LAMONGAN – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cluring menghadirkan inovasi KRETAS (Kreasi Tanaman di Sekolah) sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah yang hijau, asri, sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi peserta didik.
Program tersebut lahir dari kebutuhan sekolah untuk mengoptimalkan keterbatasan lahan terbuka hijau. Melalui konsep tanam vertikal dan budidaya tanaman herbal, ruang-ruang sempit seperti dinding, pagar, serta sudut sekolah yang sebelumnya kurang produktif disulap menjadi area hijau yang memiliki nilai estetika, edukasi, dan ekonomi.
KRETAS tidak sekadar berorientasi pada penghijauan, tetapi juga dirancang sebagai sarana pembelajaran kontekstual. Siswa dilibatkan secara langsung dalam kegiatan menanam, merawat, mengamati pertumbuhan tanaman, hingga memanfaatkan hasil panen.
“Melalui KRETAS, siswa tidak hanya belajar teori tentang lingkungan dan tanaman, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung bagaimana merawat dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak,” demikian semangat yang dikembangkan SDN Cluring melalui program tersebut.
Berbagai tanaman herbal seperti jahe, kunyit, dan lidah buaya menjadi bagian dari kebun sekolah. Tanaman tersebut dipilih karena memiliki manfaat kesehatan sekaligus berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Dalam pelaksanaannya, KRETAS dimulai dari tahap perencanaan dan pengadaan media tanam, bibit serta sarana pendukung. Selanjutnya, warga sekolah mendapatkan edukasi dan terlibat dalam proses penanaman serta perawatan tanaman secara berkala.
Hasil budidaya kemudian dapat dikembangkan melalui kegiatan kreatif siswa, misalnya pengolahan tanaman herbal menjadi minuman herbal atau produk sederhana lainnya. Aktivitas tersebut sekaligus menjadi media untuk mengenalkan keterampilan kewirausahaan dan pemanfaatan hasil alam secara berkelanjutan.
KRETAS juga terintegrasi dengan pembelajaran. Materi tentang tumbuhan, lingkungan, ekosistem, pemanfaatan sumber daya alam, hingga keterampilan prakarya dapat disampaikan melalui kegiatan nyata di kebun sekolah. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Selain memberikan manfaat ekologis, program ini mendorong terbentuknya karakter peduli lingkungan. Siswa dibiasakan untuk bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka rawat serta memahami pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.
Program KRETAS juga mendukung penguatan budaya sekolah berwawasan lingkungan dan upaya menuju sekolah Adiwiyata. Partisipasi guru, siswa, serta seluruh warga sekolah menjadi faktor penting agar kegiatan penghijauan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Output program antara lain berupa taman vertikal dan kebun herbal sekolah, kegiatan pembelajaran berbasis lingkungan, serta pengembangan produk berbahan tanaman herbal. Dokumentasi pelaksanaan dan praktik baik KRETAS juga dapat menjadi referensi bagi sekolah lain yang menghadapi persoalan serupa, khususnya keterbatasan lahan.
Dalam jangka panjang, KRETAS diharapkan mampu membentuk generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas dalam memanfaatkan sumber daya, serta keterampilan dasar kewirausahaan hijau.
Melalui inovasi tersebut, SDN Cluring menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk menciptakan lingkungan sekolah yang hijau dan produktif. Dengan kreativitas, kolaborasi, dan keterlibatan siswa, ruang terbatas dapat diubah menjadi kebun edukatif yang memberikan manfaat bagi lingkungan, pembelajaran, dan pengembangan karakter peserta didik.



