LAMONGAN – SD Negeri 1 Kelorarum, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, menghadirkan inovasi BANG SIS BERPENA (Sambang Siswa, Belajar Penuh Makna) sebagai upaya memperkuat pendampingan belajar siswa secara individual sekaligus memulihkan kesenjangan pembelajaran (learning gap).
Program tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan pembelajaran yang masih dihadapi siswa setelah pandemi. Perbedaan kemampuan, gaya belajar, motivasi, konsentrasi, hingga kondisi lingkungan belajar di rumah membuat sebagian siswa membutuhkan perhatian yang lebih personal dibandingkan pembelajaran reguler di kelas.
Kepala SD Negeri 1 Kelorarum melalui program BANG SIS BERPENA mendorong guru untuk tidak hanya menunggu siswa datang ke sekolah, tetapi secara aktif menyambangi siswa di rumah. Kegiatan pendampingan dilakukan setelah jam sekolah pada Selasa, Kamis, dan Sabtu, dengan sasaran siswa secara bergiliran.
Dalam pelaksanaannya, guru melakukan pendampingan kepada satu siswa secara individual dan melibatkan wali murid. Pola tersebut memungkinkan guru memperoleh gambaran lebih utuh mengenai karakter, gaya belajar, hambatan akademik maupun nonakademik, serta kondisi lingkungan belajar siswa.
“Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang diberikan tidak bisa selalu disamakan. Melalui kunjungan ke rumah, guru dapat mengetahui permasalahan siswa secara lebih mendalam sekaligus membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan orang tua,” demikian substansi utama inovasi BANG SIS BERPENA.
Program yang mulai dilaksanakan sejak Januari 2022 tersebut kemudian diperkuat pada 2024 sebagai strategi adaptif pascapandemi. Inovasi ini tidak lagi sekadar menjadi respons terhadap kondisi krisis pembelajaran, tetapi dikembangkan sebagai model pendampingan personal yang berkelanjutan.
BANG SIS BERPENA menerapkan pembelajaran yang menyesuaikan karakter siswa, baik visual, auditori, kinestetik, verbal, logis, sosial, maupun individual. Guru dapat menyesuaikan metode dan materi pendampingan berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa.
Selain aspek akademik, kunjungan rumah menjadi ruang dialog antara guru, siswa, dan orang tua. Siswa maupun wali murid dapat menyampaikan kendala, gagasan, maupun persoalan terkait pembelajaran secara lebih terbuka tanpa tekanan suasana kelas.
Setiap kegiatan didukung dengan identifikasi profil dan permasalahan belajar siswa, rencana pendampingan individual, lembar komunikasi guru dan orang tua, serta dokumentasi kegiatan. Dengan demikian, proses pendampingan tidak hanya bersifat informal, tetapi memiliki rekam kegiatan yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi.
Dari sisi hasil, inovasi ini ditargetkan mampu meningkatkan pemahaman materi, motivasi, kepercayaan diri, serta capaian pembelajaran siswa. Guru juga memperoleh informasi yang lebih komprehensif untuk merancang pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
Sementara bagi orang tua, program ini memperkuat keterlibatan mereka dalam proses pendidikan anak. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
Melalui BANG SIS BERPENA, SD Negeri 1 Kelorarum berupaya membangun budaya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga memperhatikan kenyamanan, kebutuhan, karakter, dan perkembangan sosial-emosional siswa.
Inovasi tersebut sekaligus menegaskan bahwa pemulihan pembelajaran tidak cukup dilakukan hanya melalui proses belajar di ruang kelas. Kehadiran guru secara langsung di lingkungan siswa menjadi pendekatan strategis untuk mengenali persoalan secara lebih dekat, memberikan pendampingan yang tepat, dan memastikan tidak ada siswa yang tertinggal dalam proses belajar.



