Kata kunci untuk memahami Kata Pengantar 1996 adalah singkat dan sederhana. Ideal-ideal yang muncul dalam “narasi psikoanalisa” untuk memotret masyarakat kapitalis Amerika Serikat di tahun 1960-an itu menegaskan bahwa ujung dari kritik dan koreksi adalah perjuangan politik…. Hanya saja, Herbert Marcuse sangat distinktif karena senjata untuk perjuangan politik itu menggunakan instrumen budaya. Ia mengenalkan sejenis “kritik budaya melalui radikalisasi budaya” (criticizing culture through radicalizing culture) yang bertujuan menjungkirbalikkan nilai dan ideologi dalam masyarakat yang melestarikan eksploitasi. Warisan Marcuse dalam bentuk gerakan mungkin berumur tidak panjang, tetapi sebagai warisan (legacy) pemikiran kritis mampu bertahan lebih dari 50 tahun kemudian.
—————-
(17)
The odds are overwhelmingly on the side of the powers that be. What is romantic is not the positive evaluation of the liberation movements in the backward countries, but the positive evaluation of their prospects. There is no reason why science, technology, and money should not again do the job of destruction, and then the job of reconstruction in their own image. The price of progress is frightfully high, but we shall overcome. Not only the deceived victims but also their chief of state have said so. And yet there are photographs that: show a row of half naked corpses laid out for the victors in Vietnam: they resemble in all details the pictures of the starved, emasculated corpses of Auschwitz and Buchenwald. Nothing and nobody can ever overcome these deeds, nor the sense of guilt which reacts in further aggression. But aggression can be turned against the aggressor. The strange myth according to which the unhealing wound can only be healed by the weapon that afflicted the wound has not yet been validated in history: the violence which breaks the chain of violence may start a new chain. And yet, in and against this continuum, the fight will continue. It is not the struggle of Eros against Thanatos, because the established society too has its Eros: it protects, perpetuates, and enlarges life. And it is not a bad life for those who comply and repress. But in the balance, the general presumption is that aggressiveness in defense of life is less detrimental to the Life Instincts than aggressiveness in aggression.
Banyak kejanggalan berlebihan pada sisi kekuasaan. Apa yang romantis bukanlah berkaitan dengan penilaian positif tentang gerakan pembebasan di negara-negara terbelakang, tetapi penilaian positif terkait aneka prospek negara-negara terbelakang itu. Tidak ada alasan mengapa ilmu pengetahuan, teknologi dan uang tidak seharusnya berguna kembali untuk pekerjaan menghancurkan, dan selanjutnya pekerjaan membangun kembali dilakukan menurut citra yang dikehendakinya sendiri. Harga bagi kemajuan demikian tinggi, tapi kami sanggup mengatasinya. Bukan hanya para korban yang terkelabui tetapi juga kepala negara mereka mengatakan hal yang demikian. Selanjutnya ada foto-foto yang menggambarkan tubuh-tubuh setengah telanjang terlentang untuk para pemenang di Vietnam. Mereka menampilkan dengan jelas gambar orang-orang kelaparan, tubuh-tubuh tidak berdaya di Auschwitz dan Buchenwald. Tak sesuatupun dan tak seorangpun dapat mengatasi perbuatan ini, tidak juga rasa bersalah yang bereaksi dengan agresi lebih jauh. Tapi agresi bisa berbalik melawan sang agresor. Mitos aneh luka yang tak terobati hanya dapat diobati oleh senjata yang menyebabkan luka belum terbukti benar dalam sejarah. Kekerasan yang memutus rantai kekerasan mungkin memulai rantai kekerasan yang baru. Seterusnya, di dalam dan bertentangan dengan kesinambungan ini, pertarungan akan berlanjut. Ini bukanlah pertarungan antara Eros melawan Thanatos, karena masyarakat yang mapan pun juga punya Eros sendiri, dan Eros itu melindungi, melanjutkan dan memperluas kehidupan. Dan hidup bukanlah sesuatu yang buruk bagi mereka yang berkehendak dan menindas. Tetapi di dalam keseimbangan, praduga umum menyebutkan bahwa sifat agresif untuk mempertahankan hidup kurang mampu menarik instink kehidupan daripada sifat agresif dalam agresi.
(18)
In defense of life: the phrase has explosive meaning in the affluent society. It involves not only the protest against neo-colonial war and slaughter, the burning of draft cards at the risk of prison, the fight for civil rights, but also the refusal to speak the dead language of affluence, to wear the clean clothes, to enjoy the gadgets of affluence , to go through the education for affluence . The new bohème , the beatniks and hipsters, the peace creeps — all these “decadents” now have become what decadence probably always was: poor refuge of defamed humanity.
Mempertahankan hidup. Frase ini memiliki makna eksplosif dalam masyarakat makmur. Ia melibatkan tidak hanya protes melawan perang dan pembantaian neo-kolonial, membakar aneka kartu rencana (perang) dengan resiko dipenjara, perjuangan untuk hak-hak sipil, tetapi juga menolak berbicara menggunakan bahasa mematikan milik kaum makmur, mengenakan baju-baju yang rapi, menikmati teknologi gawai kaum makmur, mengikuti pendidikan untuk golongan makmur. Gaya hidup kaum bohemian baru, juga mereka yang doyan musik bebas dan berbusana seenaknya, gaya aksi damai mereka yang urakan, semua bentuk “kemerosotan” ini sekarang menjadi arti dekaden di masa lalu: para pengungsi malang manusia-manusia yang tercemar.
(19)
Can we speak of a juncture between the erotic and political dimension?
In and against the deadly efficient organization of the affluent society, not only radical protest, but even the attempt to formulate, to articulate, to give word to protest assume a childlike, ridiculous immaturity. Thus it is ridiculous and perhaps “logical” that the Free Spech Movement at Berkeley terminated in the row caused by the appearance of a sign with the four-letter word. It is perhaps equally ridiculous and right to see deeper significance in the buttons worn by some of the demonstrators (among them infants) against the slaughter in Vietnam: MAKE LOVE, NOT WAR. On the other side, against the new youth who refuse and rebel, are the representatives of the old order who can no longer protect its life without sacrificing it in the work of destruction and waste and pollution. They now include the representatives of organized labor – – correctly so to the extent to which employment within the capitalist prosperity depends on the continued defense of the established social system.
Dapatkah kita membicarakan jeda antara dimensi erotik dan politik?
Berada di dalam dan melawan organisasi kaum makmur yang efisien dan mematikan, tidak hanya berupa protes radikal, tetapi juga berusaha membentuk, mengutarakan, memberi kata kepada protes yang tampak kekanak-kanakan, menampilkan ketidakmatangan yang dekil. Gaya urakan dan mungkin menjadi “logis” Gerakan kebebasan Berbicara di Barkeley berhenti saat berlangsung disebabkan munculnya tanda berupa empat kata. Mungkin ini sama urakannya dan benar dengan melihat lebih dalam dengan melihat kancing-kancing baju yang dikenakan para demonstran (di antara mereka terdapat anak-anak) melawan para pembantai di Vietnam dengan mengeluarkan semboyan: MAKE LOVE, NOT WAR. Di sisi lain, terhadap anak-anak muda yang menolak memberontak, mewakili gambaran tatanan lama yang tak dapat lagi melindungi hidupnya tanpa memberi pengorbanan kepada penghancuran dan sampah serta polusi. Mereka sekarang ikut serta mewakili kaum buruh, meluas hingga lapangan kerja dalam (sistem) kemakmuran kapitalis bergantung kepada kelanjutan mempertahankan sistem sosial yang mapan.
(20)
Can the outcome, for the near future, be in doubt? The people, the majority of the people in the affluent society, are on the side of that which is — not that which can and ought to be. And the established order is strong enough and efficient enough to justify this adherence and to assure its continuation. However, the very strength and efficiency of this order may become factors of disintegration. Perpetuation of the obsolescent need for full-time labor (even in a very reduced form) will require the increasing waste of resources, the creation of ever more unnecessary jobs and services, and the growth of the military or destructive sector. Escalated wars, permanent preparation for war, and total administration may well suffice to keep the people under control, but at the cost of altering the morality on which the society still depends. Technical progress, itself a necessity for the maintenance of the established society, fosters needs and faculties which are antagonistic to the social organization of labor on which the system is built. In the course of automation, the value of the social product is to an increasingly smaller degree determined by the labor time necessary for its production. Consequently, the real social need for productive labor declines, and the vacuum must be filled with unproductive activities. An ever larger amount of the work actually performed becomes superfluous, expendable, meaningless. Although these activities can be sustained and even multiplied under total administration, there seems to exist an upper limit to their augmentation.
Dapatkah hasil dalam masa depan yang dekat diragukan? Orang-orang, mayoritas orang dalam masyarakat makmur, berada di sisi kondisi saat ini, dan bukan pada kondisi yang bisa atau seharusnya terjadi. Dan tatanan yang mapan cukup kuat dan efisien membenarkan keadaan saat ini sekaligus memastikan kelangsungannya. Bagaimanapun, kekuatan dan efisiensi dari tatanan ini mungkin saja menjadi faktor disintegrasi. Kelangsungan dari hal yang usang ini memerlukan para pekerja penuh waktu (bahkan mungkin dalam bentuk yang sudah dikurangi) akan memerlukan sumber-sumber sampah baru, penciptaan lebih banyak pekerjaan dan jasa yang tidak penting, dan pertumbuhan kekuatan militer atau sektor destruktif. Perang-perang yang meluas, persiapan terus menerus untuk perang, dan administrasi total mungkin cukup untuk mengontrol orang banyak, tapi dengan ongkos merubah moralitas yang menjadi pokok bergantungnya masyarakat. Kemajuan teknis menjadi sarana utama menjaga tegaknya masyarakat, memaksakan aneka keperluan dan cabang-cabangnya yang bersifat antagonistik bagi organisasi buruh, dimana sistem memang dibangun seperti itu. Dalam jalur otomatisasi, nilai dari produk sosial menjadi semakin kecil yang ditentukan menurut waktu kerja untuk produksinya. Konsekuensinya, kebutuhan sosial riil untuk tenaga produktif menurun, dan kekosongan ini harus diisi dengan aneka kegiatan tidak produktif. Pekerjaan aktual yang ada menjadi berlebihan, meluas, dan tidak ada artinya. Meskipun kegiatan-kegiatan ini dapat dilanjutkan dan mungkin dilipatgandakan di bawah administrasi total, tampaknya itu akan terjadi dengan melampaui batas.
(21)
This limit would be reached when the surplus value created by productive labor no longer suffices to pay for non-production work. A progressive reduction of labor seems to be inevitable, and for this eventuality, the system has to provide for occupation without work; it has to develop needs which transcend the market economy and may even be incompatible with it.
Batas ini akan tercapai ketika surplus nilai yang diciptakan melalui tenaga produktif buruh tidak lagi cukup untuk membayar kerja non-produktif. Pengurangan jam kerja buruh secara progresif menjadi takterhindarkan, dan untuk hal ini, sistem harus menyediakan pekerjaan tanpa kerja. Sistem harus mengembangkan keperluan-keperluan yang menyambungkan ekonomi pasar dan bahkan jika hal itu tidak cocok dengan ekonomi pasar.
(22)
The affluent society is in its own way preparing for this eventuality by organizing “the desire for beauty and the hunger for community,” the renewal of the “contact with nature,” the enrichment of the mind, and honors for “creation for its own sake.” The false ring of such proclamations is indicative of the fact that, within the established system, these aspirations are translated into administered cultural activities, sponsored by the government and the big corporations — an extension of their executive arm into the soul of the masses. It is all but impossible to recognize in the aspirations thus defined those of Eros and its autonomous transformation of a repressive environment and a repressive existence. If these goals are to be satisfied without an irreconcilable conflict with the requirements of the market economy, they must be satisfied within the framework of commerce and profit. But this sort of satisfaction would be tantamount to denial, for the erotic energy of the Life Instincts cannot be freed under the dehumanizing conditions of profitable affluence. To be sure, the conflict between the necessary development of noneconomic needs which would validate the idea of the abolition of labor (life as an end in itself) on the one hand, and the necessity for maintaining the need for earning a living on the other is quite manageable (especially as long as the Enemy within and without can serve as propelling force behind the defense of the status quo). However, the conflict may become explosive if it is accompanied and aggravated by the prospective changes at the very base of advanced industrial society, namely, the gradual undermining of capitalist enterprise in the course of automation .
Masyarakat makmur di dalam dirinya sendiri siap untuk keadaan ini dengan cara mengelola “hasrat akan kecantikan dan kelaparan akan kehangatan hidup bermasyarakat”, kebangkitan untuk “berhubungan dengan alam”, pengayaan pikiran, dan honor untuk “ciptaan demi ciptaan itu sendiri.” Lingkaran palsu dari pernyataan semacam itu terlihat dari fakta dalam sistem yang mapan, dan aspirasi-aspirasi ini diterjemahkan ke dalam berbagai aktivitas kultural yang diadministrasikan, yang disponsori pemerintah dan perusahaan-perusahaan besar, yang semua itu merupakan perluasan dari tangan-tangan eksekutif ke dalam jiwa massa. Ini semua tak mungkin sanggup mengenali aneka aspirasi, dan karena itu semua ikut menentukan Eros dan daya transformasi otonom dari lingkungan yang menindas dan eksistensi yang menindas. Seandainya tujuan-tujuan ini dipuaskan tanpa konflik yang terdamaikan dengan aneka persyaratan ekonomi pasar, mereka pasti bisa dipuaskan dalam kerangka perdagangan dan keuntungan. Tapi kepuasan jenis ini akan sangat disangkal, karena energi erotik dari instink kehidupan tak dapat dibebaskan dengan cara di bawah kondisi-kondisi yang merendahkan manusia menurut keuntungan yang memakmurkan. Menjadi gamblang, konflik antara perkembangan penting kebutuhan non-ekonomi yang membenarkan ide penghapusan buruh, dimana hidup menjadi tujuan hidup itu sendiri, pada satu sisi, dan kepastian merawat keperluan untuk membiayai hidup pada sisi lain menjadi sangat terkelola, (khususnya sejauh para musuh di dalam dan di luar bisa menjadi tenaga pendorong mempertahankan status quo). Bagaimanapun, konflik mungkin menjadi eksplosif jika didampingi dan diperburuk oleh berbagai perubahan prospektif pada fondasi masyarakat industri maju, yang dinamai kerusakan bertahap perusahaan kapitalis akibat otomatisasi.
(23)
In the meantime, there are things to be done. The system has its weakest point where it shows its most brutal strength: in the escalation of its military potential (which seems to press for periodic actualization with ever shorter interruptions of peace and preparedness). This tendency seems reversible only under strongest pressure, and its reversal would open the danger spots in the social structure: its conversion into a “normal” capitalist system is hardly imaginable without a serious crisis and sweeping economic and political changes. Today, the opposition to war and military intervention strikes at the roots: it rebels against those whose economic and political dominion depends on the continued (and enlarged) reproduction of the military establishment, its “multipliers ,” and the policies which necessitate this reproduction. These interests are not hard to identify, and the war against them does not require missiles, bombs, and napalm. But it does require something that is much harder to produce — the spread of uncensored and unmanipulated knowledge, consciousness, and above all, the organized refusal to continue work on the material and intellectual instruments which are now being used against man — for the defense of the liberty and prosperity of those who dominate the rest.
Saat ini, ada banyak hal untuk dilakukan. Sistem memiliki sisi terlemah saat dia memunculkan kekuatannya yang paling brutal. Dan ini tampak pada saat eskalasi potensi militer (yang tampak tertunda oleh periode persiapan dengan interupsi singkat dari masa damai dan persiapan perang). Kecenderungan ini tampak berbalik hanya di bawah tekanan terkuat, dan arus pembalikannya akan membuka aneka titik bahaya dalam struktur sosial. Perubahannya menjadi sistem kapitalis yang “normal” sulit dibayangkan tanpa serangkaian krisis dan perubahan ekonomi dan politik yang luas. Hari ini, oposisi terhadap perang dan aksi melawan campurtangan militer telah menjadi akar perlawanan. Aksi itu melawan mereka yang dominasi ekonomi dan politiknya bergantung pada reproduksi berkelanjutan (juga diperluas) dari kekuatan militer yang mapan, para “pengganda” kepentingan militer, dan kebijakan-kebijakan yang meneguhkan reproduksi kepentingan itu. Kepentingan ini tidak sulit diidentifikasi, dan perang melawan mereka tidak memerlukan peluru kendali, bom, atau napalm. Perlawanan itu memerlukan sesuatu yang jauh lebih sulit dihasilkan, yaitu penyebaran pengetahuan dan kesadaran yang tidak disensor dan tidak dimanipulasi, dan di atas semua itu, penolakan terorganisir melanjutkan kerja material dan intelektual yang sekarang justeru digunakan melawan manusia, demi mempertahankan kebebasan dan kemakmuran mereka yang mendominasi sebagian lainnya.
(24)
To the degree to which organized labor operates in defense of the status quo, and to the degree to which the share of labor in the material process of production declines, intellectual skills and capabilities become social and political factors. Today, the organized refusal to cooperate of the scientists, mathematicians, technicians, industrial psychologists and public opinion pollsters may well accomplish what a strike, even a large-scale strike, can no longer accomplish but once accomplished, namely, the beginning of the reversal, the preparation of the ground for political action. That the idea appears utterly unrealistic does not reduce the political responsibility involved in the position and function of the intellectual in contemporary industrial society. The intellectual refusal may find support in another catalyst, the instinctual refusal among the youth in protest. It is their lives which are at stake , and if not their lives, their mental health and their capacity to function as unmutilated humans. Their protest will continue because it is a biological necessity. “By nature,” the young are in the forefront of those who live and fight for Eros against Death, and against a civilization which strives to shorten the “detour to death” while controlling the means for lengthening the detour. But in the administered society, the biological necessity does not immediately issue in action; organization demands counter-organization. Today the fight for life, the fight for Eros, is the political fight.
Pada tingkat dimana kaum buruh yang terorganisir bekerja mempertahankan status quo, dan pada tingkat dimana andil kaum pekerja dalam proses produksi menurun, aneka ketrampilan dan kecakapan intelektual menjadi faktor sosial dan politik. Hari ini, penolakan terorganisr untuk bekerjasama dari para ilmuwan, ahli matematika, teknisi, psikolog industri dan para pembuat opini publik mungkin menggenapi (fakta) mengapa sebuah aksi demonstrasi turun ke jalan, bahkan dalam bentuk yang besar, tak lagi sanggup menuntaskan, tetapi begitu sanggup menuntaskan, maka terjadilah yang disebut awal dari arus pembalikan, berupa persiapan membentuk landasan aksi politik. Bahwa ide-ide itu muncul berupa ucapan-ucapan yang tidak realistis tidak mengurangi tanggungjawab politik yang terdapat pada fungsi dan posisi kaum intelektual dalam masyarakat industri kontemporer. Hidup mereka memang menjadi taruhan, dan jika bukan hidup mereka, kesehatan mental dan kemampuan mereka berfungsi menjadi para manusia yang utuh (unmutilated humans). Potret mereka akan terus berlanjut sebab ini merupakan ketentuan biologis. “Oleh alam” kaum muda ditempatkan berada di depan dari mereka yang hidup dan berjuang untuk EROS melawan kematian, dan melawan peradaban yang bergerak memperpendek “jalur menuju kematian” sambil mengontrol alat-alat memperpanjang jalur itu. Tapi dalam masyarakat yang teradministrasi, ketentuan biologis tidak serta merta mendorong terjadinya aksi; dan organisasi memerlukan organiasi tandingan. Hari ini, perjuangan untuk hidup, perjuangan untuk Eros, adalah perjuangan politik.



