81 Tahun Indonesia Merdeka, Sudahkah Kemerdekaan Dirasakan Semua?

Pengurus KOHATI HMI Cabang Jember Periode 2025–2026 (Mas’ada — Ketua Bidang Eksternal, Gela Sabania Extafaro — Ketua Bidang Internal, Cahya Fitria Dori — Wasekum Eksternal, Firdausi Nuzula Rahmadani — Bidang Internal). Sumber Foto: Kohati Cabang Jember

Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap 17 Agustus melalui upacara bendera, pengibaran merah putih, maupun berbagai perayaan seremonial. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dirawat, diisi, dan diperjuangkan. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertanyaan yang semestinya kita ajukan bukan lagi sekadar, “Apakah Indonesia sudah merdeka?”, tetapi “Sejauh mana kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat?”

 

Indonesia memang telah terbebas dari penjajahan secara fisik. Namun, kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari kolonialisme. Di tengah kehidupan masyarakat hari ini, masih terdapat berbagai persoalan yang menunjukkan bahwa perjuangan menuju kemerdekaan yang substantif belum selesai. Kemiskinan, ketimpangan sosial, kesenjangan pendidikan, korupsi, ketidakadilan hukum, politik kepentingan, manipulasi informasi, kekerasan, diskriminasi, hingga budaya apatis masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

 

Penjajahan hari ini mungkin tidak lagi hadir melalui senjata dan pendudukan wilayah. Ia dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus: kebodohan yang membatasi kesempatan, kemiskinan yang membatasi pilihan, ketimpangan yang membuat sebagian masyarakat tertinggal, informasi yang dimanipulasi, kekuasaan yang jauh dari kepentingan rakyat, serta budaya diam yang membuat masyarakat enggan mempertanyakan ketidakadilan.

 

Merdeka bukan berarti seluruh persoalan telah selesai. Merdeka berarti memiliki keberanian untuk menyadari bahwa masih ada persoalan yang harus diselesaikan.

 

Sebagaimana refleksi Gela Sabania Extafaro, Ketua Bidang Internal KOHATI HMI Cabang Jember, kemerdekaan semestinya dimaknai sebagai keberanian untuk berpikir, bersikap, dan bertindak demi kepentingan umat dan bangsa. Bagi kader HMI dan KOHATI, kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai simbol atau jargon. Kemerdekaan harus diwujudkan melalui tradisi intelektual, keberanian menyuarakan kebenaran, serta pengabdian kepada masyarakat.

 

Nilai insan cita tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus menjadi karakter dalam kehidupan. Kader HMI dan KOHATI tidak boleh hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan bangsa. Sebab, ketika ketidakadilan dibiarkan tanpa kritik dan perlawanan, diam pada akhirnya dapat menjadi bagian dari keberlangsungan ketidakadilan itu sendiri.

 

Refleksi tersebut sejalan dengan pemikiran Cahya Fitria Dori, Wasekum Eksternal KOHATI HMI Cabang Jember, bahwa kemerdekaan merupakan ruang untuk bertanya sejauh mana kita benar-benar merdeka sebagai bangsa.

 

Indonesia memang telah terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi berbagai bentuk penjajahan baru masih hadir dalam kehidupan masyarakat. Kemiskinan, ketimpangan pendidikan, korupsi, hingga budaya yang membuat masyarakat takut berpikir dan berbeda pendapat menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan belum sepenuhnya selesai.

 

Karena sesungguhnya merdeka adalah ketika kita berani membaca persoalan bangsa dan mengambil sikap. Kecintaan terhadap tanah air tidak cukup diwujudkan dengan perayaan dan simbol-simbol kebangsaan. Cinta kepada Indonesia juga berarti memiliki keberanian untuk mengoreksi ketika bangsa ini berjalan ke arah yang salah.

 

Maka, kita membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai merayakan kemerdekaan, tetapi juga berani mempertanyakan realitas. Bukan generasi yang hanya mampu menghafal sejarah, melainkan generasi yang mampu memahami makna sejarah dan meneruskannya melalui perjuangan pada zamannya.

 

Kemerdekaan Perempuan Adalah Bagian dari Kemerdekaan Bangsa

Refleksi kemerdekaan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan perempuan. Sebab, tidak mungkin berbicara tentang kemerdekaan bangsa apabila masih terdapat perempuan yang ruang hidupnya dibatasi oleh kekerasan, diskriminasi, stigma, maupun keterbatasan akses terhadap pendidikan dan kesempatan.

 

Sebagaimana disampaikan Mas’ada, Ketua Bidang Eksternal KOHATI HMI Cabang Jember, kemerdekaan bagi seorang perempuan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kebebasan untuk berpikir, belajar, bersuara, menentukan pilihan, serta mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

 

Hari ini perempuan memang memiliki ruang yang semakin luas untuk mengembangkan diri. Perempuan dapat menempuh pendidikan, menjadi pemimpin, membangun karier, menyampaikan pendapat, berwirausaha, serta terlibat aktif dalam berbagai kegiatan ekonomi, sosial, dan politik.

 

Namun, ruang yang semakin terbuka belum otomatis berarti seluruh perempuan telah merasakan kemerdekaan. Masih banyak perempuan yang menghadapi ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan keterbatasan akses yang membuat mereka tidak sepenuhnya memiliki kuasa untuk menentukan masa depannya sendiri.

 

Karena itu, pertanyaan tentang kemerdekaan perempuan harus terus diajukan: sejauh mana perempuan hari ini benar-benar merasakan kemerdekaan dalam kehidupannya?

 

Bagi KOHATI, persoalan tersebut bukan semata-mata persoalan gender. Ini adalah persoalan kemanusiaan.

 

KOHATI bukan sekadar ruang bagi perempuan untuk berkumpul atau berproses secara intelektual. KOHATI harus menjadi ruang yang membangun kepedulian terhadap persoalan perempuan dan masyarakat. Kesadaran intelektual harus berjalan bersama dengan kepedulian sosial, karena ilmu yang tidak menghadirkan kebermanfaatan pada akhirnya kehilangan makna pengabdiannya.

 

Perempuan yang merdeka bukan berarti perempuan yang bebas tanpa arah. Perempuan yang merdeka adalah perempuan yang mampu menggunakan kebebasannya untuk terus bertumbuh, menentukan pilihan secara sadar, dan memberikan manfaat bagi perempuan serta manusia lainnya.

 

Kemerdekaan perempuan juga berarti ketika perempuan tidak lagi dipandang hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai subjek yang turut menentukan arah pembangunan. Perempuan harus dipercaya untuk memimpin, berpikir, mengambil keputusan, dan menyampaikan gagasan.

 

Karena itu, perjuangan perempuan bukan sekadar persoalan jumlah keterwakilan. Lebih jauh, perjuangan tersebut adalah tentang kesempatan yang adil untuk memimpin, berpartisipasi, dan menentukan masa depan.

 

Kemerdekaan yang Harus Diisi

Sebagaimana ditegaskan Firdausi Nuzula Rahmadani, Bidang Internal KOHATI HMI Cabang Jember, usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia semestinya tidak berhenti pada perayaan dan simbol-simbol seremonial. Pertanyaan yang lebih relevan adalah bagaimana makna kemerdekaan tersebut benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat.

 

Bangsa ini telah terbebas dari penjajahan fisik, tetapi berbagai bentuk ketidakadilan masih menjadi pekerjaan rumah. Karena itu, merayakan kemerdekaan tanpa keberanian untuk mengkritisi realitas justru berisiko mengosongkan makna kemerdekaan itu sendiri.

 

Kader HMI tidak seharusnya hanya menjadi generasi yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga harus mampu membaca persoalan bangsa secara kritis dan menghadirkan solusi. Nilai keislaman dan keindonesiaan harus diterjemahkan melalui keberanian membela kebenaran, melawan ketidakadilan, serta mengabdikan ilmu bagi masyarakat.

 

Begitu pula dengan KOHATI. Perempuan tidak cukup hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi harus menjadi subjek yang turut menentukan arah perubahan.

 

Dari Perayaan Menuju Perjuangan

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan tentang merasa bahwa perjuangan telah selesai. Kemerdekaan adalah kesadaran bahwa masih ada banyak hal yang harus diperjuangkan.

 

81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk memperkuat keberanian generasi muda dalam membaca persoalan bangsa. Kita membutuhkan generasi yang kritis tetapi tetap solutif, berani bersuara tetapi tetap berintegritas, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa yang diwujudkan melalui kerja nyata.

 

Menjadi kader HMI dan KOHATI berarti menjaga api perjuangan agar tetap hidup melalui ilmu, keberanian, kepedulian, dan pengabdian.

 

Kemerdekaan tidak boleh hanya menjadi warisan sejarah, tetapi harus menjadi tanggung jawab generasi hari ini.

 

Sebab, Indonesia yang benar-benar merdeka bukan hanya Indonesia yang terbebas dari penjajahan. Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang rakyatnya terbebas dari kemiskinan dan ketidakadilan; yang hukumnya mampu memberikan keadilan; yang pendidikannya membuka kesempatan bagi semua; yang perempuannya memiliki ruang yang setara untuk berkembang dan memimpin; serta yang generasinya berani mengoreksi ketika bangsanya berjalan ke arah yang salah.

 

Maka, pada usia 81 tahun kemerdekaan, mari kita tidak hanya bertanya apakah Indonesia telah merdeka. Mari bertanya: apa yang telah kita lakukan agar kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat?

 

Karena kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan, melainkan perjuangan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, berdaulat, dan diridai Allah SWT.

Pos terkait

banner 468x60