Tim PROMAHADESA Menelusuri Ta’ Butaan Sebagai Ikon Kesenian dan Warisan Sejarah Desa Wisata Adat Arjasa

Setelah beberapa pekan melakukan survey lapangan dari potensi lokal Desa Wisata Adat Arjasa, kini teman-teman PROMAHADESA mengunjungi sanggar Ta’ Butaan yang dikelola oleh Mas Yanto sebagai ketua sanggar Ta’ Butaan Desa Wisata Adat Arjasa. Ta’ Butaan menjadi salah satu warisan turun-temurun budaya lokal Desa Wisata Adat Arjasa dan merupakan salah satu kesenian lokal iconic dan legendaris yang tumbuh di Desa Wisata Adat Arjasa.

Mas Yanto menjelaskan bahwa “pertunjukan kesenian Ta’ Butaan adalah tarian dengan kostum raksasa yang dibuat dari kain, bambu, dan kayu. Adapun proses pemasangan kostum sendiri, bisa memakan waktu berhari-hari, dan wajah topengnya berbeda antara laki-laki dan perempuan.”

Ta Butaan biasanya ditampilkan dalam acara selametan desa dan biasanya sering diadakan pada bulan Agustus, termasuk juga ketika peringatan 17 Agustus. Disisi lain, kesenian Ta’ Butaan ini dulunya adalah bagian dari ritual budaya masyarakat setempat sebagai bentuk selametan, seperti sebelum menanam atau panen padi, serta mendak Tirta yang menyerupai rukatan sebagai simbol penyucian diri.

Menurut Mas Yanto, kesenian ini adalah kesenian asli Arjasa. “Ta’ Butaan itu emang asli Desa Wisata Adat Arjasa, di Desa Kamal memang ada, tapi yang mengawali itu adalah Desa Wisata Adat Arjasa. Berbeda dengan reog yang memang bukan berasal dari kita, kita Jember ta buthaan, ya Arjasa ini. Kadang, Ta’ Butaan berkolaborasi dengan seni lain seperti Can Macanan, namun tetap menjaga keaslian identitasnya.” Ujarnya.

Menjelang perkembangan zaman yang sudah modern, kesenian tradisional ini juga tidak lepas dari tantangannya. Adapaun tantangan besar yang dihadapi Ta’ Butaan adalah bagaimana generasi tua bisa menurunkan nilai budaya ini kepada generasi muda. Menurut hasil survey teman-teman PROMAHADESA terhadap kepala sanggar Ta’ Butaan adalah pembelajaran ke generasi Alpha dianggap lebih sulit untuk kembali diajak melestarikan tradisi dibanding generasi Z.

Mengingat kesenian kebudayaan tradisional ini merupakan warisan turun-menurun yang banyak menyimpan peristiwa sejarah di dalamnya, harapannya menjadi pusat perhatian lebih untuk menjaga kelestarian dan kebeelanjutan Ta’ Butaan karena selain menjadi warisan kesenian budaya lokal, Ta’ Butaan juga menjadi iconic khas Desa Wisata Adat Arjasa.

Pos terkait

banner 468x60