LAMONGAN – Upaya pelestarian Bahasa dan Aksara Jawa terus dilakukan melalui inovasi pembelajaran yang lebih kreatif dan sesuai dengan karakter generasi digital. Salah satunya melalui CAMPUR SARI (Cinta Aksara Mulia dan Pembiasaan Tutur Bahasa Jawa Sejak Dini) yang dikembangkan oleh SDN 1 Geger untuk meningkatkan kemampuan literasi Aksara Jawa sekaligus menanamkan nilai kesantunan berbahasa kepada peserta didik.
Inovasi tersebut hadir sebagai respons terhadap menurunnya minat generasi muda terhadap Bahasa Jawa di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan kuatnya pengaruh budaya populer global. Data awal menunjukkan baru sekitar 20 persen siswa sekolah dasar yang memiliki kemampuan memadai dalam membaca dan menulis Aksara Jawa.
Kondisi tersebut diperkuat keterbatasan waktu pembelajaran muatan lokal yang hanya sekitar dua jam pelajaran per minggu, keterbatasan media pembelajaran, serta masih adanya pembelajaran yang berpusat pada guru. Akibatnya, materi Aksara Jawa yang memiliki tingkat kerumitan cukup tinggi kerap dianggap sulit dan kurang menarik oleh siswa.
Melalui CAMPUR SARI, SDN 1 Geger menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, menyenangkan, dan berpusat pada siswa. Inovasi ini memadukan kearifan lokal dengan pendekatan pembelajaran modern melalui Media Triple Dolanan dan Buku Gerak 6 Level.
Media Triple Dolanan terdiri atas tiga media utama, yakni Kartu Aksara Interaktif, Papan Permainan Edukatif, serta aplikasi digital atau Augmented Reality (AR) Aksara Jawa. Sementara Buku Gerak 6 Level disusun secara bertahap berdasarkan tingkat kerumitan materi, mulai dari aksara nglegena hingga pasangan dan rekan, dengan aktivitas berbasis gerak serta permainan visual.
Pendekatan tersebut juga mengakomodasi perbedaan gaya belajar siswa, baik visual, auditori maupun kinestetik. Dengan metode gamifikasi dan pembelajaran berdiferensiasi, siswa dapat belajar sesuai kemampuan dan kecepatan masing-masing.
Pelaksanaan CAMPUR SARI diawali dengan pelatihan guru, penyusunan modul ajar dan asesmen berdiferensiasi, serta penyediaan Pojok Aksara Jawa. Selanjutnya, media digunakan dalam kegiatan pembelajaran, proyek penguatan profil pelajar, pembuatan karya beraksara Jawa, hingga pembentukan komunitas cilik pecinta Aksara Jawa.
Evaluasi dilakukan secara berkala melalui game-based assessment untuk memantau perkembangan kemampuan siswa. Program juga diarahkan untuk berkembang melalui Festival Bahasa dan Aksara Jawa serta replikasi di sekolah lain.
CAMPUR SARI menargetkan peningkatan kemampuan baca-tulis Aksara Jawa siswa hingga 65 persen dalam enam bulan. Program ini juga menargetkan lahirnya lebih dari 100 karya kreatif siswa berupa poster, cerita pendek, konten digital dan kerajinan, serta terbentuknya Laboratorium Mini atau Pojok Aksara Jawa di sekolah.
Dalam jangka panjang, inovasi ini diharapkan mampu mengubah pandangan siswa terhadap Bahasa dan Aksara Jawa, dari sesuatu yang dianggap kuno menjadi budaya yang modern, kreatif dan membanggakan. Sebanyak 85 persen siswa ditargetkan merasa lebih senang dan bangga menggunakan Bahasa Jawa.
Selain meningkatkan literasi, CAMPUR SARI diarahkan untuk memperkuat penerapan unggah-ungguh basa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pelestarian Bahasa dan Aksara Jawa tidak hanya berorientasi pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter, budi pekerti dan kesantunan generasi muda.
Keberhasilan program selanjutnya diharapkan dapat mendorong replikasi CAMPUR SARI pada sedikitnya 15 sekolah dasar di Kabupaten Lamongan, sehingga terbentuk ekosistem pelestarian budaya lokal yang inklusif, kreatif dan berkelanjutan.



