Tim Promahadesa bersama siswa-siswi MIN 1 Jember melaksanakan kegiatan bersih-bersih di Sendang Tirta Amerta Rajasa. Kegiatan ini merupakan bagian lanjutan dari program kerja bertema “Cetak Alam, Rawat Bumi: Gerakan Wisata Bersih”yang bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan kelestarian tempat wisata sejak dini.
Rangkaian acara dimulai dengan penjelasan materi singkat kepada siswa mengenai Sendang Tirta Amerta Rajasa. Para siswa diperkenalkan pada nilai penting sendang sebagai salah satu bagian dari lingkungan yang perlu dijaga kebersihan, keindahan, dan kelestariannya. Penjelasan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan sekaligus membangun rasa tanggung jawab siswa terhadap lingkungan sekitar.
Memasuki sesi berikutnya, kegiatan dilanjutkan dengan aksi bersih-bersih di sekitar sendang. Dengan didampingi oleh Tim Promahadesa, seluruh siswa menyapu daun-daun kering yang berada di pinggiran sendang. Mereka juga ikut mengumpulkan daun kering yang mengapung di dalam sendang. Seluruh sampah yang telah dikumpulkan selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong sampah agar memudahkan dalam proses pengelolaan serta pembuangan.
Suasana tampak meriah, sebab kegiatan berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme. Setelah aksi bersih-bersih selesai, para siswa istirahat sejenak sambil menikmati snack dan air yang telah disediakan. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara Tim Promahadesa dan siswa-siswi MI 1 Jember. Setelah itu, para siswa kembali ke sekolah dengan tertib.
Melalui kegiatan “Cetak Alam, Rawat Bumi: Gerakan Wisata Bersih”, diharapkan tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dan kelestarian Sendang Tirta Amerta Rajasa. Selain itu, diharapkan kegiatan ini menjadi contoh bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk dari kalangan generasi muda. Dengan lingkungan yang bersih dan terawat, Sendang Tirta Amerta Rajasa dapat terus menjadi tempat wisata yang nyaman, indah, dan bermanfaat bagi warga sekitar.
Kadissah: Desa Arjasa Berhenti Sejenak untuk Bersyukur
Ada satu hari dalam setahun ketika denyut Desa Arjasa, Kabupaten Jember, terasa berbeda. Jalan-jalan dusun dipadati warga berbondong-bondong, aroma tumpeng dan hidangan syukuran memenuhi udara, dan gemuruh musik menggema hingga ke penjuru desa. Hari itu adalah Kadissah atau selametan desa yang telah diwariskan turun-temurun dan menjadi identitas Desa Arjasa sebagai kampung adat tertua di wilayah utara Jember.

Kadissah merupakan salah satu tradisi yang mencerminkan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Desa Arjasa. Dalam penerapannya, unsur kearifan lokal berpadu dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat umumnya berkumpul untuk melaksanakan doa bersama, membaca sholawat, serta diba’iyyah atau Barzanji. Berbagai jenis makanan dan sumbangan yang disediakan oleh masyarakat menjadi tanda terima kasih terhadap keselamatan, keberkahan, serta perlindungan yang diberikan oleh Allah Swt.
Lebih dari sekadar acara tahunan, Kadissah menjadi kesempatan untuk memperkuat kerja sama antar warga. Warga saling berkolaborasi dalam mengatur acara, menyajikan makanan, memastikan kegiatan berjalan lancar, serta menyambut para tamu yang hadir. Anak-anak, para pemuda, tokoh masyarakat, serta para sesepuh desa berkumpul dalam suasana yang penuh keakraban.
Nilai kebersamaan tersebut membuat Kadissah tetap relevan bagi generasi masa kini. Tradisi ini mengajarkan bahwa budaya tidak hanya perlu diingat, tetapi juga dipahami, dilindungi, dan dilestarikan. Dengan melibatkan generasi muda, diharapkan acara Kadissah tidak hanya berupa seremoni semata, tetapi terus berperan sebagai sarana pendidikan budaya serta pengenalan nilai-nilai sosial.
Pelaksanaan Kadissah juga membantu memperkuat peran Desa Arjasa sebagai sebuah desa wisata yang berbasis pada adat istiadat dan edukasi. Selain memiliki seni Ta’butha’an, Desa Arjasa juga dikenal karena memiliki warisan budaya yang dilindungi, keindahan alam, serta tradisi lokal yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat.
Dengan penuh rasa syukur, doa, dan gotong royong, Kadissah terus dijaga sebagai warisan budaya Desa Arjasa. Semoga tradisi tahunan ini terus menjadi pengikat persaudaraan warga, sumber kebanggaan bagi masyarakat, serta warisan berharga yang dapat dinikmati dan dipelajari oleh generasi muda berikutnya.



