JEMBER, Jumat pagi (31/7/2026) menjadi lembaran baru bagi MI Negeri 1 Jember. Halaman madrasah yang biasanya sunyi oleh tembok kelas dan deretan meja kayu, pagi itu berubah menjadi laboratorium kreativitas. Puluhan siswa kelas 6 dengan semangat membawa dedaunan dan bunga dari pekarangan rumah mereka masing-masing, sementara Tim Promahadesa CANDI DESA (Ciptakan Aksi Nyata Desa Inspiratif) Arjasa telah menyiapkan segalanya di halaman madrasah sejak pukul sembilan pagi. Acara bertajuk “Cetak Alam, Rawat Bumi” ini menjadi wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, sekaligus menjembatani dunia pendidikan formal dengan kearifan lokal yang ramah lingkungan.
Kegiatan yang mengusung pendekatan happy learning dan interactive study ini dimulai dengan persiapan alat dan bahan. Terpal terpal disusun rapi, dilengkapi dengan papan kayu telenan sebagai alas, palu atau ulekan, dan plastik bening. Puluhan tote bag berbahan kanvas polos tergantung rapi, menunggu tangan kecil siswa siswi yang akan mengubahnya menjadi karya seni bermakna. Daun dan bunga segar yang dibawa siswa mulai dari daun pakis, daun singkong, daun jati kecil, hingga bunga kenikir dan kembang sepatu turut memeriahkan meja persiapan.
Pukul 12.30 siang, setelah shalat Jumat berjamaah, kegiatan resmi dibuka. Adit dan Faqih selaku perwakilan Tim Promahadesa menyampaikan sambutan singkat di hadapan para siswa dan guru pendamping. Adit menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pihak madrasah yang telah membuka pintu lebar-lebar bagi kedatangan tim. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar program pengabdian, melainkan momen untuk belajar dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak.
Memasuki sesi inti, Tim Promahadesa memberikan pemaparan materi dengan bahasa yang sederhana dan ringan. Anak-anak diajak memahami bahwa ecoprint adalah teknik mencetak motif pada kain dengan memanfaatkan daun atau bunga asli tanpa menggunakan cat maupun tinta buatan. Mereka juga diajak menyadari bahwa alam telah menyediakan kekayaan yang luar biasa, tinggal bagaimana manusia mau melihat dan mengolahnya. Materi ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran cinta lingkungan sejak dini, sebuah nilai yang tak kalah penting dari sekadar keterampilan teknis.
Pukul 12.55, sesi praktik dimulai. Para siswa dibagi ke dalam tujuh kelompok kecil, masing-masing didampingi oleh satu anggota Tim Promahadesa. Nama-nama seperti Arkan, Arsyilla, Azzahra, Muhammad Amin Sholeh, hingga Siti Nur Alika terlihat serius menata dedaunan di atas permukaan tote bag sesuai imajinasi masing-masing. Ada yang menyusun membentuk pola bunga, ada pula yang merangkai secara abstrak. Suasana menjadi riuh rendah, diiringi tawa dan celoteh anak-anak yang tampak menikmati setiap proses. Setelah daun tertata rapi, plastik bening menutupi susunan tersebut agar posisinya tidak bergeser saat dipukul.
Proses pemukulan (pounding) pun dimulai. Suara palu kayu dan ulekan cobek berbunyi tidak beraturan di seluruh penjuru halaman, menciptakan semacam simfoni sederhana yang dimainkan oleh empat puluh anak kecil. Mereka memukul dengan sabar, dimulai dari bagian tengah daun menuju ke tepi, hingga warna dan getah daun mulai membekas di atas kain kanvas. Wajah-wajah polos itu tampak berkonsentrasi penuh, sesekali tersenyum bangga ketika motif mulai terlihat jelas. Proses ini berlangsung sekitar setengah jam.
Pukul 13.45, seluruh siswa dikumpulkan kembali. Sesi foto bersama menjadi puncak acara yang penuh kebahagiaan. Dibarengi dengan memegang sebotol kecil Cleo, mereka berjejer dengan bangga memegang tote bag hasil karya masing-masing. Senyum lebar terpancar dari wajah-wajah polos itu. Ada yang langsung mengenakan tote bag di lengannya, ada pula yang menggenggamnya erat-erat seolah harta karun. Seruan dan teriakan mungil seperti “Asyik boleh dibawa pulang!”, “Seru banget kak!”, dan “Besok datang lagi ya kak!” menjadi hadiah paling berharga yang tak ternilai harganya. Suasana haru menyelimuti ketika seluruh siswa kompak berteriak “Terima kasih banyak ya kak!” kepada Tim Promahadesa. Setelah anak-anak pulang dengan senyum dan tote bag di tangan, tim bergerak cepat membersihkan lokasi. Alas terpal dikembalikan ke tempatnya, sisa-sisa daun dan bunga dikumpulkan lalu di buang ketempat sampah. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab, sejalan dengan semangat “Rawat Bumi” yang diusung sejak awal.



