Koneksi Antar Materi Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

  • Whatsapp

Perkenalkan nama saya Wella Asmaradana, M.Pd, Calon guru penggerak angkatan 7 dari kabupaten Lamongan Jawa Timur. Selama menjalani pendidikan calon guru penggerak ini saya di fasilitatori oleh Ibu Khusnul Insani, M.Pd. Saya mengikuti program pendidikan guru penggerak karena tertarik dengan konsep Merdeka Belajar. Merasa bersyukur dan merupakan kebanggan tersendiri bagi saya karena mendapat kesempatan untuk mengikuti pendidikan guru penggerak ini setelah melewati beberapa tahapan seleksi yang sangat ketat.

Pada kesempatan ini perkenankanlah saya menyampaikan sebuah hasil kesimpulan dan refleksi terhadap materi modul 1.1 tentang pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara. Sebelum mempelajari filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara ini saya mengajar sesuai dengan keinginan saya sehingga proses pembelajaran menjadi terbatas oleh aktivitas yang sudah saya buat tanpa memikirkan bahwa setiap peserta didik memiliki kodratnya masing-masing.

Saya berpedoman Guru adalah subjek utama kegiatan pembelajaran. Saya menganggap siswa tidak akan paham jika materi pelajaran tidak saya jelaskan dan saya selalu memberikan tugas yang semua semua tanpa mempertimbangkan keragaman potensi peserta didik. Hal ini berdampak kepada kurangnya minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di kelas saya. Pemikiran dan perilaku saya tersebut ternyata salah besar. Peserta didik bukanlah kertas yang kosong, melainkan mereka telah memiliki isi yang samar-samar dan kita harus memperjelas isi tersebut.

Tulisan samar tersebut adalah kodrat peserta didik yang sudah ada sejak mereka lahir. Setiap peserta didik memiliki ketertarikan, minat dan bakat sendiri-sendiri yang tentunya sulit untuk di rubah.  Ketika menyadari hal ini saya berpikir agar tidak memaksa peserta didik untuk menjadi seperti yang kita inginkan, melainkan harus membimbing dan menuntun peserta didik agar tidak kehilangan arah dan tujuan pembelajaran. Dengan harapan peserta didik dapat menggapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi tingginya baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

Ki Hajar Dewantara mengibaratkan pendidikan sebagai sebuah lahan tempat menumbuhkan bibit-bibit tanaman di mana guru adalah petaninya dan sekolah adalah lahannya serta peserta didik sebagai benihnya. Seorang petani harus mengetahui mengetahui bibit apa saja yang dia miliki untuk di tanam dan dirawat. Seorang petani harus mengetahui pengetahuan tentang cara menanam dan merawat setiap bibit yang ia miliki karena tiap-tiap bibit akan berbeda cara menanam dan merawatnya.

Ki Hajar Dewantara menegaskan tujuan utama pendidikan adalah bagaimana pendidikan mampu membuat anak memiliki budi pekerti yang baik. ‘Budi pekerti’ atau ‘watak’ diartikan sebagai bulatnya jiwa manusia. Watak atau budi pekerti bersifat tetap dan pasti pada setiap manusia, sehingga kita dapat dengan mudah membedakan orang yang satu dengan yang lainnya. Budi pekerti, watak, atau karakter merupakan hasil dari bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Melalui pendidikan, sebagai seorang pendidik pasti kita semua berharap agar peserta didik kita nantinya dapat bertumbuh menjadi manusia yang memiliki adab dan berbudi pekerti yang baik serta mampu hidup bersosialisasi di lingkungan masyarakat.

Pos terkait