Langit siang di Kampung Sungai Pinang tampak kusam seperti wajah orang yang terlalu lama menahan kecewa. Awan menggantung rendah di atas atap-atap seng yang berkilau pucat diterpa matahari Iduladha. Bau rumput basah bercampur aroma tanah yang baru diinjak sapi memenuhi udara di sekitar Masjid Nurul Hidayah. Di halaman masjid, genangan air bercampur darah tipis mengalir pelan menuju selokan kecil. Pisau-pisau jagal sesekali beradu dengan talenan kayu, menimbulkan bunyi pendek yang membuat hati siapa pun terasa ngilu. Tak jauh dari pagar masjid, anak-anak kecil berlarian sambil membawa kantong plastik, berharap pulang dengan wajah berseri.
Namun di sudut tanah kosong dekat kebun pisang, berdiri tiga gubuk reyot dengan dinding tripleks bekas. Atapnya ditambal spanduk lusuh yang bergerak pelan ditiup angin. Dari celah pintu salah satu gubuk, tampak seorang bocah perempuan mengintip ke arah pembagian daging kurban dengan mata bulat penuh harap. Wajahnya kurus, tetapi matanya menyimpan rasa lapar yang sulit disembunyikan. Asap kayu bakar mengepul tipis dari samping gubuk, bercampur aroma daun singkong rebus.
Suasana ramai di halaman masjid justru terasa seperti pesta yang dilihat dari luar pagar bagi penghuni gubuk-gubuk itu. Di tengah suara takbir yang masih sesekali terdengar dari pengeras suara, hati Bu Latifah terasa makin sesak. Ia memandangi anak-anak di tanah kosong itu sambil meremas ujung jilbabnya sendiri.
Kadang manusia sibuk menghitung data, sampai lupa menghitung rasa lapar.
“Kenapa orang-orang di rumah gubuk tanah kosong itu tidak diberi bagian daging kurban, Pak RT? Padahal mereka juga jamaah masjid ini. Rumah mereka masuk wilayah RT sini juga,” tanya Bu Latifah dengan nada tertahan.
Pak RT Sulaiman mengusap tengkuknya yang berkeringat. Lelaki bertubuh tambun itu terlihat gelisah.
“Mereka tinggal di sini tidak melapor ke RT, Bu. Saya tidak punya datanya. Kupon yang dibagikan berdasarkan data warga yang ada.”
“Tapi kasihan sekali mereka cuma melihat kita berbagi daging.”
Pak Junaidi, ketua panitia kurban yang sedang memegang buku daftar penerima, ikut menimpali, “Di sini masih mending, Bu. Di masjid daerah Jalan Lumbung malah ada panitia yang motong-motong bagian terus dibawa pulang sendiri. Ada juga yang dijual.”
“Wah, itu sudah berlipat-lipat dosanya,” sahut Bu Latifah cepat.
Pak RT menarik napas panjang. “Masalahnya sekarang stok kita juga pas-pasan. Kalau semua dibagi lagi tanpa data, nanti warga protes.”
Bu Latifah belum sempat menjawab ketika seorang perempuan muda datang membawa termos teh. Langkahnya pelan, tetapi wajahnya membuat beberapa panitia mendadak salah tingkah.
Namanya Rania.
Kulitnya sawo matang bersih, matanya teduh, dan senyumnya tipis seperti cahaya sore di tepi sungai. Ia baru beberapa bulan pindah ke kampung itu untuk mengajar di taman baca dekat masjid.
“Tehnya, Pak,” katanya sambil meletakkan gelas plastik di meja panitia.
Namun perhatian Rania segera tertarik pada arah pandangan Bu Latifah.
“Itu anak-anak di gubuk belum dapat daging?” tanyanya.
Pak Junaidi menggeleng pelan. “Tidak ada kupon.”
Rania menoleh ke arah bocah perempuan yang masih berdiri di balik pohon pisang.
“Mereka kelihatannya dari tadi menunggu.”
Pak RT mulai merasa tidak nyaman. “Begini, Mbak Rania, kalau aturan dibuka seenaknya nanti warga yang lain marah.”
“Tapi bukankah kurban itu untuk yang membutuhkan?” suara Rania tetap lembut, tetapi menusuk.
Pak RT terdiam.
Di dekat meja pemotongan, beberapa warga mulai mendengar percakapan itu. Bisik-bisik pun muncul.
“Kalau yang tidak terdata dikasih, nanti makin banyak pendatang masuk sini.”
“Benar. Besok-besok semua orang tinggal di tanah kosong.”
“Tapi anak kecil itu kasihan juga.”
Suasana mulai memanas.
Pak Junaidi membuka daftar nama penerima sambil berkata agak keras, “Panitia sudah kerja dari pagi. Jangan seolah-olah kita zalim.”
Bu Latifah tersentak. “Tidak ada yang bilang zalim, Pak. Tapi kalau ada orang lapar di depan mata lalu kita pura-pura tidak melihat, apa hati kita tidak ikut lapar?”
Kalimat itu membuat beberapa orang menunduk.
Di sisi lain halaman, seorang pria kurus keluar dari gubuk tanah kosong. Namanya Bahri. Bajunya lusuh, tetapi langkahnya penuh harga diri. Ia mendekati pagar masjid sambil menggandeng anak perempuannya.
“Maaf, Pak,” katanya pelan. “Kami tidak minta banyak. Anak-anak cuma ingin merasakan daging sekali setahun.”
Pak RT menelan ludah.
“Kenapa bapak tidak melapor waktu tinggal di sini?”
Bahri tersenyum pahit. “Saya baru kerja serabutan di pelabuhan. Belum sempat urus surat-surat. Kadang kami juga malu, Pak.”
Rania memandang Bahri lama. Ada sesuatu di matanya yang membuat suasana mendadak hening.
“Orang miskin sering kali bukan tidak mau datang,” katanya lirih. “Mereka cuma takut dianggap beban.”
Ucapan itu seperti batu kecil yang dilempar ke kolam tenang. Riaknya terasa ke dada banyak orang.
Namun masalah belum selesai.
Pak Herman, salah satu panitia yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara keras.
“Kalau dibagi ke mereka, jatah saya kurang dong. Saya juga belum bawa pulang buat keluarga.”
Beberapa warga langsung saling pandang.
Pak Junaidi mengernyit. “Maksudnya apa, Pak Herman?”
Pak Herman tampak gugup. “Ya… panitia kan biasa dapat tambahan.”
“Tapi bukan berarti boleh ambil sesuka hati,” sahut Bu Latifah tajam.
Wajah Pak Herman memerah. “Saya kerja dari subuh! Masa panitia tidak dihargai?”
Suara mulai meninggi. Beberapa warga mendekat. Anak-anak kecil yang tadinya bermain mulai diam melihat keributan.
Pak RT memegang kepalanya. Situasi yang tadinya hanya soal kupon berubah menjadi pertengkaran terbuka.
Rania melirik tumpukan kantong hitam di sudut meja panitia.
“Pak Junaidi,” katanya perlahan. “Itu kantong apa?”
Pak Junaidi menoleh. Wajahnya mendadak berubah.
Pak Herman cepat-cepat menjawab, “Itu cadangan.”
“Tapi banyak sekali,” kata Rania.
Bu Latifah berjalan mendekat lalu membuka salah satu kantong.
Isinya penuh daging kualitas bagus.
“Cadangan untuk siapa ini?” tanyanya.
Pak Herman mulai gelagapan. “Itu… buat panitia nanti malam.”
“Sebanyak ini?” suara Bu Latifah meninggi.
Kerumunan makin gaduh.
“Pantas warga miskin tidak kebagian!”
“Astaghfirullah…”
Pak Junaidi tampak pucat. “Saya tidak tahu jumlahnya sebanyak ini.”
Pak Herman membela diri dengan nada tinggi. “Semua masjid juga begitu! Panitia dapat bagian lebih.”
“Lebih itu wajar,” kata Bu Latifah geram. “Tapi bukan sampai orang lapar cuma jadi penonton.”
Bahri yang sejak tadi diam tiba-tiba mundur perlahan sambil menggandeng anaknya.
“Sudahlah,” katanya lirih. “Kami tidak mau jadi penyebab ribut.”
Anak kecil di sampingnya menatap kantong-kantong daging itu tanpa berkedip.
Saat itulah hati Pak RT seperti dipukul sesuatu.
Ia teringat masa kecilnya sendiri. Dulu ia pernah berdiri di depan rumah orang kaya saat pembagian sembako, menunggu dengan perut kosong sambil pura-pura tidak berharap. Ia masih ingat rasa malu yang seperti duri di tenggorokan.
Kadang yang paling menyakitkan dari kemiskinan bukan lapar, melainkan perasaan tidak dianggap ada.
Pak RT mengembuskan napas berat lalu mengambil satu kantong besar.
“Pak Herman,” katanya tegas. “Bagi ulang semua.”
Pak Herman terkejut. “Tapi—”
“Tidak ada tapi.”
Suasana mendadak sunyi.
Pak RT melanjutkan dengan suara bergetar, “Hari ini kita sedang belajar ikhlas, bukan belajar rakus.”
Pak Junaidi langsung bergerak membantu membuka kantong-kantong cadangan. Beberapa warga yang tadi diam ikut mendekat.
Rania tersenyum tipis.
Bu Latifah memanggil anak-anak dari gubuk tanah kosong. “Ayo sini, Nak.”
Bocah perempuan tadi berjalan ragu-ragu. Tangannya kecil dan dingin ketika menerima kantong daging dari Pak RT.
“Terima kasih, Pak,” bisiknya.
Entah kenapa ucapan sederhana itu terasa lebih berat daripada khutbah panjang.
Mata Pak RT mendadak panas. Ia mengangguk pelan sambil menatap halaman masjid yang mulai sepi.
Takbir kembali terdengar dari pengeras suara, mengalun lembut bersama angin sore. Bau daging, tanah basah, dan asap kayu bercampur menjadi aroma yang aneh—seperti rasa malu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Di bawah langit Idul Adha yang mulai memerah, orang-orang perlahan sadar bahwa kurban bukan sekadar menyembelih hewan.
Yang paling sulit justru menyembelih keserakahan dalam diri sendiri.
*****



