LAMONGAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan mengembangkan inovasi GEMAH LA (Gerakan Memanen Air Hujan Lamongan) sebagai strategi preventif menghadapi ancaman kekeringan hidrologis yang terjadi saat musim kemarau.
Kekeringan pada 2024 dan 2025 menyebabkan sejumlah sumber air tanah dan embung desa di berbagai wilayah Lamongan mengalami penurunan ketersediaan air. Kondisi tersebut berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih, sanitasi, peningkatan pengeluaran masyarakat untuk membeli air tangki, hingga berpotensi mengganggu ketahanan pangan.
Selama ini, penanganan kekeringan cenderung dilakukan secara reaktif melalui distribusi air bersih menggunakan armada tangki. Pola tersebut memang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam kondisi darurat, tetapi membutuhkan biaya operasional besar dan bersifat sementara.
Melalui GEMAH LA, BPBD Lamongan mengubah pendekatan tersebut menjadi mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis pemanfaatan sumber daya lokal. Air hujan yang selama musim penghujan umumnya menjadi limpasan permukaan diarahkan untuk ditampung, dimanfaatkan, dan sebagian dikembalikan ke dalam tanah sebagai cadangan air.
Sistem GEMAH LA mengintegrasikan teknologi rainwater harvesting, first flush diverter, filtrasi multi-tahap, tandon penyimpanan, serta sumur resapan. Air hujan yang ditangkap dari atap bangunan terlebih dahulu melewati first flush diverter untuk mengalihkan aliran awal yang berpotensi membawa debu dan kotoran dari permukaan atap.
Air kemudian melewati media filtrasi berupa pasir silika, karbon aktif, zeolit dan ijuk sebelum ditampung dalam Heavy Duty Bio-Tank berkapasitas 5.200 liter. Air hasil pemanenan dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik non-konsumsi, sanitasi dan kebutuhan operasional darurat.
Keunggulan lain GEMAH LA adalah konsep overflow injection. Ketika tandon telah penuh, kelebihan air tidak dibuang ke saluran drainase, tetapi dialirkan secara gravitasi menuju sumur resapan. Mekanisme ini membantu meningkatkan infiltrasi dan pengisian kembali cadangan air tanah di sekitar lokasi.
“GEMAH LA tidak sekadar menampung air hujan, tetapi mengintegrasikan pemanfaatan air hujan dengan konservasi air tanah sebagai bagian dari mitigasi kekeringan,” menjadi prinsip pengembangan inovasi tersebut.
Implementasi awal dilakukan melalui lokasi percontohan di Kecamatan Kembangbahu dan Tikung. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi contoh yang dapat direplikasi oleh desa maupun fasilitas publik lain, terutama di wilayah rawan kekeringan.
Untuk menjamin keberlanjutan, BPBD mendorong pembentukan tim pengelola di tingkat desa. Tim bertugas melakukan pembersihan talang, pemeliharaan instalasi, backwashing filter secara berkala, serta pemantauan ketersediaan air menjelang musim kemarau.
GEMAH LA diharapkan memberikan manfaat bagi pemerintah, masyarakat dan lingkungan. Pemerintah daerah dapat mengurangi ketergantungan terhadap dropping air bersih darurat, masyarakat memperoleh sumber air alternatif dan dapat menghemat biaya pembelian air tangki, sementara lingkungan memperoleh manfaat melalui berkurangnya limpasan permukaan dan meningkatnya pengisian kembali air tanah.
Melalui GEMAH LA, BPBD Lamongan mendorong terbentuknya ketahanan air berbasis masyarakat. Air hujan tidak lagi dipandang sebagai limpasan yang terbuang, tetapi menjadi sumber daya strategis untuk memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan Kabupaten Lamongan menghadapi kekeringan.



