Ayo Jakarta! Kamu Bisa Punya Transportasi Manusiawi

Ada masa ketika bepergian di Jakarta bukan sekadar perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Bagi banyak orang, termasuk saya, perjalanan menuju kantor adalah perjuangan panjang yang membutuhkan tenaga, kesabaran, dan keberanian.

———-

Selama 25 tahun tinggal di Jakarta, saya menjadi saksi bagaimana wajah transportasi kota ini berubah. Saya mengalami masa ketika angkutan umum masih berjalan sendiri-sendiri, hingga hari ini ketika bus dan kereta telah menjadi bagian dari sistem yang lebih terintegrasi.

 

Datang sebagai anak daerah yang mencoba membangun kehidupan di Jakarta, saya melihat bahwa saat itu, transportasi publik belum semudah sekarang. Tidak ada aplikasi yang memberi tahu jadwal kendaraan. Tidak ada sistem perpindahan moda yang teratur. Juga tidak ada kepastian apakah perjalanan hari itu akan berlangsung nyaman atau penuh perjuangan.

 

Untuk pergi bekerja dari rumah saya di Pejaten, Pasar Minggu, menuju kantor di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, saya harus berganti kendaraan hingga empat kali. Saya harus berpindah dari satu bus ke bus lainnya. Menyesuaikan rute. Memperkirakan waktu. Saya pun harus selalu bersiap menghadapi kemungkinan terlambat dan berkeringat.

 

Bukan hanya tenaga yang terkuras. Biaya transportasi saat itu mengambil porsi besar dari penghasilan saya. Sekitar 30 persen gaji saya habis hanya untuk perjalanan menuju tempat kerja. Namun yang paling melelahkan bukan sekadar jumlah uang yang keluar. Yang berat adalah rasa tidak pasti setiap kali berdiri di pinggir jalan menunggu kendaraan datang.

 

Bus dan metromini saat itu sering penuh sesak, sama seperti saat ini di jam-jam sibuk. Kondisinya tidak selalu nyaman. Penumpang harus berhimpitan. Berdiri berdesakan. Bahkan sering kali tidak memiliki ruang aman untuk sekadar menjaga keseimbangan.

 

Ada satu pengalaman yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatan saya. Saat itu saya sedang hamil muda. Pagi itu, seperti biasa, saya harus berangkat bekerja. Di kawasan UKI Cawang, saya melihat bus menuju arah Tanjung Priok berjalan perlahan. Karena tidak ada halte yang jelas, bus tersebut tetap bergerak perlahan sambil mencari penumpang.

 

Saya mencoba mengejar. Dalam kondisi hamil muda, tubuh tentu tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ada rasa khawatir. Ada rasa takut. Tetapi kebutuhan untuk sampai ke kantor membuat saya tetap berjalan cepat mengejar bus tersebut.

 

Namun takdir berkata lain. Saat mengejar kendaraan itu, saya terjatuh.

 

Sebuah kejadian sederhana bagi orang lain, tetapi bagi seorang ibu yang sedang mengandung, itu menjadi momen yang sangat menakutkan. Ada kesedihan karena pada saat itu saya merasa harus mempertaruhkan keselamatan diri hanya untuk mengejar sebuah kendaraan umum.

 

Saya masih ingat perasaan itu. Sedih jika mengingatnya kembali.

 

Tidak ada sistem yang melindungi saya saat itu. Tidak ada ruang tunggu yang aman. Tidak ada kepastian bahwa seorang perempuan hamil akan mendapatkan tempat duduk atau perlakuan khusus.

 

Ketika akhirnya berhasil naik bus, ternyata kondisi di dalam jauh dari nyaman. Penumpang sudah penuh. Saya berdiri dekat pintu bus yang terbuka sambil berpegangan pada gagang pintu. Di belakang saya berdiri seorang perempuan muda.

 

Kami berdua berada dalam kondisi yang sangat berbahaya. Kami hanya bergantung pada kekuatan tangan agar tetap bertahan selama perjalanan. Angin jalanan menerpa wajah, kendaraan melaju, sementara pintu bus terbuka tepat di belakang kami.

 

Hari itu saya menyadari bahwa perjalanan menuju tempat kerja bukan hanya soal jarak. Bagi sebagian orang, perjalanan adalah perjuangan untuk bisa sampai dengan selamat.

 

Namun Jakarta tidak berhenti berubah.

 

Perlahan, wajah transportasi kota ini mulai berganti.

 

Kini, ketika saya bepergian di Jakarta, saya lebih sering menggunakan TransJakarta. Perbedaannya terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Bus nyaman, berpendingin udara, memiliki jalur yang lebih jelas, dan sistem pembayarannya sederhana.

 

Dengan tarif sekitar Rp3.500, masyarakat dapat bergerak melintasi Jakarta dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.

 

Kemudian hadir JakLingko yang semakin memperkuat konektivitas transportasi kota. Angkutan kota yang dulu dianggap sebagai moda pilihan terakhir kini menjadi bagian dari sistem yang lebih tertata.

 

Saya sering menikmati perjalanan dengan JakLingko ketika tidak sedang terburu-buru. Ada pengalaman sederhana yang menyenangkan. Duduk di dalam kendaraan kecil itu, saya bertemu berbagai wajah Jakarta.

 

Ada guru yang berangkat mengajar. Ada buruh cuci yang menuju tempat kerja. Ada pedagang kecil yang membawa barang dagangannya. Ada pula warga yang hanya ingin pergi mengunjungi keluarga atau menikmati waktu luang.

 

Di dalam kendaraan itu, Jakarta terasa lebih dekat.

 

Kita tidak selalu bertemu orang-orang dengan pakaian rapi atau penampilan sempurna. Tetapi justru dari sanalah kita melihat bahwa transportasi publik adalah ruang yang menyatukan semua orang.

 

Bagi masyarakat kecil, akses transportasi murah bukan sekadar fasilitas. Itu adalah kesempatan dan kemewahan. Seseorang yang tidak memiliki banyak uang tetap bisa pergi bekerja. Anak-anak tetap bisa menikmati ruang publik. Keluarga tetap bisa berwisata dengan biaya sederhana.

 

Saya kerap melihat anak-anak muda atau remaja menggunakan JakLingko saat hari libur. Mereka pergi ke taman, lapangan olahraga, atau tempat bermain di wilayah lain. Mereka menikmati Jakarta tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

 

Hal yang sama saya rasakan ketika melihat perubahan pada kereta rel Listrik (KRL). Dulu, naik KRL memiliki cerita perjuangan tersendiri. Kereta sering penuh dan belum berpendingin udara, dan banyak penumpang harus berdesakan. Ada kejadian pula bahwa kaki saya terinjak oleh penumpang lain, namun saya tak bisa melihat siapa yang menginjak kaki saya dikarenakan penuhnya kereta.

 

Saya masih ingat pula dengan Adam, petugas kebersihan di kantor kami, yang nyaris tiap hari terpaksa naik ke atap kereta karena ruang penumpang sudah terlalu penuh. Di atas memang terasa lebih lega, tetapi risikonya sangat besar. Tidak jarang penumpang mengalami kecelakaan akibat tersengat listrik kereta.

 

Kini, pemandangan seperti itu sudah menjadi kisah masa lalu. KRL telah berubah menjadi moda transportasi yang jauh lebih manusiawi. Kereta lebih nyaman, bersih, dan aman. Dengan biaya sekitar Rp7.000, seseorang dapat menikmati perjalanan dari Tanjung Priok hingga Bogor dalam waktu sekitar dua jam.

 

Bagi sebagian keluarga, KRL bahkan menjadi tiket untuk menikmati liburan murah. Keluarga, kelompok ibu-ibu, dan anak muda, memanfaatkan KRL untuk berjalan-jalan ke Bogor. Dengan uang Rp14.000 untuk perjalanan pulang pergi, mereka sudah memiliki kesempatan menikmati suasana kota lain.

 

Mereka kemudian bisa makan sederhana di sekitar stasiun Bogor dengan biaya terjangkau. Bahkan bagi ibu-ibu, perjalanan menjadi semakin hemat karena sering membawa bekal dari rumah.

 

Saya selalu tersenyum melihat mereka. Dengan tas berisi makanan, kacamata hitam, topi lebar, dan cerita yang tidak habis sepanjang perjalanan, mereka menikmati kebahagiaan sederhana di akhir pekan.

 

Saat ini, saya kembali mengingat perjalanan panjang Jakarta. Saya teringat masa ketika mengejar bus dalam kondisi hamil muda. Saya teringat rasa takut ketika jatuh di jalan. Saya teringat saat harus berdiri di pintu bus yang terbuka demi bisa sampai ke tempat kerja.

 

Transportasi publik Jakarta memang masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Tetapi perubahan yang terjadi tidak bisa dipungkiri.

 

Transportasi bukan hanya tentang kendaraan yang membawa manusia dari satu tempat ke tempat lain. Transportasi adalah tentang memberikan ruang aman bagi ibu hamil, kesempatan bagi pekerja kecil, kebebasan bagi anak muda, dan kebahagiaan sederhana bagi keluarga.

 

Setiap halte, setiap stasiun, dan setiap perjalanan menyimpan cerita manusia.

 

Saya adalah salah satu orang yang pernah merasakan beratnya perjalanan Jakarta di masa lalu. Karena itu, setiap kali duduk nyaman di dalam bus atau kereta hari ini, saya tidak hanya melihat sebuah kendaraan. Saya melihat sebuah perubahan.

 

Perubahan yang membuat Jakarta perlahan menjadi kota yang lebih ramah bagi semua orang.

 

Ayo Jakarta! Kamu Bisa Punya Transportasi Manusiawi.

Pos terkait

banner 468x60