Buto Bajang, Sebuah Dongeng yang Berbeda

Sumber Foto: https://barisan.co/sukrasana-mati-dibunuh-kekuasaan/

“Kebaikan bisa ada di mana saja, termasuk di tempat dan orang yang tidak kita sukai. Pun keburukan bisa ada di mana saja, termasuk di tempat dan orang yang kita cintai.”

Keheningan malam di Padepokan Argasekar pecah oleh tangis lantang bayi dari kamar Dewi Darini, istri Maharesi Suwandagni. Malam itu, penghuni padepokan bertambah satu. Dewi Darini melahirkan anak kedua.

“Sumantri, mari lihat adikmu!” teriak Maharesi Suwandagni. Dengan wajah sumringah dia tergopoh-gopoh masuk ke kamar. Sejak sore dia berdiri gelisah di depan kamar menunggu kelahiran anak keduanya. Bambang Sumantri, anak pertama Suwandagni, yang ikut menunggu di luar kamar sambil bermain kuda kayu lantas berlari menyusul bapaknya.

Langkah Maharesi Suwandagni terhenti di samping ranjang. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, matanya nanar menatap orok yang terbaring berselimut kain di samping Dewi Darini. Dengan suara bergetar dia bertanya “Ini anakku?”.

Dewi Darini tidak menjawab. Dia menutup mukanya yang berlinang air mata sambil berkata “Apa salah kita sehingga dewa-dewa menghukum kita dengan memberikan anak buruk muka? Begitu buruknya seperti bukan bayi manusia”.

Bayi merah itu bermuka penuh bopeng, matanya merah menonjol keluar, suara tangisannya serak, dan saat mulut terbuka tampak gigi-giginya yang runcing dan tidak beraturan. Bau busuk menyengat menguar dari tubuhnya.

“Mestinya dia bukan anak kita. Kita orang terhormat. Kamu putri keturunan dewa. Aku pandita suci yang telah memiliki kunci-kunci pintu swarga loka, jangankan manusia, dewa pun kadang datang meminta petunjukku. Bagaimana mungkin kita punya anak bermuka raksasa? Dewa pasti salah menaruh janin di perutmu” ratap Maharesi Suwandagni.

Sejak saat itu dimulailah kehidupan penuh penderitaan Sukrasana, nama bayi tersebut. Orang-orang mengolok-olok dan menyebut bocah buruk rupa itu si Buto Bajang. Karena malu, Maharesi Suwandagni mengusir dan menyuruh anaknya tinggal di hutan gung liwang liwung tempat bersarangnya para raksasa dan binata buas. Perlakuan yang sangat berbeda diberikan kepada Bambang Sumantri, kakak Sukrasana, yang berwajah rupawan sekaligus cerdas dan sakti mandraguna. Dia dimanja, hidup berlimpah harta dan kasih sayang orang tuanya.

Meski berilmu tinggi dan bergelar maharesi, ternyata Suwandagni masih larut dalam nafsu duniawi hingga rasanya tumpul, mata batinnya buta.

Namun, Sukrasana tidak kecewa. Dia tetap mencintai keluarganya setulus hati. Setiap perilaku buruk keluarganya dia anggap sebagai wujud kasih mereka untuk melatih raga dan batin. Setiap perlakuan buruk, dia balas dengan kebaikan. Setiap kesakitan yang dia terima semakin meningkatkan rasa kasih sayangnya.

“Oh Dewata… Kasihanilah orang tua dan saudaraku yang masih kamu tutup rasa dan batinnya hingga tak mampu menemukan bahagia dan cinta yang tercurah di setiap sudut jagad raya ini,” doa Sukrasana setiap malam di tengah sunyi rimba belantara.

Ketulusan hati Sukrasana membuat seluruh hutan terpesona. Kayangan pun ikut tertunduk.

Bertahun-tahun hidup sendiri di hutan, membuat kerinduan Sukrasana kepada keluarga dan kakak yang tercinta semakin menebal. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar hutan, pergi mencari Bambang Sumantri.

Saat malam tiba, Sukrasana mendatangi rumah megah tempat tinggal kakaknya. Saat itu dia melihat Bambang Sumantri sedang bermuram durja dan kebingungang karena mendapat tugas dari Prabu Arjunasasrabahu untuk memindahkan Taman Sriwedari yang ada di kayangan ke bumi sebagai syarat dia untuk menikahi salah satu putrinya. Tugas yang mustahil bisa dilakukan manusia, termasuk Bambang Sumantri.

“Kakandaku sayang. Aku akan membantumu. Tapi aku minta kamu izinkan aku bersamamu satu windu saja. Aku begitu kangen padamu,” kata Sukrasana.

Bambang Sumantri yang tidak suka dengan kehadiran adiknya setuju. Setidaknya dia akan memiliki alasan untuk mengusir adiknya selamanya.

“Baik. Tapi kalau kamu gagal. Jangan pernah datang lagi ke aku dan mengakui aku sebagai kakakmu,” ujar Bambang Sumantri. Dia berpikir mustahil adiknya yang tidak pernah belajar kedigdayaan bisa memindahkan taman yang ada di khayangan ke bumi. Bahkan dia yang terkenal sakti mandraguna pun tidak sanggup.

Sukrasana lantas pergi ke kayangan, menghadap Bhatara Wisnu dan meminta izin memindahkan taman Sriwedari. Khayangan yang sudah lama terpesona dengan ketulusan cinta dan kasih Sukrasana tidak sanggup menolak permintaan itu. Akhirnya si Buto Bajang menggendong taman Sriwedari dan membawanya ke bumi.

Sumantri sangat bahagia. Dia bisa memenuhi tugas dari Prabu Arjunasasrabahu dan bakal mendapat jabatan tinggi sekaligus bisa menyunting putri kerajaan. Namun, dia malu punya adik buruk rupa, khawatir jika para penghuni istana nanti menertawakannya, was-was jika raja membatalkan hadiah yang dijanjikan untuknya. Bambang Sumantri lupa dengan janjinya dan mengusir Sukrasana.

Semesta tercengang.. Ah… Sumantri ternyata sikapmu tak jauh beda dengan bapakmu. Mudah silau dengan duniawi hingga mati rasa, buta hati.

Sukrasana yang ingin selalu dekat dengan kakaknya tidak bersedia pergi. Sumantri mencabut pusaka cakra dan membidikannya untuk menakuti adiknya. Tapi Sukrasana yang sudah tidak kuasa menahan rindu justru memeluknya. Rasa panik dan jijik dipeluk makhluk buruk rupa membuat tangan Sumantri gemetar hingga pusakanya terlepas menembus leher Sukrasana.

Buto Bajang mati di tangan kakak yang dia sayangi.

Surêm surêm diwangkara kingkin, lir manguswa kang layon . . .

Bumi dan langit menangis. Seluruh penghuni khayangan berduka. Berbondong-bondong mereka menjemput Sukrasana.

Oh… Sukrasana.. kamu terlalu suci untuk ada di bumi. Tempatmu adalah singgasana di swargaloka mengajari para dewa dan seluruh semesta tentang kasih dan ketulusan hati.

Pos terkait

banner 468x60