Bahasa yang Tak Pernah Sampai

Pagi di Kampus Tegal Boto, kawasan hijau milik Universitas Jember di sepanjang Jalan Jawa itu, selalu datang dengan cara yang pelan—hampir malu-malu. Deretan pohon angsana yang menjadi peneduh jalan kampus menumpahkan bayangannya seperti garis-garis panjang yang tak pernah benar-benar lurus. Daun-daunnya bergoyang ringan, seolah menyimpan rahasia ribuan langkah mahasiswa yang pernah lewat tanpa sempat saling mengenal. Angin membawa aroma tanah basah bercampur kopi kantin yang baru diseduh. Bangku-bangku semen masih dingin, menyimpan sisa percakapan mahasiswa semalam yang belum selesai. Di kejauhan, gedung Fakultas Sastra berdiri seperti buku tua—catnya mulai pudar, tetapi wibawanya tak pernah hilang.

Di halaman tengah, mahasiswa lalu-lalang dengan tas menggantung setengah hati. Ada yang berjalan cepat mengejar absensi, ada yang sengaja melambat agar terlihat sibuk berpikir. Suara motor bercampur tawa, juga suara burung yang entah kenapa terdengar seperti sedang menertawakan manusia.

Langit pagi itu abu-abu tipis. Tidak mendung, tetapi juga tidak cerah. Seperti hati seseorang yang sedang menunggu kepastian.

Di tangga gedung sastra, Mushab duduk sendirian. Map coklat di pangkuannya berisi lembaran kertas yang sudah dilipat rapi berkali-kali. Ia menatap halaman kampus, tetapi sebenarnya sedang menatap sesuatu yang jauh lebih dalam: kemungkinan yang belum pernah ia sentuh.

Kadang, jarak bukan soal kilometer. Ada kalanya ia hanya tentang kata-kata yang tak pernah sungguh-sungguh dipahami.

***

 

Mushab berasal dari kabupaten dataran rendah di Jawa Timur—orang menyebutnya Kota Tembakau. Di sana orang bercakap dengan campuran Jawa Timuran dan Madura. Nada bicaranya cepat, keras, tapi hangat. Di telinga orang luar, percakapan itu barangkali terdengar seperti pertengkaran. Padahal itu tanda akrab.

Sedangkan Indriawati—yang semua orang panggil Indri—datang dari daerah pegunungan. Bahasa Jawanya halus, naik turun seperti kabut yang merayap di lereng. Teman-teman kampus menjulukinya Cah Nggunung.

Indri tidak paham bahasa “petok lemak”—begitu mahasiswa menyebut logat Madura. Kalau Mushab atau teman-temannya bercanda dengan bahasa itu, Indri hanya tersenyum.

Dan senyum itu… masalahnya.

Senyumnya terlalu manis untuk diabaikan.

Termasuk oleh Mushab.

***

 

Mereka satu fakultas, satu angkatan, bahkan satu program studi. Tapi takdir mereka aneh: mereka hampir tidak pernah benar-benar bertemu.

Hubungan mereka berjalan lewat surat.

Bukan email. Bukan pesan singkat. Surat sungguhan.

Surat itu selalu dititipkan pada seorang mahasiswa bernama Karyanto—teman sekelas Indri yang oleh Mushab dijuluki PTT.

“Pak Pos Cinta,” kata Mushab suatu hari.

Karyanto tertawa. “PTT itu Post Telegraaf en Telefoondienst, lho. Dinas Pos zaman Belanda.”

“Ya sama saja. Yang penting kiriman cintaku sampai.”

“Belum tentu sampai,” jawab Karyanto sambil menyeringai.

Mushab tidak menyadari kalimat itu sebenarnya setengah jujur.

***

 

Mushab mahasiswa Linguistik. Hidupnya rapi, pikirannya sistematis. Ia percaya bahasa harus jelas, efektif, sesuai EYD.

Surat cintanya pun begitu.

“Indriawati yang saya hormati,

Saya merasa nyaman berkomunikasi dengan Anda. Saya berharap hubungan ini dapat berkembang lebih serius.”

Tidak ada metafora. Tidak ada bintang jatuh. Tidak ada hujan kenangan.

Jujur. Lugu. Hampir seperti laporan praktikum.

Sebaliknya, balasan Indri membuat Mushab hampir sesak napas.

“Ada angin yang membawa namamu ke bilik-bilik kalbuku. Aku belum tahu apakah itu musim atau hanya persinggahan.”

Mushab membaca ulang.

Tiga kali.

Lima kali.

Sepuluh kali.

“Ini diterima apa ditolak sih?” gumamnya. “Aku ini calon pacar atau calon puisi?”

***

Suatu sore di kantin kampus, Mushab menyerahkan surat balasan dari Indri pada Karyanto.

“Tolong pahamkan saya, Kar,” katanya serius. “Bahasanya melebihi puisinya Sapardi Djoko Damono. Aku malah tambah bingung.”

Karyanto membaca cepat.

Lalu menahan senyum.

“Oh ini jelas.”

“Jelas apa?”

“Ini… rumit.”

“Lho?!”

Karyanto meneguk es teh dulu sebelum menjawab. Sengaja.

“Menurutku dia sedang… mempertimbangkan.”

“Mempertimbangkan apa?”

“Ya… hidup. Alam semesta. Eksistensi.”

“Kar! Ini cinta, bukan skripsi filsafat!”

Karyanto tertawa keras.

Sejak hari itu, Mushab selalu meminta Karyanto menjadi penerjemah cinta.

Dan tanpa disadari, setiap surat yang lewat… dibaca lebih lama oleh sang kurir.

***

 

Indri sebenarnya sudah lama memperhatikan Karyanto.

Ia cerdas, santai, dan kata-katanya mengalir seperti puisi yang tidak berusaha menjadi puitis. Cerpennya sering dimuat di koran pagi kota itu. Di kelas Sastra Modern, namanya sering disebut dosen.

Suatu hari Indri berkata pelan saat menyerahkan surat balasan.

“Kamu sering baca suratnya, ya?”

Karyanto kaget. “Eh… ya… sedikit.”

“Menurutmu dia orangnya bagaimana?”

Karyanto diam sejenak.

Baik.

Tulus.

Tapi bukan dia.

“Aneh,” jawabnya akhirnya. “Dia mencintaimu lewat tata bahasa.”

Indri tertawa kecil. “Kamu?”

“Aku? Aku biasanya mencintai lewat kesalahan.”

Indri menatapnya lebih lama dari biasanya.

Dan sesuatu mulai bergeser.

***

Hubungan surat-menyurat itu semakin ramai.

Mushab makin jatuh cinta. Walau tidak paham.

Indri makin menunggu Karyanto.

Ironisnya, Mushab merasa hubungan mereka semakin dekat.

Padahal yang dekat… bukan dia.

Suatu malam Mushab berkata pada Karyanto di depan kos. “Aku merasa dia mulai membuka hati.”

Karyanto menunduk. Hatinya seperti ditarik dua arah.

Kadang, menjadi perantara adalah posisi paling menyakitkan. Tahu semua isi hatinya, tapi bukan pemiliknya.

“Kar,” kata Mushab pelan, “menurutmu… dia benar-benar suka aku?”

Karyanto ingin jujur.

Tapi kata-kata berhenti di tenggorokan.

“Iya,” jawabnya akhirnya lirih.

Dan kebohongan kecil itu mulai tumbuh menjadi sesuatu yang besar.

***

 

Hari itu, Indri akhirnya meminta bertemu.

Bukan lewat surat.

Bukan lewat PTT.

Langsung.

Mushab gugup luar biasa.

Ia memilih kemeja terbaiknya. Menyemprot parfum terlalu banyak. Menghapal kalimat pembuka seperti mahasiswa hendak sidang skripsi.

Namun saat ia tiba di taman kampus…Ia melihat Indri duduk.

Bersama Karyanto.

Tertawa.

Tanpa surat.

Tanpa perantara.

Tanpa dirinya.

Langit sore tiba-tiba terasa berat.

Ada momen dalam hidup ketika seseorang menyadari: ia hadir di cerita orang lain hanya sebagai catatan kaki.

***

 

Indri berdiri ketika melihat Mushab.

“Oh… kamu datang.”

Nada suaranya hangat. Tapi berbeda.

Tidak seperti dalam surat.

Mushab tersenyum kaku. “Iya.”

Sunyi jatuh beberapa detik.

Karyanto tidak berani menatap.

Indri akhirnya berkata pelan, “Aku ingin jujur.”

Kalimat paling menakutkan dalam hubungan apa pun selalu diawali dengan kejujuran.

“Aku suka berbicara denganmu,” lanjut Indri. “Suratmu tulus. Tapi… aku merasa lebih mengerti diriku ketika berbicara dengan Karyanto.”

Mushab menelan ludah.

Lucunya, ia tidak marah.

Ia justru mengerti.

Bahasa mereka memang tak pernah benar-benar bertemu.

Ia menatap Karyanto.

Sahabatnya.

PTT-nya.

Penerjemah cintanya.

Sekaligus orang yang tanpa sadar menggantikannya.

“Jadi… selama ini,” kata Mushab pelan, “aku jatuh cinta lewat orang lain, ya?”

Tidak ada yang menjawab.

Angin sore bergerak pelan.

Dan untuk pertama kalinya, Mushab merasa bahasa tak mampu menyelamatkan perasaan.

Ia tertawa kecil.

“Aneh ya,” katanya. “Aku belajar linguistik supaya bahasa jadi jelas. Tapi ternyata hati manusia tetap ambigu.”

Indri menatapnya iba.

Karyanto hampir berkata sesuatu, tetapi Mushab mengangkat tangan.

“Tidak apa-apa.”

Ia menarik napas panjang.

“Cinta itu mungkin bukan soal siapa yang menulis paling indah, tapi siapa yang hadir ketika kata-kata tidak lagi dibutuhkan.”

Sunyi lagi.

Namun kali ini bukan sunyi yang menyakitkan.

Melainkan sunyi yang menerima.

***

 

Beberapa minggu kemudian, Mushab masih duduk di tangga Fakultas Sastra.

Kampus tetap sama.

Pohon tetap bergoyang.

Mahasiswa tetap jatuh cinta.

Ia membuka-buku catatan.

Menulis satu kalimat: Tidak semua pesan gagal sampai. Kadang yang sampai hanyalah pelajaran.

Ia tersenyum.

Mungkin cinta pertamanya memang tidak berhasil.

Tetapi ia belajar sesuatu yang lebih penting: Bahwa manusia tidak hanya berbicara dengan bahasa ibu, bahasa nasional, atau bahasa cinta.

Ada bahasa kehadiran.

Dan bahasa itu tidak bisa dititipkan lewat siapa pun.

Karena beberapa perasaan… hanya dimengerti oleh mereka yang benar-benar datang sendiri.

Pos terkait

banner 468x60