Pada 28 Oktober 2026 saat ini merupakan peringatan 98 Tahun Sumpah Pemuda, terdapat beberapa catatan tentang hal ini dalam dinamika di Indonesia kini, termasuk keterkaitan kesejahteraan sosial dalam masyarakat Indonesia
Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar politik tentang satu nusa, bangsa, dan bahasa, tetapi juga sebuah manifesto keadilan sosial juga kedekatan marwah sumpah pemuda terhadap kesejahteraan sosial saat ini. Refleksi mengenai kedekatan marwah (nilai luhur dan esensi) Sumpah Pemuda terhadap kesejahteraan sosial saat ini dapat dilihat dari bagaimana cita-cita kemerdekaan yang dirintis oleh para pemuda pada tahun 1928 yang lalu, berkorelasi langsung dengan upaya pengentasan masalah sosial di era modern.
Berikut adalah analisis mengenai kedekatan marwah tersebut dengan kondisi kesejahteraan sosial saat ini:
1. Semangat Satu Bangsa sebagai Fondasi Solidaritas Sosial
Saat itu sebagai upaya demi tujuan bersama yaitu kemerdekaan dengan cara menyatukan ratusan suku, budaya, dan latar belakang yang terkotak-kotak oleh kolonial. Kesejahteraan Sosial saat ini yaitu Rasa kebangsaan yang utuh harus diterjemahkan menjadi kepedulian lintas golongan. Kesejahteraan sosial sulit tercapai jika masih ada ketimpangan ekstrem antardaerah (sentris di kota besar. Semangat persatuan menuntut adanya pemerataan pembangunan, akses kesehatan, dan pendidikan yang inklusif bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.
2. Kolaborasi Menghadapi Krisis dengan Gotong Royong
Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan kesadaran kolektif pemuda dari berbagai organisasi daerah (Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, dan lain-lain) yang melebur menjadi satu kekuatan penggerak.
Saat ini, kompleksitas masalah sosial seperti kemiskinan ekstrem, pengangguran, stunting , marjinalisasi dalam masyarakat dan kerentanan psikososial tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Marwah Sumpah Pemuda menuntut keterlibatan aktif generasi muda dan masyarakat melalui gerakan sosial, filantropi, dan kolaborasi lintas sektor untuk mengangkat taraf hidup kelompok rentan.
3. Menjunjung Bahasa Persatuan
Ketika ada bahasa menjadi alat persatuan yang merata maka hal ini menuju keterbukaan informasi dan akses. Menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa untuk meruntuhkan batasan komunikasi antarsuku.
Saat ini di era digital, bahasa persatuan juga berarti pemerataan literasi (literasi digital, finansial, dan sosial). Kesejahteraan sosial sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat mengakses informasi publik, peluang kerja, dan perlindungan sosial. Merawat marwah Sumpah Pemuda hari ini berarti memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal akibat kesenjangan informasi (digital divide).
4. Orientasi pada Kepentingan Publik
Dalam masa itu, para Pemuda tahun 1928 mengorbankan ego kelompok demi visi besar bangsa yang merdeka, bedaulat juga bermartabat.
Dinamika Indonesia kini, kesejahteraan sosial sering kali terhambat oleh praktik korupsi, birokrasi yang tidak berpihak pada rakyat kecil, dan sikap individualis yang dilakukan oleh banyak pihak. Menghidupkan kembali marwah Sumpah Pemuda berarti menanamkan kembali jiwa pengabdian dan integritas baik bagi pembuat kebijakan, pekerja sosial, maupun generasi muda tanpa terkecuali, agar fokus utama pembangunan adalah keadilan distributif bagi seluruh rakyat.
Kesimpulan
Marwah Sumpah Pemuda dengan kesejahteraan sosial sebuah kedekatan yang bersifat substansial dan berkelanjutan. Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sejati belum tercapai selama masih ada warga negara ataupun masyarakat pada umumnya yang belum sejahtera, tertinggal secara akses, atau terpinggirkan secara ekonomi. Oleh karena itu, merayakan semangat Sumpah Pemuda adalah dengan kerja nyata menanggulangi kemiskinan dan memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.



