BELARI-KU PERPUS Ubah Perpustakaan SDN Kepatihan Jadi Pusat Belajar yang Aktif dan Menyenangkan

LAMONGAN — SD Negeri Kepatihan menghadirkan inovasi BELARI-KU PERPUS (Belajar Literasi di Perpustakaan) sebagai upaya memperkuat budaya membaca sekaligus mengoptimalkan perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar. Program ini mengalokasikan waktu khusus satu hari setiap minggu bagi siswa kelas I hingga VI untuk mengikuti kegiatan pembelajaran berbasis literasi di perpustakaan.

Inovasi tersebut lahir dari tingginya antusiasme siswa terhadap perpustakaan, namun belum adanya sistem terstruktur yang mengintegrasikan pemanfaatan koleksi buku nonpaket ke dalam pembelajaran harian. Kemampuan literasi dasar siswa yang beragam juga menjadi tantangan dalam membangun kebiasaan membaca dan memahami informasi secara mandiri.

BELARI-KU PERPUS dirancang bukan sekadar mengajak siswa membaca, tetapi mendorong mereka mengeksplorasi bacaan, berdiskusi, memahami informasi, dan menuangkan hasil bacaan dalam bentuk karya kreatif. Setiap kegiatan dilengkapi Jurnal Literasi Kreatif yang dapat berisi rangkuman, peta pikiran, peta konsep, maupun cerita bergambar.

Program ini juga menghadirkan Literasi Tematik Mingguan yang disusun melalui kolaborasi guru kelas dan pustakawan. Tema kegiatan dibuat beragam, antara lain Hari Tokoh Inspiratif, Jelajah Cerita Rakyat, Literasi Sains dan Matematika, serta Pojok Karya Bahasa.

“BELARI-KU PERPUS diarahkan untuk menjadikan perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan dan meminjam buku, tetapi menjadi ruang belajar yang hidup, interaktif, dan menyenangkan bagi siswa,” demikian semangat yang mendasari pelaksanaan program tersebut.

Untuk meningkatkan motivasi siswa, sekolah mengembangkan Kartu Detektif Buku sebagai sarana eksplorasi bacaan dan menyelenggarakan Pameran Mini Karya Literasi setiap akhir bulan. Karya siswa dipajang di mading sekolah maupun area perpustakaan sebagai bentuk apresiasi terhadap proses belajar mereka.

Pelaksanaan BELARI-KU PERPUS dilakukan melalui enam tahapan, yakni perencanaan dan penjadwalan, penataan koleksi serta penyusunan tema, pembelajaran terjadwal di perpustakaan, pencatatan melalui jurnal literasi, apresiasi karya, serta evaluasi dan refleksi secara berkala.

Program tersebut juga sejalan dengan kebutuhan penguatan literasi di tengah meningkatnya paparan gadget dan konten digital yang dapat memengaruhi kebiasaan membaca siswa. Melalui kegiatan terjadwal, siswa diarahkan kembali untuk membangun kemampuan membaca mendalam, memahami isi bacaan, menganalisis informasi, dan mengembangkan gagasan.

Dari pelaksanaan program, SDN Kepatihan mencatat sejumlah capaian. Berdasarkan asesmen literasi internal, kemampuan pemahaman membaca dan daya kritis siswa dilaporkan meningkat 32 persen. Frekuensi kunjungan dan peminjaman buku juga meningkat dari rata-rata 35 siswa per minggu menjadi 180 siswa per minggu, atau melonjak lebih dari 400 persen.

Selain itu, program menargetkan sedikitnya 85 persen siswa aktif mengisi Jurnal Literasi, seluruh guru kelas menerapkan pembelajaran di perpustakaan, serta peningkatan sirkulasi pemanfaatan koleksi perpustakaan hingga 150 persen.

Melalui BELARI-KU PERPUS, sekolah berharap terbentuk kebiasaan belajar yang mandiri, analitis, dan eksploratif. Perpustakaan pun diharapkan semakin kuat menjalankan fungsinya sebagai pusat pembelajaran yang mendukung terbentuknya ekosistem literasi sekolah secara berkelanjutan.

Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan tambahan yang terpisah dari pembelajaran. Dengan pengelolaan waktu, koleksi, guru, dan pustakawan secara terpadu, perpustakaan dapat menjadi bagian nyata dari proses pembelajaran dan membangun budaya membaca sejak pendidikan dasar.

Pos terkait

banner 468x60