Serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela di bawah pemerintahan Donald Trump kembali membuka luka lama dunia luka tentang kesewenang-wenangan negara kuat terhadap negara kecil, tentang harga diri bangsa yang diinjak atas nama “demokrasi”, dan tentang dunia yang masih belum belajar dari sejarah perang.
Trump, dengan dalih menegakkan hukum dan menumbangkan rezim Nicolás Maduro yang dianggap diktator, memerintahkan operasi besar-besaran ke Caracas. Presiden dan istrinya ditangkap, sumber daya minyak disita untuk “pengelolaan sementara”, dan Amerika kembali menempatkan dirinya sebagai polisi dunia. Tapi di balik jargon moral dan politik itu, ada pertanyaan yang jauh lebih dalam di manakah adab sebuah bangsa yang mengaku pembela kebebasan, tapi justru merampas kebebasan bangsa lain?
Adab dan Etika yang Dilanggar
Dalam tata dunia modern, hubungan antarnegara seharusnya berdiri di atas prinsip saling menghormati. Tidak ada satu bangsa pun yang berhak mengintervensi urusan dalam negeri bangsa lain tanpa mandat hukum internasional. Serangan Trump terhadap Venezuela jelas menyalahi prinsip itu.
Adab politik bukan sekadar sopan santun diplomatik. Ia adalah cermin moralitas bangsa. Bangsa yang beradab tahu kapan harus menahan diri. Bangsa yang beradab tahu bahwa perdamaian tidak lahir dari moncong senjata, melainkan dari ruang dialog dan kepercayaan.
Namun, adab itu kini seperti terhapus. Trump, dengan seluruh arogansi kekuasaan, menjadikan operasi militer sebagai simbol keperkasaan, bukan kebijaksanaan.
Moralitas dan Nafsu Kekuasaan
Setiap tindakan politik selalu membawa pertanyaan moral apakah yang dilakukan benar, atau sekadar merasa benar?
Trump berulang kali menyebut misinya di Venezuela sebagai bentuk “penyelamatan rakyat dari rezim jahat”. Tetapi siapakah yang memberi hak pada satu negara untuk menjadi hakim bagi yang lain?
Moralitas sejati bukan terletak pada siapa yang kuat, melainkan pada siapa yang menahan diri ketika punya kekuatan. Dalam konteks ini, tindakan Trump bukan cerminan moral pemimpin dunia, melainkan **manifestasi dari nafsu kuasa yang dibungkus narasi kemanusiaan**.
Dunia tidak membutuhkan lebih banyak penyelamat bersenjata. Dunia butuh pemimpin yang memahami bahwa keadilan global tidak bisa ditegakkan dengan rudal, tetapi dengan kepercayaan dan empati.
Luka Bagi Perdamaian Dunia
Serangan terhadap Venezuela mungkin tampak “terisolasi” di peta dunia. Tapi dampaknya jauh lebih luas: ia menciptakan preseden bahwa siapa pun yang kuat boleh bertindak semaunya. Ia menyalakan kembali api ketidakpercayaan di antara negara-negara berkembang terhadap tatanan dunia yang katanya adil.
Perdamaian dunia bukan tentang ketiadaan perang, tapi tentang hadirnya rasa aman dan saling menghormati antarbangsa. Tindakan seperti ini justru **menghancurkan fondasi itu**, memperdalam jurang antara Utara dan Selatan dunia, dan menimbulkan luka baru di hati rakyat yang tanahnya dijadikan ajang unjuk kuasa.
Integritas dan Martabat Sebuah Bangsa
Venezuela mungkin bukan negara besar. Ekonominya hancur, politiknya berantakan, dan masyarakatnya lelah oleh krisis panjang. Tapi di balik semua itu, mereka masih bangsa yang berdaulat yang berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa intervensi siapa pun.
Integritas bangsa bukan diukur dari kekuatan militernya, tetapi dari kemampuannya berdiri tegak meski ditekan. Di sinilah Amerika, dan khususnya Trump, gagal menunjukkan integritas moral sebagai negara yang katanya menjunjung “freedom and democracy”.
Menang dengan kekerasan bukan kemenangan, melainkan **kekalahan moral**. Sebab bangsa yang kehilangan adab akan kehilangan legitimasi untuk mengajarkan nilai apa pun kepada dunia.
Dunia yang Kehilangan Cermin
Kita hidup di era ketika suara nurani sering kalah oleh gemuruh propaganda. Ketika kebenaran diputuskan oleh kekuatan, bukan oleh keadilan. Dan setiap kali sebuah bangsa ditaklukkan atas nama moralitas, sesungguhnya yang kalah adalah kemanusiaan itu sendiri.
Trump mungkin akan dikenang oleh sebagian orang sebagai pemimpin yang tegas dan berani. Tapi di mata sejarah, ia juga akan dikenang sebagai sosok yang mengkhianati prinsip dasar perdamaian bahwa dunia tidak butuh penguasa, melainkan penjaga martabat manusia.
Penutup
Dunia beradab bukan dunia tanpa konflik, melainkan dunia yang tahu batas antara kepentingan dan kemanusiaan.
Serangan terhadap Venezuela bukan sekadar pelanggaran politik, tetapi pukulan terhadap nurani global.
Adab mengajarkan kita untuk menghormati sesama. Moral mengajarkan kita untuk tidak semena-mena. Perdamaian mengajarkan kita bahwa keadilan tak bisa ditegakkan dengan darah. Dan integritas bangsa mengajarkan kita: bahwa harga diri tidak bisa ditukar dengan minyak, kekuasaan, atau sekadar citra sebagai “pahlawan dunia.”



