Siapa yang masih membaca “Eros and Civilization” karya Herbert Marcuse setelah lebih dari 50 tahun kemudian?
Jika boleh disebutkan, mungkin sumbangan terbesar Herbert Marcuse melalui “Eros and Civilization” adalah mengaktualkan kembali Psikoanalisa Sigmund Freud saat menggunakannya untuk memotret salah satu krisis terberat yang dihadapi masyarakat kapitalis di Amerika Serikat pada dekade 1960-an: Perang Vietnam, maraknya gerakan hak-hak sipil, anak-anak muda yang mempertanyakan tatanan sosial yang makmur tetapi tidak adil serta protes terhadap nilai-nilai mapan yang dipegang generasi orangtua mereka. Di tengah perdebatan apakah psikoanalisa masih bisa membaca perkembangan masyarakat Barat yang sangat pesat, yang pertumbuhannya dipicu oleh kapitalisme, Marcuse menggunakan konsep-konsep dasar Freud dalam membaca krisis besar yang dialami masyarakat industri yang maju dan makmur atau berlimpah secara materi (affluent society). Krisis itu tergambar dari pertanyaan, diantaranya, “mengapa affluent society dengan pencapaian welfare yang luar biasa ternyata memerlukan ongkos kemanusiaan (human cost) yang mahal yang harus ditanggung bangsa lain, dan hanya bisa tegak dengan melakukan dominasi permanen kelas kapitalis terhadap kelas lain.”
Herbert Marcuse setidaknya ingin menghadirkan gagasan bahwa masyarakat industri modern sebenarnya bisa hidup selaras dan seimbang dengan mengharmoniskan hubungan antara instink kehidupan dan perjuangan melawan para penebar kematian. Ia memulai kajiannya dengan menggunakan titik penting dari pemikiran Freud dalam “Civilization and Its Discontent”. Freud mengatakan bahwa “Peradaban kita, secara umum, dibangun di atas pengekangan terhadap instink” (our civilization is, generally speaking, founded on the suppression of instincts). Seks memproduksi energi, dan ia terkekang sehingga energinya bisa disalurkan menjadi sumber kemajuan. Tetapi ongkos untuk kemajuan kerap berupa ikatan akan rasa bersalah selain rasa bahagia. Bagi Marcuse, di dalam progress atau kemajuan senantiasa terkandung pengorbanan.
Marcuse juga menekankan bahwa konflik yang tidak terdamaikan tidaklah terjadi antara kerja (Reality Principle/ Life without Leisure) dan Eros (Pleasure Principle/ Leisure and Pleasure), tapi antara tenaga kerja yang terasing/ teralienasi (Performance Principle/ Economic Stratification) dan Eros. Sex dimungkinkan sebagai instrumen untuk membuat keadaan menjadi lebih baik, bagi para kapitalis maupun mereka yang menduduki kekuasaan, juga bagi para pekerja yang memerlukan kegiatan produksi dengan tertib, lancar dan terkelola dengan baik.
Marcuse percaya bahwa sosialisme bisa dicapai tanpa memerlukan peranan orang “miskin” dan pengekangan hasrat seksual yang berlebihan. Kata Marcuse:
It could replace “alienated labor” with “non-alienated libidinal work” resulting in “a non-repressive civilization based on ‘non-repressive sublimation’”
(“Tenaga kerja yang terasing” bisa digantikan dengan “kerja libidinal yang tidak terasing” yang dihasilkan dari “peradaban non-represif berbasis pengekangan yang tidak represif”)
Masalahnya adalah, adakah masyarakat selembut itu, terutama dalam masyarakat kapitalis yang jelas-jelas melembagakan kompetisi, penindasan dan eksploitasi…
Herbert Marcuse dalam “Kata Pengantar Politik tahun 1966” untuk Eros and Civilization sedikit lebih optimistis memandangnya. Tetapi ia memberi pesan yang sangat jelas, bahwa “Hari ini, perjuangan untuk hidup, perjuangan untuk Eros, adalah perjuangan politik!”
Mungkin Herbert Marcuse, filsuf politik Jerman-Amerika dan tokoh terkemuka Mazhab Frankfurt dalam teori kritis, memang benar. Melalui politiklah psikoanalisa menemukan kembali salah satu sumber dinamika terbesarnya di abad ke-21.



