KAMI BERSAHAJA, SDN 1 Gembong Hidupkan Budaya Jawa melalui Pembiasaan Berbahasa dan Berbusana Adat

LAMONGAN – SD Negeri 1 Gembong menghadirkan inovasi KAMI BERSAHAJA (Kamis Berbusana dan Berbahasa Jawa) sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus membentuk karakter siswa melalui pembiasaan yang dilakukan secara rutin di lingkungan sekolah.

Inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh semakin kuatnya pengaruh budaya populer terhadap generasi muda. Kondisi itu turut terlihat dari rendahnya penggunaan bahasa Jawa dalam interaksi sehari-hari siswa serta belum optimalnya apresiasi terhadap nilai-nilai budaya tradisional. Padahal, pengenalan budaya lokal sejak usia sekolah dasar dinilai penting untuk membangun identitas, karakter, dan rasa bangga terhadap budaya daerah.

Melalui KAMI BERSAHAJA, SD Negeri 1 Gembong menjadikan setiap Kamis sebagai momentum pembiasaan budaya Jawa. Siswa, guru, dan tenaga kependidikan mengenakan busana adat Jawa sederhana, seperti batik, lurik, dan kebaya, sekaligus menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai aktivitas di sekolah.

Penggunaan bahasa Jawa tidak hanya diarahkan pada kemampuan berkomunikasi, tetapi juga penerapan unggah-ungguh basa, termasuk penggunaan bahasa ngoko dan krama sesuai konteks dan lawan bicara. Dengan demikian, pembiasaan budaya sekaligus menjadi sarana penguatan sikap sopan santun, penghormatan, gotong royong, dan kebersamaan.

Kepala SD Negeri 1 Gembong menjelaskan bahwa program tersebut dirancang agar pelestarian budaya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau peringatan hari besar tertentu. Budaya Jawa dihadirkan dalam rutinitas sekolah sehingga siswa dapat belajar dan mempraktikkannya secara langsung.

“Melalui KAMI BERSAHAJA, kami ingin budaya Jawa menjadi bagian dari keseharian anak-anak. Mereka tidak hanya mengetahui budaya melalui buku, tetapi juga menggunakannya, mengenakannya, dan mempraktikkannya dalam kehidupan sekolah,” ujarnya.

Selain pembiasaan berbahasa dan berbusana, KAMI BERSAHAJA diperkuat dengan berbagai kegiatan pengayaan budaya. Di antaranya tembang macapat, parikan, cerita rakyat atau dongeng Jawa, serta permainan tradisional seperti egrang dan gobak sodor.

Rangkaian kegiatan tersebut menciptakan ekosistem pembelajaran budaya yang lebih interaktif dan menyenangkan. Siswa memperoleh ruang untuk berekspresi sekaligus mengenal nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal.

Pelaksanaan inovasi diawali dengan penyusunan panduan dan standar operasional pembiasaan. Selanjutnya dilakukan sosialisasi serta edukasi unggah-ungguh bahasa Jawa kepada guru, siswa, dan orang tua. Program kemudian dilaksanakan secara rutin setiap Kamis dan dilengkapi kegiatan budaya pada waktu yang memungkinkan, termasuk saat istirahat.

Sekolah juga melakukan monitoring terhadap keterlibatan siswa serta mendokumentasikan berbagai aktivitas budaya sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program.

KAMI BERSAHAJA menargetkan partisipasi siswa dalam penggunaan bahasa Jawa mencapai 85 persen, sekaligus menghasilkan berbagai karya seni, pertunjukan parikan, dan dokumentasi budaya sekolah. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan meningkatkan kecintaan dan kebanggaan siswa terhadap budaya Jawa serta memperkuat karakter berbasis kearifan lokal.

Bagi siswa, inovasi ini memberikan pengalaman langsung untuk mengenal dan mempraktikkan budaya daerah. Bagi guru, KAMI BERSAHAJA menjadi metode pendidikan karakter yang kontekstual. Sementara bagi orang tua, program tersebut membuka ruang keterlibatan keluarga dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.

SD Negeri 1 Gembong berharap KAMI BERSAHAJA dapat berkembang menjadi budaya sekolah yang berkelanjutan sekaligus menjadi contoh penerapan pendidikan berbasis budaya lokal. Dengan pembiasaan yang dilakukan sejak dini, sekolah berupaya memastikan bahasa, busana, kesenian, dan nilai-nilai budaya Jawa tetap hidup dan dekat dengan generasi muda di tengah perkembangan zaman.

Pos terkait

banner 468x60