SIPOLA ASA Perkuat Pompanisasi untuk Akselerasi Swasembada Pangan di Lamongan

LAMONGAN – Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menghadirkan inovasi SIPOLA ASA (Pompanisasi Lamongan Akselerasi Swasembada Pangan) sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan air irigasi.

Sebagai salah satu daerah lumbung pangan di Jawa Timur, Kabupaten Lamongan menghadapi tantangan berupa fenomena El Nino dan ketimpangan ketersediaan air, terutama pada lahan sawah tadah hujan. Saat musim kemarau, sebagian lahan mengalami kekurangan air sehingga indeks pertanaman (IP) dapat bertahan pada IP 100, bahkan berisiko gagal panen. Di sisi lain, potensi air permukaan dari sungai, embung, anak sungai, dan saluran pembuang belum dimanfaatkan secara optimal.

SIPOLA ASA hadir tidak sekadar melalui distribusi pompa air, tetapi membangun sistem pengelolaan irigasi yang lebih terintegrasi. Inovasi ini memadukan pemetaan potensi air permukaan dan lahan rawan kekeringan, penyediaan pompa serta jaringan perpipaan, pembentukan kelembagaan pengelola air di tingkat Poktan/Gapoktan, dan pendampingan teknis.

Salah satu kebaruan SIPOLA ASA adalah pemanfaatan pemetaan spasial untuk menentukan lokasi prioritas pompanisasi. Dengan menghubungkan lokasi lahan yang membutuhkan air dengan sumber air potensial, distribusi sarana dapat dilakukan lebih tepat sasaran. Petani juga didorong membentuk kelembagaan pengelola pompanisasi agar pengaturan distribusi air, pemeliharaan sarana, dan biaya operasional dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan.

Inovasi ini turut mendorong efisiensi energi melalui pendampingan konversi penggunaan mesin pompa dari BBM menuju sumber energi yang lebih efisien, seperti gas atau listrik sesuai kondisi lapangan. Selain itu, DKPP mengembangkan Brigade Alsintan Tanggap Iklim untuk mempercepat distribusi maupun perbaikan pompa pada lokasi yang mengalami kekeringan.

Pelaksanaan SIPOLA ASA dilakukan melalui tahapan identifikasi dan pemetaan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), verifikasi lapangan, distribusi pompa dan pipa penyalur, pembentukan serta pelatihan kelembagaan pengelola air, operasionalisasi dan pengawasan, hingga monitoring dan evaluasi dampak.

Program ini diarahkan untuk meningkatkan Luas Tambah Tanam (LTT) serta menaikkan indeks pertanaman dari IP 100 menjadi IP 200 atau IP 300 pada lahan yang memiliki potensi pengairan. SIPOLA ASA menargetkan sedikitnya 15.000 hektare lahan memperoleh dukungan pompanisasi, dengan 75 persen lokasi penerima manfaat ditargetkan mampu meningkatkan indeks pertanaman.

Selain meningkatkan frekuensi tanam, inovasi ini ditargetkan menekan risiko gagal panen akibat kekeringan serta mengurangi biaya pengairan petani minimal 25–30 persen melalui tata kelola air yang lebih efisien.

Dampak SIPOLA ASA diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi gabah, tetapi juga pendapatan rumah tangga petani dan aktivitas ekonomi di tingkat desa melalui jasa alsintan serta pengelolaan irigasi. Pemanfaatan air permukaan yang sebelumnya belum optimal menjadi sumber pengairan alternatif juga memperkuat ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.

Melalui SIPOLA ASA, Kabupaten Lamongan mendorong perubahan tata kelola irigasi dari pola penanganan kekeringan yang bersifat darurat menuju sistem pengairan yang terencana, mandiri, efisien, dan adaptif. Inovasi ini diharapkan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga produktivitas pertanian daerah sekaligus mendukung percepatan swasembada pangan nasional.

Pos terkait

banner 468x60