Belajar Matematika ala Jepang, SDN Pendowokumpul Sulap Matematika Jadi Pelajaran Menyenangkan

Lamongan – Matematika yang selama ini kerap dianggap sebagai mata pelajaran sulit dan menakutkan bagi siswa, coba diubah menjadi pembelajaran yang menyenangkan oleh SD Negeri Pendowokumpul, Kabupaten Lamongan, melalui inovasi “Belajar Matematika Senang Ala Jepang” (BERMANJA).

Inovasi yang digagas para guru SDN Pendowokumpul ini menghadirkan pendekatan pembelajaran matematika yang lebih aktif, visual, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Salah satu terobosan utama BERMANJA adalah Japanese Multiplication Method (JAMED), yakni metode menghitung perkalian menggunakan gambar garis.

Melalui JAMED, siswa tidak lagi hanya mengandalkan hafalan perkalian atau metode perkalian bersusun. Mereka diajak memahami konsep perkalian dengan menggambar sejumlah garis sesuai angka yang dikalikan, kemudian menghitung titik perpotongan garis untuk memperoleh hasil.

Metode tersebut dirancang untuk menjawab salah satu persoalan pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar, terutama materi perkalian yang selama ini banyak dilakukan dengan mengandalkan hafalan. Bagi sebagian siswa, tuntutan menghafal perkalian satuan menjadi hambatan dalam memahami konsep.

BERMANJA menawarkan cara berbeda dengan mengubah konsep matematika yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dilihat. Siswa diajak menemukan sendiri pola dan strategi penyelesaian soal sehingga proses belajar tidak hanya berorientasi pada jawaban akhir.

Selain JAMED, BERMANJA mengadopsi sejumlah pendekatan pembelajaran matematika yang menekankan pemahaman konsep dan pemecahan masalah. Di antaranya metode Sakamoto dengan bantuan gambar kotak untuk menyelesaikan soal cerita, penggunaan soroban atau sempoa untuk melatih kemampuan berhitung mental dan visualisasi, serta pendekatan Chisanbop yang memanfaatkan jari untuk membantu operasi hitung dasar.

Pembelajaran juga dilakukan melalui permainan, tanya jawab, diskusi, dan aktivitas interaktif. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing siswa menemukan strategi penyelesaian masalah, bukan sekadar memberikan rumus untuk dihafalkan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, khususnya dalam mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan mampu memecahkan masalah. BERMANJA juga mendukung penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) melalui pembelajaran yang kontekstual dan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Melalui inovasi ini, siswa diharapkan tidak lagi memandang matematika sebagai pelajaran yang hanya bisa dikuasai oleh siswa yang dianggap pintar atau jenius. Sebaliknya, matematika dikenalkan sebagai ilmu yang dapat dipahami melalui proses mencoba, mengamati pola, berpikir logis, dan berlatih.

Penerapan BERMANJA diharapkan mampu meningkatkan kemampuan siswa SDN Pendowokumpul dalam memahami konsep matematika sekaligus membangun kepercayaan diri mereka dalam menyelesaikan persoalan.

Lebih dari sekadar metode berhitung, BERMANJA menjadi upaya sekolah menciptakan pengalaman belajar yang positif dan menyenangkan. Inovasi ini membawa pesan sederhana bahwa matematika tidak harus menjadi momok bagi anak, tetapi dapat dipelajari melalui cara yang kreatif, interaktif, dan menggembirakan.

Pos terkait

banner 468x60