tiba memecah suasana.

“Ati-ati Mbak Rohmi, nabrak cagak telpon…!”

Suara Meguk itu mengagetkan semua orang, termasuk Mbak Rohmi yang sedang berjalan serius di depan kampus.

Ia berhenti mendadak, hampir menabrak tiang telepon di pinggir jalan.

“Ah, Mas Meguk ini…” jawabnya pelan sambil semakin menunduk, tangannya refleks menutup mulut.

Mbak Rohmi memang selalu berjalan menunduk. Bukan karena minder, tapi seperti orang yang menjaga pandangan dari dunia yang terlalu ramai. Waktu itu, dia satu-satunya mahasiswi berjilbab di Sastra. Sementara yang lain masih banyak yang memakai rok mini, rambut tergerai, dan gaya kota yang terasa asing bagiku yang datang dari desa.

Aku memberanikan diri menggoda, setengah nekat.

“Sebenarnya bagusnya Mbak Rohmi ini kuliah di IAIN, bukan seperti wong gak jelas kayak aku ini.”

Kalimat itu keluar sebelum sempat kupikirkan. Padahal selama ini aku bahkan takut sekadar menyapa.

Mbak Rohmi hanya tersenyum kecil. Tidak marah. Tidak tersinggung. Justru senyum itu membuatku semakin salah tingkah.

Aku memang punya kebiasaan: semua teman laki-laki kupanggil Mas atau Cak, dan yang perempuan Mbak. Entah kenapa terasa lebih sopan begitu. Kecuali Agus—terasa kurang akrab kalau dipanggil formal. Dia tetap kupanggil Meguk, tanpa Mas.

Lingkar pertemanan kami sebenarnya berwarna.

Ada Mbak Iput—nama aslinya Puji Astuti—tubuhnya mungil tapi suaranya melengking seperti pengeras suara masjid menjelang subuh. Kalau dia berbicara, satu koridor bisa ikut mendengar.

Mbak Handa dan Mas Wahyu berbeda. Lebih linguis, lebih serius. Kalimatnya rapi seperti struktur bahasa yang ia pelajari.

Mbak Ida biasanya datang bersama Mbak Wiwiek karena kos mereka berdekatan. Dua orang itu hampir selalu terlihat berjalan berdampingan, seperti koma dan titik yang sulit dipisahkan.

Dan ada satu nama yang membuatku otomatis menjaga jarak: Mbak Indarwati.

Teman-teman menyebutnya ahli sastra. Pengetahuannya luas, diskusinya dalam, dan auranya membuat orang berpikir dua kali sebelum mengajak bercanda. Termasuk aku.

Sepertinya dia berada beberapa tingkat di atasku—bukan hanya soal ilmu, tapi keberanian menjadi diri sendiri.

Di antara mereka semua, aku sering merasa seperti bayangan yang ikut berjalan, tapi tidak benar-benar terlihat.

***

 

Hari itu aku sengaja duduk paling depan saat kuliah Cerita Rekaan. Selain supaya bisa menangkap penjelasan Pak Marwoto yang lembut, aku ini manusia paling gampang tertidur. Strategiku sederhana: duduk dekat dosen agar rasa kantuk takut muncul.

Tapi teori sering kalah oleh kenyataan.

Aku memang tidak “teklak-tekluk”, tetapi sekali ngantuk, tubuhku langsung jatuh ke belakang seperti pohon tumbang.

Dan benar saja—bruk!—kepalaku hampir menghantam sandaran kursi.

Tawa tertahan langsung memenuhi kelas.

“Mas Karni, kalau ngantuk cuci muka dulu biar segar lagi,” kata Mbak Ida dan Mbak Wiwiek setengah berbisik dari bangku belakangku.

Teman-teman cekikikan. Ada yang menutup mulut, ada yang pura-pura batuk menahan geli. Malunya terasa seperti disiram satu ember air es.

Pak Marwoto hanya tersenyum kecil. Tanpa menghentikan kuliah, beliau tetap melanjutkan pembahasan cerpen Totilawati Tjitrawasita berjudul Jakarta.

Tidak ada teguran. Tidak ada sindiran.

Hanya senyum.

Dan justru itu yang membuatku semakin merasa bersalah.

Kadang kelembutan seorang dosen jauh lebih menegangkan daripada kemarahan.

***

 

Sebenarnya aku tidak sendirian dalam urusan kantuk. Agus—atau Meguk—lebih parah dariku. Ia bahkan bisa tidur sambil berjalan. Wajahnya selalu tampak setengah berada di dunia mimpi.

Tapi anehnya, saat diskusi kelompok dimulai, Meguk berubah seperti singa lapar.

“Ini gak adil!” serunya suatu kali.

Mbak Wiwiek sampai nyeletuk, “Owalah Gus Gus… wong cuma cerita fiksi kok sampek sampean bela mati-matian.”

Meguk berdiri. Tangannya mengepal.

“Hati nuraniku gak bisa diam! Masa’ omnya datang jauh-jauh dari desa ke Jakarta cuma mau ketemu ponakannya malah ditanya, Pak Pong nginap di mana? Itu bukan sekadar cerita. Itu soal lupa asal-usul!”

Semua tertawa, tapi aku tahu Meguk serius.

Baginya, sastra bukan teks. Sastra adalah kehidupan yang sedang menyamar.

***

 

Cak Takip dan Cak Sofyan dari kelas Linguistik ikut nimbrung.

“Cerita fiksi gak usah diperdebatkan terlalu dalam,” kata Cak Sofyan santai. Memang ia selalu santai.

Cak Takip menimpali, “Bayangin kalau gak ada tanda baca. Gak ada bedanya orang marah sama orang merayu.”

Meguk mengangkat tangan menyerah. “Betul juga kau kawan.”

Mbak Maya dan Mbak Oeky menengahi.

“Sastra tanpa linguistik gak sempurna,” kata Mbak Maya.

“Linguistik tanpa sastra… hampa,” lanjut Mbak Oeky.

Kalimat itu menggantung lama di kepalaku.

Aku menunduk lagi.

Entah kenapa, di tengah teman-teman yang hebat itu, aku selalu merasa kecil.

Kesepian di kampus ramai adalah jenis kesepian paling sunyi.

***

 

Selain kuliah, aku dan Meguk ikut kelompok teater/kentrung Kentrung Djos: Derap Jiwa Orang Sastra.

Setiap latihan malam, halaman kampus berubah magis. Lampu redup, suara jangkrik, dan angin dari arah Sungai Bedadung menciptakan dunia lain.

Mas Arief dan Mas Pri Hariyanto selalu menjadi bintang panggung.

Aku?

Lebih sering figuran.

Meguk, penabuh saron paling terampil. Hapal tanpa melihat.

Kadang aku bertanya: mungkin hidupku memang ditakdirkan hanya menjadi latar bagi cerita orang lain.

***

 

Bulan April tiba.

Hari Chairil Anwar.

Puisi, teater, pembacaan karya.

Dan justru saat itulah konflik batinku mencapai puncaknya.

Aku diminta membaca puisi di panggung.

Tanganku dingin. Dadaku sesak.

Aku hampir menolak.

***

 

Sore sebelum pementasan, aku duduk di bawah pohon angsana depan kelas.

Angin berhembus sepoi.

Aku hampir memutuskan kabur.

“Kenapa sendirian?” Pak Marwoto berdiri di sampingku.

“Saya takut, Pak.”

“Takut apa?”

“Saya merasa tidak cukup baik.”

Beliau tersenyum. “Semua mahasiswa sastra datang dengan luka berbeda. Sastra bukan tempat orang sempurna. Justru tempat orang belajar menerima dirinya.”

Lalu beliau berkata pelan, “Yang berbahaya bukan gagal di panggung… tapi tidak pernah berani naik ke panggung kehidupan.”

Kalimat itu seperti membuka pintu yang lama terkunci dalam diriku.

***

 

Malam pementasan tiba. Lampu panggung menyala. Namaku dipanggil. Kakiku gemetar. Aku naik.

Sunyi.

Aku mulai membaca “Kerawang – Bekasi”.

Suaraku kecil… lalu perlahan menemukan jalannya sendiri.

Aku tidak lagi membaca puisi. Aku sedang berdamai dengan diriku.

Tepuk tangan terdengar hangat.

Aku turun panggung.

Pak Marwoto menghampiri.

“Hari ini kamu tidak mengalahkan penonton,” katanya. “Kamu mengalahkan ketakutanmu sendiri.”

Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi mahasiswa, aku merasa benar-benar hadir sebagai diriku.

Kalau kau tanya kapan keberanian itu mulai tumbuh, mungkin bukan saat aku berdiri di panggung. Mungkin jauh sebelumnya—ketika aku pertama kali berani menyapa Mbak Rohmi di jalan kampus. Karena ternyata, keberanian besar selalu lahir dari keberanian kecil yang nyaris tidak kita sadari.

*****

Pos terkait

banner 468x60