LAMONGAN – Upaya membangun budaya hidup bersih dan sehat sejak dini terus dikembangkan melalui berbagai inovasi pendidikan. Salah satunya dilakukan SD Negeri Sukorejo melalui inovasi MASEHI (Mari Sehat dan Bersih) yang mengintegrasikan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), sanitasi, pengelolaan sampah, serta aksi kebersihan lingkungan secara partisipatif.
Inovasi MASEHI hadir sebagai respons terhadap masih ditemukannya berbagai persoalan kesehatan lingkungan, seperti pengelolaan sampah rumah tangga yang belum optimal, rendahnya kesadaran terhadap PHBS, sanitasi yang perlu diperkuat, serta risiko penyakit berbasis lingkungan seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), diare, dan masalah gizi.
Selama ini, edukasi kesehatan kerap dilakukan melalui sosialisasi satu arah sehingga belum selalu mampu mendorong perubahan perilaku secara konsisten. Karena itu, MASEHI mengedepankan pendekatan partisipatif dengan menempatkan warga sekolah dan masyarakat sebagai pelaku utama perubahan.
Melalui program tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kebersihan dan kesehatan, tetapi juga dilibatkan dalam aksi nyata. Kegiatan dapat berupa gerakan bersih lingkungan, edukasi pemilahan sampah, pembiasaan PHBS, pemantauan kebersihan lingkungan, serta kegiatan edukasi kesehatan dan gizi.
Kepala SD Negeri Sukorejo menjelaskan bahwa MASEHI dirancang untuk membangun kebiasaan hidup bersih melalui kegiatan yang sederhana, rutin, dan mudah diterapkan.
“MASEHI bukan sekadar kegiatan bersih-bersih, tetapi sebuah gerakan untuk membangun kesadaran dan kebiasaan hidup sehat. Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Salah satu keunggulan MASEHI adalah konsep Agen MASEHI, yakni kader atau warga yang berperan sebagai penggerak perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan masing-masing. Pendekatan ini membuat masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut terlibat dalam pemantauan dan aksi perbaikan lingkungan.
Inovasi tersebut juga mengintegrasikan aspek kesehatan dan lingkungan melalui konsep Eco-Health System. Edukasi PHBS dipadukan dengan pengelolaan sampah, sanitasi, edukasi gizi, pencegahan penyakit, serta kegiatan kebersihan lingkungan sehingga intervensi tidak berjalan secara terpisah.
Untuk menjaga keberlanjutan program, MASEHI dilaksanakan melalui sejumlah tahapan. Diawali dengan konsolidasi dan pembentukan tim pelaksana, penyusunan panduan kegiatan, pelatihan Agen MASEHI, pelaksanaan aksi kebersihan dan edukasi, hingga monitoring dan evaluasi secara berkala.
Program ini menargetkan meningkatnya cakupan rumah tangga yang menerapkan PHBS hingga 85 persen dalam satu tahun serta peningkatan angka bebas jentik dan kualitas sanitasi lingkungan hingga minimal 90 persen. Selain itu, MASEHI diarahkan untuk membentuk kader aktif di lingkungan masyarakat dan meningkatkan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan preventif.
Dari sisi keluaran, inovasi ini menghasilkan modul dan panduan aksi MASEHI, terbentuknya kader atau Agen MASEHI, pelaksanaan aksi kebersihan dan layanan edukasi kesehatan secara rutin, serta dokumen monitoring dan evaluasi kondisi lingkungan.
Dalam jangka panjang, MASEHI diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup yang lebih bersih dan sehat, mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan, menciptakan lingkungan yang lebih asri, serta memperkuat budaya gotong royong.
Dengan model yang sederhana dan tidak bergantung pada teknologi mahal, MASEHI juga memiliki peluang untuk direplikasi di sekolah, desa, maupun komunitas lain. Inovasi tersebut sekaligus memperkuat peran sekolah sebagai pusat pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang peduli terhadap kesehatan dan lingkungan.



