PELUK REMATRI CERIA, Inovasi Puskesmas Tikung Tekan Anemia pada Remaja Putri

LAMONGAN – Puskesmas Tikung, Kabupaten Lamongan, menghadirkan inovasi PELUK REMATRI CERIA (Pendampingan Untuk Remaja Putri Cegah Anemia) sebagai upaya menekan angka anemia pada remaja putri. Program ini lahir dari tingginya kasus anemia yang berpotensi mengganggu kesehatan remaja sekaligus berdampak pada kualitas generasi mendatang.

Remaja putri merupakan calon ibu yang akan melahirkan generasi penerus bangsa. Namun, anemia masih menjadi masalah kesehatan yang cukup tinggi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan sekitar 23 persen remaja perempuan mengalami anemia. Kondisi ini dapat menurunkan konsentrasi, daya tahan tubuh, kebugaran, serta prestasi belajar. Jika berlanjut hingga masa kehamilan, anemia dapat meningkatkan risiko perdarahan, bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), hingga stunting.

Berangkat dari kondisi tersebut, Puskesmas Tikung mengembangkan PELUK REMATRI CERIA sebagai langkah promotif dan preventif yang melibatkan remaja secara aktif. Program ini diawali melalui proyek percontohan di SMK Islam Bakalanpule setelah hasil pemeriksaan pada Februari 2021 menunjukkan sekitar 60 persen siswi mengalami anemia.

Melalui inovasi ini, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) secara berkala untuk mendeteksi anemia sejak dini. Selain itu, remaja mendapatkan edukasi tentang bahaya anemia, pentingnya gizi seimbang, konsumsi makanan kaya zat besi, serta pentingnya menjaga kebersihan diri dan kesehatan reproduksi.

Salah satu keunggulan PELUK REMATRI CERIA adalah pembentukan Duta Rematri Ceria yang berperan sebagai pendamping dan edukator sebaya. Para duta diberikan pelatihan agar mampu memberikan informasi kesehatan kepada teman-temannya sekaligus membantu memantau kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD).

Untuk memperkuat pendampingan, Puskesmas Tikung juga menyediakan buku saku anemia, checklist minum TTD, serta pemantauan berbasis digital melalui Google Docs. Inovasi ini semakin mudah diakses melalui layanan konseling online menggunakan WhatsApp, sehingga remaja dapat berkonsultasi dengan petugas kesehatan tanpa harus datang langsung ke puskesmas.

Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari skrining dan pemeriksaan Hb, pembentukan Duta Rematri Ceria, edukasi kesehatan, pemantauan konsumsi TTD melalui Gerakan Minum Tablet Tambah Darah, hingga monitoring berkala melalui Posyandu Rematri Ceria. Seluruh proses dilakukan dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan tenaga kesehatan agar intervensi berjalan optimal.

Hasil yang dicapai menunjukkan dampak positif terhadap kesehatan remaja putri. Program ini berhasil menurunkan kejadian anemia hingga 60 persen, meningkatkan kadar Hb, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja mengenai pentingnya pencegahan anemia. Kepatuhan konsumsi TTD juga mengalami peningkatan berkat adanya pendampingan dan pemantauan yang berkelanjutan.

Melalui PELUK REMATRI CERIA, Puskesmas Tikung tidak hanya berupaya menurunkan angka anemia, tetapi juga mempersiapkan generasi muda yang lebih sehat, cerdas, dan produktif. Inovasi ini menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung upaya pencegahan stunting, peningkatan kesehatan ibu dan anak, serta pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) di bidang kesehatan.

Dengan pendekatan edukatif, partisipatif, dan berbasis teknologi, PELUK REMATRI CERIA menjadi contoh praktik baik pelayanan kesehatan yang mampu menjawab tantangan kesehatan remaja putri secara berkelanjutan.

Pos terkait

banner 468x60