HERBERT MARCUSE DAN “EROS AND CIVILIZATION”  (BAGIAN 2) 

Kata Pengantar Politik yang ditulis Herbert Marcus pada tahun 1966 (Political Preface 1966) untuk “Eros and Civilization” menjadi sangat terkenal dan dianggap sukses mengenalkan idenya dengan cara lebih sederhana dan mampu menjangkau publik yang lebih luas. Political Preface 1966 saya ALIHBAHASAKAN di sini biar bisa menjadi bacaan temen-temen sekalian sambil menikmati segelas kopi hangat, atau coklat hangat, atau ice lemon tea …. May it brings with it “great knowledge” for all of us.

 

————————–

 

POLITICAL PREFACE 1966

 

(1)

EROS AND CIVILIZATION: the title expressed an optimistic , euphemistic, even positive thought, namely, that the achievements of advanced industrial society would enable man to reverse the direction of progress, to break the fatal union of productivity and destruction, liberty and repression — in other words, to learn the gay science (gaya sciencia) of how to use the social wealth for shaping man’s world in accordance with his Life Instincts, in the concerted struggle against the purveyors of Death. This optimism was based on the assumption that the rationale for the continued acceptance of domination no longer prevailed, that scarcity and the need for toil were only “artificially” perpetuated – – in the interest of preserving the system of domination. I neglected or minimized the fact that this “obsolescent” rationale had been vastly strengthened (if not replaced) by even more efficient forms of social control.

 

EROS and CIVILIZATION: judul ini mengungkapkan sebuah pemikiran optimistis, eufimistis dan bahkan positif bahwa aneka prestasi masyarakat industri maju memungkinkan manusia untuk membalikkan arah kemajuan, memutus ikatan fatal antara produktivitas dan penghancuran, kebebasan dan penindasan – dengan kata lain, belajar ilmu pengetahuan gay (gaya sciencia) tentang bagaimana menggunakan kekayaan material masyarakat untuk membentuk dunia kaum laki-laki sejalan dengan instink kehidupannya, seirama dengan perjuangan melawan aneka penebar kematian. Optimisme ini berdasarkan anggapan bahwa alasan rasional untuk menerima kelanjutan dominasi tidak lagi berjalan, bahwa kelangkaan dan keperluan akan kerja yang memperbudak hanya terjadi secara artifisial, yang bertujuan demi kelangsungan sistem dominasi. Saya mengabaikan atau meminimalisir fakta bahwa rasionalitas yang sudah usang ini sebagian besar dipertahankan (jika tidak diganti) dengan beragam bentuk kontrol sosial yang lebih efisien.

 

(2)

The very forces which rendered society capable of pacifying the struggle for existence served to repress in the individuals the need for such a liberation. Where the high standard of living does not suffice for reconciling the people with their life and their rulers, the “social engineering” of the soul and the “science of human relations” provide the necessary libidinal cathexis. In the affluent society, the authorities are hardly forced to justify their dominion . They deliver the goods; they satisfy the sexual and the aggressive energy of their subjects. Like the unconscious, the destructive power of which they so successfully represent, they are this side of good and evil, and the principle of contradiction has no place in their logic.

 

Kekuatan-kekuatan utama yang menjadikan masyarakat sanggup meredam perjuangan eksistensinya ditujukan untuk menekan para individu yang memerlukan kebebasan seperti yang telah saya uraikan. Dimana standar hidup yang tinggi tidak cukup untuk mendamaikan orang dengan hidupnya dan para penguasanya, maka “rekayasa sosial” akan jiwa dan “ilmu pengetahuan tentang hubungan antar manusia” menjadi sarana penyedia saluran libidinal. Dalam masyarakat makmur, otoritas jarang menggunakan pemaksaan untuk membenarkan dominasi. Mereka menyediakan benda-benda, mereka memuaskan hasrat seksual dan energi agresif dari keinginan-keinginanya. Seperti alam bawah sadar, kekuatan destruktif yang sangat sukses mereka tampilkan menunjukkan di situlah letaknya baik dan jahat, dan prinsip pertentangan tidak mendapat tempat dalam logika mereka.

 

(3)

As the affluence of society depends increasingly on the uninterrupted production and consumption of waste, gadgets, planned obsolescence, and means of destruction, the individuals have to be adapted to these requirements in more than the traditional ways.

 

Ketika masyarakat makmur secara bertahap bergantung pada produksi dan konsumsi tak putus-putusnya berupa sampah, gawai, gaya hidup kuno yang terencana, dan alat-alat perusak, maka para individu harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini lebih dari sekadar cara tradisional mereka.

 

(4)

The “economic whip,” even in its most refined forms, seems no longer adequate to insure the continuation of the struggle for existence in today’s outdated organization, nor do the laws and patriotism seem adequate to insure active popular support for the ever more dangerous expansion of the system. Scientific management of instinctual needs has long since become a vital factor in the reproduction of the system: merchandise which has to be bought and used is made into objects of the libido; and the national Enemy who has to be fought and hated is distorted and inflated to such an extent that he can activate and satisfy aggressiveness in the depth dimension of the unconscious. Mass democracy provides the political paraphernalia for effectuating this introjection of the Reality Principle; it not only permits the people (up to a point) to chose their own masters and to participate (up to a point) in the government which governs them — it also allows the masters to disappear behind the technological veil of the productive and destructive apparatus which they control, and it conceals the human (and material) costs of the benefits and comforts which it bestows upon those who collaborate. The people, efficiently manipulated and organized, are free; ignorance and impotence , introjected heteronomy is the price of their freedom.

 

“Cambuk ekonomi”, bahkan dalam bentuknya yang paling murni, tampak tak sanggup lagi menjamin kelangsungan perjuangan eksistensi dalam organisasi kuno hari ini, tidak juga aneka hukum dan patriotisme secara memadai sanggup menjamin dukungan populer yang aktif terhadap ekspansi sistem yang makin membahayakan. Manajemen ilmiah terhadap kebutuhan instinktif menjadi panjang sejak menjadi faktor utama dalam reproduksi sistem: merchandise yang wajib dibeli dan digunakan dibuat sebagai objek libido, dan musuh nasional yang harus dilawan dan dibenci terdistorsi dan tergelembungkan sedemikian luasnya sehingga dia bisa mengaktifkan dan memuaskan agresivitas sedalam luasnya dimensi alam bawah sadar. Demokrasi massa menyediakan perlengkapan politik untuk mengefektifkan adopsi secara tidak sadar dari prinsip realitas; demokrasi tidak hanya mengijinkan orang-orang memilih penguasa untuk dirinya dan berpartisipasi dalam pemerintahan yang mengatur hidup mereka, lebih jauh lagi demokrasi juga mengijinkan para penguasa menghilang di balik selubung teknologis dari aparatus produktif dan destruktif yang mereka kendalikan, dan demokrasi meminta biaya kemanusiaan dari aneka keuntungan dan kesenangan yang dipersembahkan kepada semua yang terlibat dalam kerjasama. Orang-orang, secara efisien dimanipulasi dan diatur, merasa dirinya bebas; (meskipun sesungguhnya menjadi) bodoh dan tidak berdaya, dan menerima dominasi dari kekuatan di luar diri mereka adalah harga yang harus dibayar untuk kebebasannya.

 

(5)

It makes no sense to talk about liberation to free men — and we are free if we do not belong to the oppressed minority. And it makes no sense to talk about surplus repression when men and women enjoy more sexual liberty than ever before. But the truth is that this freedom and satisfaction are transforming the earth into hell. The inferno is still concentrated in certain far away places: Vietnam, the Congo, South Africa, and in the ghettos of the “affluent society”: in Mississippi and Alabama, in Harlem. These infernal places illuminate the whole. It is easy and sensible to see in them only pockets of poverty and misery in a growing society capable of eliminating them gradually and without a catastrophe. This interpretation may even be realistic and correct. The question is: eliminated at what cost — not in dollars and cents, but in human lives and in human freedom?

 

Tidak masuk akal membincangkan kebebasan untuk memerdekakan manusia – kita bebas jika kita tidak menjadi minoritas yang tertindas. Tidak masuk akal membebaskan surplus penindasan (surplus repression) ketika pria dan wanita bisa menikmati kebebasan seksual lebih banyak dibanding sebelumnya. Tetapi kebenaran yang sesunguhnya adalah kebebasan dan kepuasan ini merubah bumi menjadi neraka. Neraka memang masih berada di tempat yang jauh: Vietnam, Congo, Afrika Selatan, dan di berbagai ghetto dari “masyarakat makmur”, seperti di Mississippi dan Alabama, juga di Harlem. Tempat-tempat seperti neraka ini menerangi semua orang. Cukup mudah dan bisa dirasakan menyaksikan mereka berada dalam kemiskinan dan kemalangan, dan ada di tengah masyarakat yang secara bertahap mampu mengangkat kehidupan mereka tanpa melalui malapetaka. Penafsiran ini mungkin realistis dan tepat. Pertanyaannya adalah: menghapus kemiskinan dan kemalangan itu memerlukan ongkos, tidak dalam dolar atau sen, melainkan seberapa besar diperlukan ongkos manusia (human cost) dan kebebasan manusia?

 

(6)

I hesitate to use the word — freedom — because it is precisely in the name of freedom that crimes against humanity are being perpetrated. This situation is certainly not new in history: poverty and exploitation were products of economic freedom; time and again, people were liberated all over the globe by their lords and masters, and their new liberty turned out to be submission, not to the rule of law but to the rule of the law of the others. What started as subjection by force soon became “voluntary servitude,” collaboration in reproducing a society which made servitude increasingly rewarding and palatable. The reproduction, bigger and better, of the same ways of life came to mean, ever more clearly and consciously, the closing of those other possible ways of life which could do away with the serfs and the masters, with the productivity of repression.

 

Saya ragu menggunakan kata kebebasan karena atas nama kebebasan berbagai kejahatan terhadap kemanusiaan terus berlangsung. Situasi ini tentu saja tidak baru dalam sejarah: kejahatan dan eksploitasi adalah buah dari kebebasan ekonomi; waktu dan sekali lagi ketika orang-orang sedunia merasa dibebaskan oleh para tuan dan majikan mereka, ternyata kebebasan baru yang mereka miliki akhirnya jatuh menjadi penghambaan, bukan pada aturan hukum, tetapi pada aturan hukum yang dibuat orang lain. Apa yang semula berbentuk penundukan berdasarkan kekuasaan berubah menjadi “penghambaan sukarela”, berbentuk kerjasama menciptakan masyarakat yang menjadikan penghambaan semakin dihargai dan menyenangkan. Reproduksi penghambaan ini, semakin besar dan semakin baik, menjadi cara hidup yang dikehendaki, semakin jelas dan dengan sadar, menutup cara kehidupan lainnya yang jauh dari cara hidup tuan dan hamba, dan merupakan hasil dari penindasan.

 

(7)

Today, this union of freedom and servitude has become “natural” and a vehicle of progress. Prosperity appears more and more as the prerequisite and by-product of a self-propelling productivity ever seeking new outlets for consumption and for destruction, in outer and inner space, while being restrained from “overflowing” into the areas of misery — at home and abroad. As against this amalgam of liberty and aggression, production and destruction, the image of human freedom is dislocated: it becomes the project of the subversion of this sort of progress. Liberation of the instinctual needs for peace and quiet, of the “asocial” autonomous Eros presupposes liberation from repressive affluence: a reversal in the direction of progress.

 

Hari ini, penyatuan antara kebebasan dan penghambaan telah menjadi “natural” dan menjadi kendaraan menuju kemajuan. Kemakmuran makin lama makin menjadi persyaratan maupun akibat sampingan dari sebuah produktivitas yang bergerak mandiri, yang mencari saluran-saluran baru untuk konsumsi dan destruksi, di luar maupun di dalam ruang (kehidupan), sementara kemakmuran dengan “arusnya yang berlimpah” itu justeru dikekang saat hendak mengalir ke berbagai wilayah yang malang, di dalam maupun di luar negeri.

 

(8)

It was the thesis of EROS AND CIVILIZATION, more fully developed in my ONE-DIMENSIONAL MAN, that man could avoid the fate of a Welfare-Through-Warfare State only by achieving a new starting point where he could reconstruct the productive apparatus without that “innerworldly asceticism” which provided the mental basis for domination and exploration. This image of man was the determinate negation of Nietzsche’s superman: man intelligent enough and healthy enough to dispense with all heros and heroic virtues, man without the impulse to live dangerously, to meet the challenge; man with the good conscience to make life an end-initself, to live in joy a life without fear.

 

Itulah tesis Eros and Civilization, makin berkembang dalam buku saya “One-Dimensional Man”, bahwa manusia sanggup menghindari takdir “Negara Kesejahteraan melalui Peperangan” hanya dengan melalui pencapaian titik awal baru dimana dia bisa membentuk ulang aparatus produktif tanpa melalui “asketisisme fantasi ciptaan dunia batin” yang menjadi basis mental bagi dominasi dan eksplorasi. Citra manusia macam ini adalah negasi yang tepat dari Manusia Super-nya Nietzsche, yaitu manusia cukup cerdas dan cukup sehat untuk hidup tanpa kebajikan para pahlawan dan mereka yang bertindak heroik, manusia yang tak berniat untuk hidup menyerempet bahaya, menghampiri tantangan; manusia dengan akal budi yang baik menjadikan hidup sebagai tujuan (life an end itself), menjalani hidup dalam sukacita tanpa rasa takut.

 

(9)

“Polymorphous sexuality” was the term which I used to indicate that the new direction of progress would depend completely on the opportunity to activate repressed or arrested organic, biological needs: to make the human body an instrument of pleasure rather than labor. The old formula, the development of prevailing needs and faculties, seemed to be inadequate; the emergence of new, qualitatively different needs and faculties seemed to be the prerequisite, the content of liberation.

 

“Berbagai bentuk penghayatan seksualitas” adalah istilah yang saya gunakan untuk menunjukkan bahwa arah baru dari kemajuan akan sepenuhnya bergantung pada kesempatan mengaktifkan organ yang tertindas dan terpenjara, berupa aneka kebutuhan biologis: menjadikan tubuh manusia sebagai instrumen kesenangan tinimbang sebagai instrumen kerja. Formula kuno tentang pengembangan aneka keperluan dan cabang-cabangnya terasa tidak lagi memadai. Munculnya aneka keperluan dan cabang-cabangnya yang baru dan secara kualitatif berbeda tampaknya menjadi persyaratan sekaligus isi dari pembebasan.

 

(10)

The idea of such a new Reality Principle was based on the assumption that the material (technical) preconditions for its development were either established, or could be established in the advanced industrial societies of our time. It was self-understood that the translation of technical capabilities into reality would mean a revolution. But the very scope and effectiveness of the democratic introjection have suppressed the historical subject, the agent of revolution: free people are not in need of liberation, and the oppressed are not strong enough to liberate themselves. These conditions redefine the concept of Utopia: liberation is the most realistic, the most concrete of all historical possibilities and at the same time the most rationally and effectively repressed — the most abstract and remote possibility.No philosophy, no theory can undo the democratic introjection of the masters into their subjects.

 

Ide tentang Prinsip Realitas yang baru ini berlandaskan asumsi bahwa berbagai prakondisi yang bersifat material (teknikal) bagi perkembangannya telah terbangun, atau bisa dibangun dalam masyarakat industri maju pada masa kita. Telah menjadi pemahaman pribadi bahwa penerjemahan dari kemampuan teknik menjadi kenyataan akan bermakna sebuah revolusi. Tetapi lingkup dan keefektifan penghayatan demokratik telah menekan subyek sejarah, yaitu pelaku revolusi: orang merdeka tidak memerlukan pembebasan, dan orang yang tertindas tidak cukup kuat untuk membebaskan dirinya sendiri. Keadaan-keadaan seperti ini mendefiniskan ulang konsep Utopia: pembebasan adalah hal yang paling realistis, yang paling konkret dari seluruh kemungkinan sejarah, dan pada saat yang sama yang paling rasional sekaligus paling tertindas, berupa kemungkinan yang paling abstrak sekaligus paling jauh. Tidak ada filsafat, juga tidak ada teori dapat membatalkan penghayatan demokratik para tuan dalam subyek pembahasannya.

 

(11)

When, in the more or less affluent societies, productivity has reached a level at which the masses participate in its benefits, and at which the opposition is effectively and democratically “contained,” then the conflict between master and slave is also effectively contained. Or rather it has changed its social location. It exists, and explodes, in the revolt of the backward countries against the intolerable heritage of colonialism and its prolongation by neo-colonialism . The Marxian concept stipulated that only those who were free from the blessings of capitalism could possibly change it into a free society: those whose existence was the very negation of capitalist property could become the historical agents of liberation. In the international arena, the Marxian concept regains its full validity. To the degree to which the exploitative societies have become global powers, to the degree to which the new independent nations have become the battlefield of their interests, the “external” forces of rebellion have ceased to be extraneous forces : they are the enemy within the system. This does not make these rebels the messengers of humanity. By themselves, they are not (as little as the Marxian proletariat was) the representatives of freedom. Here too, the Marxian concept applies according to which the international proletariat would get its intellectual armor from outside: the “lightning of thought” would strike the “naiven Volksboden.” Grandiose ideas about the union of theory and practice do injustice to the feeble beginnings of such a union. Yet the revolt in the backward countries has found a response in the advanced countries where youth is in protest against repression in affluence and war abroad.

 

Ketika produksi, baik dalam masyarakat makmur atau kurang makmur, telah mencapai tingkat dimana massa ikut mengambil bagian dari keuntungan yang dihasilkannya, dan mereka yang beroposisi secara efektif dan demokratis “dikekang”, maka konflik antara tuan dan hamba juga secara efektif akan dikekang. Atau, konflik akan berpindah lokasi sosialnya. Konflik akan maujud dan meledak di berbagai negara yang terbelakang menentang warisan kolonialisme yang tak bisa ditoleransi, dan perpanjangan konflik itu melalui neo-kolonialisme. Konsep Marxian yang menegaskan hanya mereka yang terbebas dari kapitalisme yang memiliki kemungkinan menciptakan masyarakat bebas: mereka yang eksistensinya merupakan negasi dari properti kaum kapitalis bisa menjadi agen atau pelaku historis dari pembebasan. Dalam arena internasional, konsep Marxian ini kembali mendapatkan validitas penuh. Pada tingkat dimana berbagai kelompok masyarakat tertindas telah menjadi kekuatan global, pada tingkat dimana bangsa-bangsa yang baru merdeka menjadi palagan tempur kepentingan-kepentingan mereka, kekuatan-kekuatan “eksternal” yang memberontak telah berhenti menjadi kekuatan yang berada di luar: mereka telah menjadi musuh dalam sistem. Ini tidak menjadikan para pemberontak para utusan umat manusia. Dengan diri mereka sendiri, mereka bukanlah (sekecil apapun seorang proletariat Marxian) representasi kemerdekaan. Juga di sini, konsep Marxian terwujud bilamana kaum proletariat internasional mendapatkan perisai intelektual dari luar: “cahaya pikiran” akan menghantam “kaum revolusioner yang naif”. Ide-ide besar tentang penyatuan antara teori dan praktik menjadikan ketidakadilan sebagai permulaan dari penyatuan semacam itu. Selanjutnya perlawanan di negara-negara yang terbelakang telah mendapatkan respons di negara-negara maju dimana kaum muda memprotes penindasan yang terjadi dalam kemakmuran dan perang di luar negeri.

 

(12)

Revolt against the false fathers, teachers, and heroes – solidarity with the wretched of the earth: is there any “organic” connection between the two facets of the protest? There seems to be an all but instinctual solidarity. The revolt at home against home seems largely impulsive, its targets hard to define : nausea caused by “the way of life,” revolt as a matter of physical and mental hygiene. The body against “the machine” — not against the mechanism constructed to make life safer and milder , to attenuate the cruelty of nature, but against the machine which has taken over the mechanism: the political machine, the corporate machine, the cultural and educational machine which has welded blessing and curse into one rational whole. The whole has become too big, its cohesion too strong, its functioning too efficient — does the power of the negative concentrate in still partly unconquered, primitive, elemental forces ? The body against the machine: men, women, and children fighting, with the most primitive tools, the most brutal and destructive machine of all times and keeping it in check – – does guerilla warfare define the revolution of our time?

 

Perlawanan terhadap para ayah, guru dan pahlawan yang semu, dan solidaritas terhadap bumi yang malang: adakah hubungan “organis” antara dua wajah protes? Tampak seluruhnya tidak lain adalah solidaritas yang bersifat instinktif. Perlawanan di dalam negeri menghadapi golongan di dalam negeri terlihat impulsif dan sasarannya sulit ditentukan: muak yang disebabkan oleh “cara hidup” perlawanan sebagai persoalan fisik dan kesehatan mental. Tubuh melawan “mesin”, bukan melawan mekanisme yang diciptakan untuk membuat hidup makin aman dan ringan, mengurangi kekejaman alam, tetapi menghadapi mesin yang telah mengambil alih mekanisme: mesin politik, mesin perusahaan, mesin budaya dan pendidikan yang menghasilkan rahmat dan kutukan pada orang rasional seluruhnya. Keseluruhan telah menjadi terlalu besar, ikatannya terlalu kuat, dan fungsinya terlalu efisien. Apakah kuasa-negatif yang terkonsentrasi sebagian masih tidak tertundukkan, primitif, dan menjadi unsur-unsur kekuatan? Tubuh melawan mesin: pria, wanita, dan anak-anak berjuang, dengan menggunakan peralatan paling primitif, mesin yang paling brutal dan primitif sepanjang masa dan tengah dipersiapkan. Lantas, apakah perang gerilya menentukan bentuk revolusi di jaman kita?

 

(13)

Historical backwardness may again become the historical chance of turning the wheel of progress to another direction. Technical and scientific overdevelopment stands refuted when the radar-equipped bombers, the chemicals, and the “special forces ” of the affluent society are let loose on the poorest of the earth, on their shacks, hospitals, and rice fields. The “accidents” reveal the substance: they tear the technological veil behind which the real powers are hiding. The capability to overkill and to overburn, and the mental behavior that goes with it are by-products of the development of the productive forces within a system of exploitation and repression; they seem to become more productive the more comfortable the system becomes to its privileged subjects. The affluent society has now demonstrated that it is a society at war; if its citizens have not noticed it, its victims certainly have.

 

Keterbelakangan historis mungkin kembali menjadi kesempatan historis membelokkan roda kemajuan menuju arah yang lain. Perkembangan teknis dan ilmiah yang pesat berdiri melawan ketika pesawat-pesawat pengebom dilengkapin radar, zat-zat kimia, dan aneka “pasukan khusus” dari masyarakat makmur disebar pada wilayah bumi yang paling miskin, menyasar berbagai gubuk, rumah sakit dan sawah. “Yang kebetulan” mengungkap yang hakiki: mereka merobek kedok teknologis dimana kekuatan yang sesungguhnya bersembunyi di belakang kedok itu. Kemampuan membunuh dan membakar yang berlebihan, dan perilaku mental yang berjalan mengiringinya adalah produk samping dari perkembangan kekuatan-kekuatan produktif dalam sistem eksploitasi dan penindasan. Tampaknya, semakin sistem itu produktif semakin sistem itu menyenangkan bagi subyek-subyek yang diistimewakan. Masyarakat makmur sekarang telah menunjukkan bahwa masyarakat semacam itu adalah masyarakat perang. Jika warganegaranya belum tahu, para korbannya sudah tahu.

 

(14)

The historical advantage of the late-comer, of technical backwardness, may be that of skipping the stage of the affluent society. Backward peoples by their poverty and weakness may be forced to forego the aggressive and wasteful use of science and technology, to keep the productive apparatus à la mesure de l’homme, under his control, for the satisfaction and development of vital individual and collective needs.

 

Keuntungan historis dari pendatang belakangan, dari masyarakat yang mengalami keterbelakangan teknis, mungkin bisa dikaitkan dengan penghapusan tahapan yang dicapai masyarakat makmur. Orang-orang yang terbelakang karena kemiskinan dan ketidakberdayaan mungkin dipaksa menjauhi penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang agresif dan bertujuan kotor.

 

(15)

For the overdeveloped countries, this chance would be tantamount to the abolition of the conditions under which man ‘s labor perpetuates, as self- propelling power, his subordination to the productive apparatus, and, with it, the obsolete forms of the struggle for existence. The abolition of these forms is, just as it has always been, the task of political action, but there is a decisive difference in the present situation. Whereas previous revolutions brought about a larger and more rational development of the productive forces , in the overdeveloped societies of today, revolution would mean reversal of this trend: elimination of overdevelopment, and of its repressive rationality. The rejection of affluent productivity, far from being a commitment to purity, simplicity, and “nature,” might be the token (and weapon) of a higher stage of human development, based on the achievements of the technological society. As the production of wasteful and destructive goods is discontinued (a stage which would mean the end of capitalism in all its forms) — the somatic and mental mutilations inflicted on man by this production may be undone. In other words, the shaping of the environment, the transformation of nature, may be propelled by the liberated rather than the repressed Life Instincts, and aggression would be subjected to their demands.

 

Bagi negara-negara maju, kesempatan ini menjadi penting bagi penghapusan keadaan-keadaan dimana tenaga manusia, sebagai daya yang bersifat mandiri, masih melanjutkan subordinasinya terhadap aparatus produktif, dan bersama itu pula, melanjutkan bentuk-bentuk usang perjuangan bagi eksistensinya. Penghapusan bentuk-bentuk kondisi semacam ini, sebagaimana selalu terjadi, merupakan tugas tindakan politik, tetapi menjadi berbeda bentuknya dalam situasi saat ini. Dimana revolusi-revolusi terdahulu menyebabkan perkembangan aneka tenaga produktif yang lebih luas dan lebih rasional, pada masyarakat maju sekarang revolusi bermakna sebagai pembalikan dari trend macam itu. Revolusi bermakna penghapusan perkembangan yang terlalu maju, dan rasionalitas menindas yang menyertainya. Penolakan terhadap produktivitas yang berlimpah, jauh dari komitmen untuk memurnikan, menyederhanakan, dan “membuatnya alamiah” mungkin menjadi pertanda (atau senjata) dari perkembangan manusia pada tahap yang lebih tinggi, berlandaskan aneka prestasi masyarakat teknologis. Ketika produksi benda-benda sampah dan merusak terus berlanjut (satu tahap yang mungkin merupakan akhir kapitalisme dalam segala bentuknya), mutilasi somatik dan mental yang terjadi pada manusia akibat kegiatan produksi ini masih belum berakhir. Dengan kata lain, membentuk lingkungan, merubah alam, mungkin digerakkan oleh mereka yang terbebaskan tinimbang yang hidup dengan instink tertindas, dan perilaku agresif akan terjadi menurut permintaan-permintaan mereka.

 

(16)

The historical chance of the backward countries is in the absence of conditions which make for repressive exploitative technology and industrialization for aggressive productivity. The very fact that the affluent warfare state unleashes its annihilating power on the backward countries illuminates the magnitude of the threat. In the revolt of the backward peoples, the rich societies meet, in an elemental and brutal form, not only a social revolt in the traditional sense, but also an instinctual revolt — biological hatred. The spread of guerilla warfare at the height of the technological century is a symbolic event: the energy of the human body rebels against intolerable repression and throws itself against the engines of repression. Perhaps the rebels know nothing about the ways of organizing a society, of constructing a socialist society; perhaps they are terrorized by their own leaders who know something about it, but the rebels’ frightful existence is in total need of liberation, and their freedom is the contradiction to the overdeveloped societies. Western civilization has always glorified the hero, the sacrifice of life for the city, the state, the nation; it has rarely asked the question of whether the established city, state, nation were worth the sacrifice. The taboo on the unquestionable prerogative of the whole has always been maintained and enforced, and it has been maintained and enforced the more brutally the more the whole was supposed to consist of free individuals. The question is now being asked — asked from without — and it is taken up by those who refuse to play the game of the affluents — the question of whether the abolition of this whole is not the precondition for the emergence of a truly human city, state, nation.

 

Kesempatan historis negara-negara yang terbelakang terletak pada ketiadaan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi munculnya teknologi represif-eksploitatif dan industrialisasi yang mengejar produktivitas secara agresif. Fakta kuat bahwa negara makmur bersemangat perang menggunakan kekuatan penghancurnya pada negara-negara terbelakang memperjelas luasnya ancaman ini. Dalam revolusi orang-orang terbelakang, masyarakat yang kaya, dengan bentuk kebrutalannya, menjumpai bukan hanya sebuah perlawanan sosial dalam arti tradisional, tetapi juga menemui instink perlawanan berupa kebencian biologis. Menyebarnya perang gerilya yang memuncak di abad teknologi merupakan simbol sebuah kejadian: energi tubuh manusia memberontak terhadap represi yang tak bisa ditoleransi dan melontarkan dirinya sendiri melawan mesin-mesin penindasan. Mungkin para pemberontak tidak tahu apa-apa tentang cara mengorganisir masyarakat, tentang menciptakan masyarakat sosialis; mungkin mereka diteror oleh pemimpin mereka sendiri yang tahu akan hal itu, tetapi eksistensi mengejutkan dari para pemberontak adalah berupa keinginan penuh mereka untuk bebas, dan kebebasan mereka bentuknya bertentangan dengan masyarakat-masyarakat maju. Peradaban Barat selalu mengangung-agungkan pahlawan, pengorbanan hidup untuk kota, negara, atau bangsa serta jarang menanyakan apakah kota, negara dan bangsa yang sudah mapan itu berharga bagi sebuah pengorbanan. Tabu terhadap hal-hal penting yang tak boleh ditanyakan oleh masyarakat senantiasa dirawat dan dipaksakan, dan semakin dirawat dan dipaksakan dengan brutal maka semakin semua orang dianggap menjadi para individu yang bebas. Pertanyaannya sekarang adalah, dan ini pertanyaan siapa saja, dan pertanyaan ini dilakukan oleh mereka yang menolak memainkan permainan orang-orang kaya, pertanyaan adalah apakah penghapusan keseluruhan ini bukan merupakan prakondisi bagi munculnya kota, negara, dan bangsa yang hakiki bagi manusia?

 

(Dialihbahasakan oleh Dr. Hadi Winarto)

Pos terkait

banner 468x60