JEMBER, Tim Promahadesa CANDI DESA (Ciptakan Aksi Nyata Desa Inspiratif) Arjasa terus bergerak menggali potensi desa. Tim kembali melakukan pendekatan kuliner dengan menyambangi rumah produksi Nasi Gudug sekaligus bersilaturahmi dengan Mbak Yun, yang merupakan penggiat dan pelestari Nasi Gudug. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemetaan dan branding Desa Arjasa sebagai desa adat yang kaya akan wisata historis dan kuliner.
Salah satu temuan menarik dari kunjungan kali ini adalah cerita di balik hidangan Nasi Gudug. Kuliner khas Arjasa ini memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dengan masakan sejenis. “Nasi Gudug sendiri itu sayur Gudug yang bener daun dempol, bahan bakunya daging sapi, dibumbu rempah, dipadu sama daun Gempol itu sayuran. Kalo ga pake daun Gempol itu kayak lodeh biasa,” ujar Mbak Yun saat ditemui tim di kediamannya, (30/7/2026).
Daun Gempol, atau dalam istilah lokal Jemberan disebut kolpoh, menjadi ciri khas utama yang memberikan cita rasa autentik pada Nasi Gudug. Hidangan ini tergolong makanan kuno yang sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun-temurun. “Sebenernya makanan udah dari dulu, cuma banyak diabaikan. Masakannya sudah turun temurun termasuk makanan kuno dirintis sejak tahun 2024 sudah vakum lama namun diangkat kembali tahun 2024,” jelasnya.
Selain Nasi Gudug, tim juga mendalami cerita tentang Soto Essoh Paitan, kuliner ekstrim khas Arjasa. “Soto essoh paitan, masakan ekstrim karena dari jeroan sapi, pake empedu sapi. Nanti diolah dicampur dengan itu. Ada paitnya dua-duanya ciri khasnya,” ungkapnya. Soto ini disantap dengan nasi ketan, dan uniknya, cara makannya tidak dituang melainkan dimakan terpisah. “Soto essoh paitan dimakan sama nasi ketan yang sepuh-sepuh, kalau makan tidak di tuang, makan soto dulu baru nasi, emang ada pahitnya dikit. Dan bedanya dengan soto biasa itu pake santen dan empedu, juga ada trik sendiri biar ga baik ga amis,” tambahnya.
Kedua kuliner ini, Nasi Gudug dan Soto Essoh Paitan, menjadi kebanggaan masyarakat Arjasa. Niat ke depan adalah membuat hidangan ini dihidangkan dalam berbagai even dan untuk tamu-tamu penting. “Niatnya bikin aja, tapi dibuat event-event dan kalau ada tamu tamu penting bisa dihidangkan,” katanya. Proses pembuatan Nasi Gudug terbilang memakan waktu, terutama pada bagian daging sapinya. “Yang lama dari daging sapinya, kalau manual 2 jam kalau presto bisa cepat. Baru nanti digabung sama sayurnya jadi masaknya dibedakan,” jelasnya.
Antusiasme masyarakat terhadap Nasi Gudug cukup tinggi. Kuliner ini pernah diangkat dalam berbagai kesempatan, termasuk saat acara Hyang Argopuro Festival yang diikuti oleh 28 UMKM Desa Arjasa. “Sesudah acara Hyang, ada kesempatan ngangkat, terus ikut digipop di Lippo kena di Lippo, ketika diangkat keluar banyak yang suka apalagi bapak-bapak. Pernah juga ke pariwisata provinsi, Arum Sabil, banyak juga peminatnya. Di Java lotus juga launching JFC itu 2024 nasi Gudug itu,” paparnya. Bahkan, mahasiswa Unair Surabaya pernah membuat profil tentang Soto Essoh. Saat ini, Nasi Gudug juga telah didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Pokdarwis Arjasa
Sesudah sowan ke kediaman Mbak Yun, Tim Promahadesa juga menyempatkan diri untuk membahas persiapan Acara Ecoprinting ke MI Negeri 1 Jember. Trial and error serta kajian teknis lapangan hadir dalam relung relung diskusi mengenai kesiapan acara untuk hari Jumat 31 Juli 2026, tak lupa pihak Tim Promahadesa menjalin komunikasi yang jelas kepada pihak MI untuk menggurangi potensi misskomunikasi dan kesalahan kesalahan teknis lapngan. Kegiatan ecoprinting dipilih karena kepraktisan dan bahan bahannya yang mudah dijumpai, serta untuk memaksimalkan mata Pelajaran prakarya yang ditempuh anak anak kelas 6. Kegiatan menjadi bagian dari strategi kolaborasi antara Promahadesa, institusi pendidikan, dan untuk memupuk kreativitas murid kelas 6 MI Negeri 1 Jember. Sinergi ini diharapkan mampu memperkenalkan kekayaan kuliner dan budaya Arjasa kepada generasi muda, sekaligus mendorong pengembangan pariwisata berbasis sejarah dan budaya di Desa Arjasa.



