LAMONGAN – Puskesmas Tikung, Kabupaten Lamongan, menghadirkan inovasi ASMARA CENTIL (Atasi Masalah Remaja untuk Cegah Tindakan Bullying) sebagai strategi terpadu untuk mencegah perundungan sekaligus memperkuat kesehatan jiwa remaja di lingkungan sekolah.
Inovasi ini berangkat dari masih ditemukannya persoalan bullying dan masalah psikologis pada anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Tikung. Berdasarkan pendataan awal, terdapat tiga anak usia sekolah yang mengalami gangguan jiwa. Selain itu, survei di sekolah menunjukkan 40 persen siswa belum memahami secara baik bentuk-bentuk tindakan yang termasuk bullying. Hasil skrining awal kesehatan jiwa juga menemukan 10 persen anak memiliki indikasi masalah kejiwaan atau psikologis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena bullying dapat berdampak terhadap proses belajar, hubungan sosial, rasa percaya diri dan kesehatan mental remaja. Karena itu, penanganan tidak cukup dilakukan setelah kasus terjadi, tetapi perlu dimulai dari edukasi, pencegahan dan deteksi dini.
Melalui ASMARA CENTIL, Puskesmas Tikung mengintegrasikan edukasi kesehatan jiwa, pembinaan hukum, penguatan karakter, pendekatan spiritual, skrining berkala, pelaporan, konseling dan tindak lanjut. Program melibatkan berbagai unsur melalui pendekatan kolaborasi lintas sektor atau pentahelix.
Puskesmas berperan dalam edukasi serta skrining kesehatan jiwa. Kepolisian memberikan edukasi mengenai aspek hukum dan dampak tindakan bullying, sementara Koramil berkontribusi dalam pembinaan kedisiplinan dan karakter. Unsur Kementerian Agama memberikan penguatan nilai spiritual, sedangkan sekolah dan komunitas menjadi mitra utama dalam pelaksanaan program.
Salah satu kebaruan ASMARA CENTIL adalah Barcode Kotak Keluhan Anti-Bullying, yakni kanal pengaduan berbasis kode QR yang dapat digunakan siswa untuk menyampaikan keluhan secara lebih aman dan rahasia. Fasilitas ini diharapkan membuat korban maupun saksi lebih berani melaporkan kejadian tanpa takut mengalami intimidasi.
Program juga membentuk Duta Remaja Tangguh Bebas Bullying sebagai kader sebaya di sekolah. Mereka mendapatkan pelatihan untuk menjadi agen perubahan, membantu mengenali tanda awal permasalahan, memberikan dukungan sebaya, serta mengarahkan siswa yang membutuhkan bantuan kepada tenaga profesional.
Pelaksanaan inovasi dimulai melalui konsolidasi lintas sektor dan sekolah, dilanjutkan edukasi, pembentukan duta remaja, skrining kesehatan jiwa, pemasangan kanal pengaduan, serta konseling dan tindak lanjut. Siswa dengan indikasi masalah psikologis akan mendapatkan pendampingan dari Puskesmas dan, bila diperlukan, dirujuk untuk memperoleh penanganan medis atau psikologis.
ASMARA CENTIL menargetkan skrining kesehatan jiwa terhadap 100 persen siswa sasaran SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Tikung. Program juga menargetkan terbentuknya Duta Remaja Tangguh Bebas Bullying dan tersedianya kanal pengaduan di seluruh sekolah mitra.
Dari sisi hasil, inovasi ini menargetkan penurunan siswa yang belum memahami bullying dari 40 persen menjadi kurang dari 5 persen. Indikasi masalah kesehatan jiwa hasil skrining juga ditargetkan turun dari 10 persen menjadi kurang dari 3 persen.
Melalui pendekatan edukasi, deteksi dini, pelaporan aman, pendampingan dan penguatan karakter, ASMARA CENTIL diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif dan ramah anak. Program ini sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam membangun remaja yang tangguh, sehat secara mental dan bebas dari perundungan.



