Santri MTs Husnul Khotimah 2 Raih Empat Prestasi di Kompetisi Robotik Internasional Malaysia

KUNINGAN — Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, santri MTs Husnul Khotimah 2 Kuningan membawa pulang kabar membanggakan dari Malaysia. Mereka meraih empat prestasi dalam World Robotic Center Competition (WRC) 2026 yang digelar di Universiti Putra Malaysia (UPM), 11–12 Agustus 2026.

 

Kompetisi robotik tersebut diikuti lebih dari 1.200 peserta dari sejumlah negara, terutama kawasan Asia. Agenda ini diselenggarakan World Robotic Center (WRC) bersama Robotika Nusantara dengan dukungan Kementerian Pendidikan Malaysia.

 

Empat prestasi berhasil diraih kontingen MTs Husnul Khotimah 2 Kuningan pada sejumlah kategori robotik.

 

Pada kategori Soccer Robot, Tim Garuda HK2 yang diperkuat Faeyza Aqila F, Hilal Al Fahrezy, dan M. Ihsan Khalilurrahman meraih 2nd Gold Medal.

 

Sementara itu, Tim Elang HK2 yang terdiri atas Aufa Asyam K, Hanan Gz, dan Zaydan Kautsar Alfatih berhasil meraih 1st Bronze Medal pada kategori Sumo Robot.

 

Prestasi berikutnya datang dari Tim Rajawali HK2 pada kategori Transporter Robot. Tim yang beranggotakan Sagara Arta, M. Rizqi Mubarok, Syamil Azzam M, dan Rafa Fauzan K tersebut meraih 1st Runner Up sekaligus 1st Silver Medal.

 

Adapun pada kategori Line Follower Robot, Tim Imajiner HK2 yang beranggotakan Syamil Azzam M, Rafa Fauzan K, Hanan Gz, dan Zaydan Kautsar Alfatih berhasil menempati posisi 3rd Champion.

 

Bukan Sekadar Membawa Pulang Medali

Di balik capaian tersebut, ada cerita tentang santri yang harus mampu membagi waktu antara pembelajaran teknologi, kehidupan pesantren, dan rutinitas keagamaan.

 

Keikutsertaan dalam kompetisi internasional ini memang diarahkan bukan semata-mata untuk mengejar piala. MTs Husnul Khotimah 2 Kuningan menjadikan ajang tersebut sebagai ruang bagi santri untuk mengembangkan potensi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

 

Pilihan tersebut menjadi semakin relevan karena Malaysia sendiri tengah memberi perhatian besar terhadap pengembangan STEM sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu menghadapi kebutuhan industri global.

 

Bagi para santri, pengalaman bertanding di tengah peserta dari berbagai negara juga memberikan pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas: menguji kemampuan, beradaptasi dengan lingkungan baru, bekerja dalam tim, menerima kekalahan, dan tetap tenang ketika menghadapi tekanan kompetisi.

 

Dengan demikian, medali yang dibawa pulang bukan sekadar simbol kemenangan. Ia menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan berdampingan dengan penguasaan sains dan teknologi.

Kepala MTs Husnul Khotimah 2 Kuningan, Ayip Miftahuddin, mengatakan capaian tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa aktivitas keagamaan dan pengembangan teknologi tidak semestinya dipertentangkan.

 

“Jangan ragu memasukkan anak ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah, karena santri yang setiap hari mengaji ternyata bisa juga membuktikan diri jago dalam teknologi,” ujar Ayip.»

 

Ia menambahkan, pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Husnul Khotimah untuk Tahun Pelajaran 2027/2028 telah dibuka pada Agustus ini.

 

Kado dari Malaysia untuk Kemerdekaan Indonesia

Capaian para santri tersebut hadir hanya beberapa hari menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum itu membuat prestasi di Malaysia memiliki makna tersendiri.

 

Jika kemerdekaan dimaknai sebagai kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk tumbuh dan mengembangkan potensinya, maka prestasi para santri di kompetisi robotik internasional tersebut menjadi salah satu bentuk kecil dari semangat itu.

 

Mereka berangkat dari lingkungan pesantren, membawa identitas sebagai santri, kemudian berkompetisi di panggung internasional bersama peserta dari berbagai negara.

 

Empat prestasi yang diraih Tim Garuda, Elang, Rajawali, dan Imajiner HK2 pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium. Lebih jauh, capaian itu menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia dari pesantren pun memiliki ruang untuk berkompetisi dalam bidang teknologi, selama mendapatkan kesempatan, pembinaan, dan kepercayaan untuk berkembang.

 

Menjelang 17 Agustus, empat prestasi tersebut pun layak dimaknai sebagai sebuah kado kecil dari para santri untuk Indonesia: bahwa semangat kemerdekaan tidak berhenti pada mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang menyiapkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia yang semakin dipengaruhi teknologi.

Pos terkait

banner 468x60