ASEF BAYAT: APAKAH LINGKUNGAN PERKOTAAN MENDUKUNG LAHIRNYA KELOMPOK ISLAM RADIKAL?

Asef Bayat, intelektual Amerika keturunan Iran, dalam bukunya yang bertajuk “LIFE AS POLITICS” melakukan studi menarik tentang “agency and change” di masyarakat muslim Timur Tengah, dimana agama memainkan peranan kunci dalam perubahan sosial. Asef Bayat memotret peranan orang-orang biasa, kelompok terpinggirkan, dan kelompok akar rumput lainnya, yang mempengaruhi berlangsungnya perubahan dalam masyarakat mereka, dengan menolak keluar dari panggung politik yang dikontrol penuh oleh kekuasaan negara otoriter, otoritas moral, dan arus ekonomi neoliberal. Radikalisme Islam muncul dan lingkungan perkotaan ternyata memberi peluang bagi perkembangannya. Ada beberapa pertanyaan kunci yang diangkat Bayat, diantaranya:

 

Apakah Islamisme militan memiliki lingkungan yang bersifat perkotaan (urban ecology)? Adakah titik temu penting antara eksistensi sosial dari kaum urban yang terpinggirkan dan ideologi keagamaan yang radikal? Apakah kelompok urban yang tertindas menjadi lokus alamiah dari politik golongan Islamis?

 

Di awal pagi pada 10 Januari 1993, sekitar 15.000 personil militer Mesir menguasai kawasan pemukiman penghuni liar di Munirah Gharbiyya, di kawasan Imbaba, Cairo, untuk “membersihkan” komunitas miskin para pendukung gerakan Islam militan, Jamaah Islamiyah, yang telah mengubah kawasan itu menjadi sebuah negara Islam, menjadi “negara dalam negara.” Lebih dari enam pekan kemudian, polisi menangkap sekitar 600 tersangka, sementara pencarian besar-besaran dilakukan terhadap para Islamis radikal yang tersisa.

 

Insiden ini, dan berbagai laporan terserak tentang mobilisasi kaum Islamis di berbagai kawasan kumuh di Algiers dan Istanbul di akhir tahun 1990-an, memunculkan wajah spektakuler revolusi Islam Iran tahun 1979, dimana kaum miskin kota dipercaya memainkan peran menentukan. Mirip dengan itu, pengambilalihan kekuasaan oleh kaum Islamis Turki dan kemenangan gerakan Hamas di wilayah perkotaan padat pemukiman di wilayah Palestina, menampilkan gambaran mutakhir tentang gerakan yang menunjukkan bahwa daya tarik Islamisme terhadap massa perkotaan xukup kut, khususnya bagi kalangan perdesaan yang bermigrasi ke berbagai kota.

Berbagai peristiwa ini telah memicu sebuah debat dan perbincangan berkepanjangan tentang lingkungan urban kaum miskin, juga seringkali membangkitkan asumsi lama yang berabad usianya tentang konsekuensi sosial dari transisi perkotaan dan kecenderungan meningkatnya pandangan ideologis dari kaum marjinal di perkotaan dalam berbagai masyarakat Muslim. Mereka menginspirasi banyak narasi yang mengungkapkan jalinan antara sejarah Islamisme dengan mereka yang kehidupannya terpinggirkan di perkotaan. Karena itu, Islamisme militan dimunculkan beriringan dengan gerakan kelompok perkotaan yang tertindas, sebuah persepsi yang telah membuat banyak sarjana menarik hubungan paralel antara Islamisme Timur Tengah dan Gerakan Teologi Pembebasan di Amerika Latin pada tahun 1960-an dan 1970-an.

 

Survei berpengaruh tentang “Planet Slums” dari Mike Davis, misalnya, memotret Islamisme (sejalan dengan gerakan Pantecosta) sebagai “nyanyian kaum papa.” Dari lukisan tentang kawasan kumuh di Jalur Gaza dan Baghdad, Davis menyebut penghuni slum pelaku radikalisme keagamaan sebagai “para dewa kekacauan bagi keuntungan kelompoknya.” Tidak saja radikalisme Islam menampilkan moral, etika, dan kepekaan keagamaan dari kaum miskin kota, tetapi juga karakter eksistensial dari kaum miskin kota, realitas lingkungan mereka, menggenapkan mereka untuk menerima ide-ide para ekstrimis dari kelompok Islam radikal.

Asumsi pokok yang melandasi berbagai narasi ini adalah bahwa ada ekologi urban atau lingkungan kota dan ikatan budaya antara habitus kaum miskin kota dengan Islamisme militan. Kemiskinan kota dan konsentrasi kaum miskin perkotaan di berbagai komunitas kumuh, yang dipengaruhi berbagai kekacauan norma dan keterasingan dianggap menghasilkan kekerasan, ketiadaan hukum, ekstrimisme, dimana Islamisme muncul di tengah kekosongan harapan dan moral yang melapuk, lalu menampilkan ekspresi keagamaan terhadap bentuk kehidupan yang merosot itu.

 

Pada saat bersamaan, religiusitas yang dalam, hasrat-hasrat populis, berbagi bahasa yang sama, juga lembaga yang sama, dan akhirnya menurun menjadi “tradisionalisme” kerap dipandang membawa kaum miskin kota dan para Islamis militan menjadi sekutu strategis. Cara berpikir seperti ini muncul disuarakan oleh media mainstream, dan sering diterima begitu saja dalam menjelaskan hubungan antara lingkungan urban dan munculnya ekstrimisme keagamaan dalam jagad Muslim.

 

Sebagai seorang urbanis di Mesir, saya berulang-ulang dihubungi oleh media Barat untuk mengomentari berdasarkan jalan cerita mereka tentang hubungan antara migrasi penduduk perdesaan dan Islamisme, kemiskinan, dan kekerasan, atau kurangnya perumahan (dan privasinya) dalam atmosfer tekanan moral dan frustrasi seksual yang diduga kuat membuat kaum muda miskin berpaling kepada ektrimisme dan kekerasan.

 

Apakah Islamisme militan memiliki lingkungan yang bersifat perkotaan (urban ecology)? Adakah titik temu penting antara eksistensi sosial dari kaum urban yang terpinggirkan dan ideologi keagamaan yang radikal? Apakah kelompok urban yang tertindas menjadi lokus alamiah dari politik golongan Islamis?

 

Radikalisme Islam secara umum tidak ada yang menunjukkan kepentingan politik atau moral terhadap kelompok miskin kota, tidak juga kaum kelompok miskin kota mengekspresikan komitmen ideologis kepada “politik perpanjangan tangan” kelompok Islamis, dan politik tetap saja, sebagian besar, merupakan persoalan yang abstrak dari kehidupan sehari-hari yang sulit dari warga masyarakat ramai. Islamisme militan, utamanya merupakan gerakan kaum kelas menengah dan dipenuhi dengan politik moral dan perjuangan ideologis, gagal bertindak sebagai gerakan sosial kaum urban yang terpinggirkan, yang mungkin mendukung kaum Islamis sementara saja.

 

Kaum urban yang papa cenderung mengikuti religiusitas-rakyati milik mereka sendiri, berbentuk kehidupan informal yang otonom, dan mewujud sebagai “politik keakraban” dalam kehidupan sehari-hari. Terbebas dari loyalitas ideologi yang ketat, mereka umumnya berorientasi kepada aneka strategi dan kerjasama yang bersifat langsung dan segera, bermakna, dan terkelola — strategi mana yang hasil-hasilnya bisa mereka kendalikan.

 

Apa yang menandai kehidupan sosial kaum miskin kota di kawasan muslim Timur Tengah tidaklah secara sederhana disebut sebagai anomie (kekacauan norma dan tatanan sosial), keterasingan, atau “budaya kemiskinan”, tidak juga dorongan mendukung politik kaum Islamis, tetapi lebih merupakan praktik “kehidupan informal” — sebuah eksistensi sosial yang ditandai dengan otonomi, kelenturan, dan pragmatisme, dimana upaya bertahan hidup dan pengembangan diri menduduki tempat utama. Kaum urban yang terpinggirkan ini secara pragmatis mendukung trend dan gerakan politik apa saja, baik dari kalangan pemerintah maupun kelompok oposisi, termasuk kelompok Islamis militan, sejauh mereka bisa memperjuangkan tujuan-tujuan pokoknya.

 

(Ideologi) Islamisme merujuk kepada berbagai ideologi dan gerakan yang, meskipun bervariasi, secara umum bertujuan membangun sebuah “tatanan Islam” — berbentuk negara berdasarkan agama, hukum-hukum Islam, maupun aneka aturan moral. Kepedulian membangun keadilan sosial dan memperbaiki kehidupan kaum miskin hanya bersifat sekunder dalam rangka membangun tatanan semacam itu.

 

Secara historis, Islamisme telah menjadi bahasa peneguhan diri untuk memobilisasi bagian besar kalangan kelas menengah yang berhasil yang merasa terpinggirkan oleh kekuatan ekonomi dan politik yang dominan, atau oleh berbagai proses budaya dalam masyarakat mereka, sedemikian rupa orang-orang yang memandang kegagalan modernitas melalui jalan kapitalisme maupun mimpi-mimpi kesejahteraan bersama yang dijanjikan sosialisme, menjadikan bahasa moralitas agama sebagai alat politik untuk mengganti keduanya.

 

Sementara itu, kalangan Islamis yang menempuh jalan bertahap dan reformis, seperti kelompok Muslim Brothers di sejumlah negara Arab, menempuh metode non-kekerasan dalam memobilisasi kalangan civil society — melalui aneka asosiasi pekerja profesional, Non-Govermental Organizations (NGOs), masjid-masjid lokal, dan berbagai kegiatan amal. Kecenderungan di kelompok kelompok militan, seperti Jamaah Islamiyah di Mesir, menggunakan perjuangan bersenjata untuk merebut kekuasaan negara mengikuti strategi perjuangan Kaum Komunis-Leninis. Mereka sering bergerak di bawah tanah di wilayah perkotaan, atau pertentanggan urban, dimana negara jarang hadir.

 

Kaum Islamis militan seperti gerakan Jamaah Islamiyah di Mesir mengikuti strategi perjuangan yang mirip gerilyawan kiri di Amerika Latin pada tahun 1960-an dan 1970-an. Tetapi mereka berbeda dengan trend kaum jihadis dewasa ini, seperti kelompok Al Qaeda. Jika Islamisme militan menampilkan gerakan politik yang beroperasi dalam wilayah negara kebangsaan dan menyasar negara-negara sekuler nasional, gerakan para jihadis bersifat transnasional baik dalam gagasan maupun operasinya dan secara mendasar menampilkan “gerakan etis.”

Pos terkait

banner 468x60