LAMONGAN – SDN 2 Sumberjo menghadirkan inovasi APIK (Aksi Pengusaha Cilik) sebagai pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik untuk menanamkan jiwa mandiri, kreativitas, literasi keuangan, dan karakter kewirausahaan kepada siswa sejak sekolah dasar.
Program ini dikembangkan sebagai respons terhadap kondisi masyarakat Desa Sumberjo yang mayoritas menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian dan perdagangan. Komoditas seperti padi, kedelai, dan jagung masih banyak dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonomi yang diperoleh masyarakat belum optimal. Kondisi tersebut mendorong sekolah menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan potensi lokal dengan pengalaman nyata siswa.
Melalui APIK, siswa tidak sekadar mempelajari konsep kewirausahaan secara teoritis, tetapi terlibat langsung dalam seluruh proses usaha. Kegiatan dimulai dari mengidentifikasi komoditas lokal, mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, merancang kemasan dan merek, melakukan promosi, hingga melaksanakan transaksi jual beli.
“Inovasi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata. Mereka belajar membuat produk, memasarkannya, melayani pembeli, mengelola uang, hingga mengevaluasi hasil usaha,” ujar Kepala SDN 2 Sumberjo.
Keunggulan APIK terletak pada penerapan experiential learning yang mengintegrasikan pendidikan kewirausahaan dengan potensi ekonomi desa. Siswa diarahkan mengolah bahan seperti kedelai, jagung, dan beras menjadi produk pangan kreatif. Kemasan produk juga dilengkapi identitas dan narasi mengenai potensi lokal sehingga pembelajaran sekaligus memperkuat kecintaan siswa terhadap lingkungan dan budaya daerah.
Pelaksanaan APIK dilakukan secara terstruktur setiap semester melalui beberapa tahapan. Pertama, guru dan siswa memetakan komoditas lokal yang berpotensi dikembangkan. Kedua, siswa memperoleh pendampingan produksi dari guru dan pelaku UMKM. Ketiga, siswa merancang branding serta media promosi. Keempat, sekolah menggelar Gelar Karya Pasar Pengusaha Cilik sebagai ruang praktik transaksi. Kelima, siswa membuat pembukuan sederhana dan melakukan refleksi terhadap hasil kegiatan.
Dalam praktik pasar mini, siswa belajar menawarkan produk, berkomunikasi dengan konsumen, menghitung uang, mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta menghitung modal, omzet, dan laba atau rugi. Pengalaman tersebut menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah.
Data lokal menunjukkan sekitar 74 persen kepala keluarga di Desa Sumberjo berprofesi sebagai petani dan pedagang kecil, sementara pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan pentingnya pembelajaran yang mampu mengenalkan potensi ekonomi lokal kepada generasi muda sejak dini.
APIK juga memberikan manfaat bagi guru dan sekolah melalui tersedianya metode pembelajaran kewirausahaan yang kontekstual dan aplikatif. Program ini dapat mendukung penguatan karakter serta implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Sekolah menargetkan sedikitnya 85 persen siswa mencapai ketuntasan karakter mandiri. Keberlanjutan program diperkuat melalui kolaborasi dengan orang tua, komite sekolah, pelaku UMKM, dan koperasi desa.
Melalui APIK, SDN 2 Sumberjo berupaya menjadikan sekolah sebagai ruang belajar yang dekat dengan kehidupan nyata. Siswa tidak hanya belajar menjadi pembeli, tetapi juga dikenalkan sebagai produsen dan pengusaha cilik yang mampu melihat potensi lingkungan, menciptakan produk, dan mengelola usaha secara sederhana. Inovasi ini diharapkan menjadi fondasi pembentukan generasi yang kreatif, mandiri, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi ekonomi lokal.



