LAMONGAN – SDN Kediren Kabupaten Lamongan menggagas inovasi TUNAS LITERASI (Tumbuh Cerdas Melalui Literasi Terintegrasi) untuk meningkatkan minat baca, keterampilan menulis, kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif siswa. Inovasi ini hadir sebagai respons terhadap masih rendahnya minat baca dan keterampilan literasi peserta didik yang berdampak pada kemampuan memahami informasi dan membangun karakter pembelajar sepanjang hayat.
Permasalahan tersebut antara lain dipengaruhi minimnya kegiatan literasi yang interaktif, variatif, dan terstruktur. Pembelajaran yang cenderung konvensional serta belum optimalnya keterlibatan keluarga dan masyarakat membuat pembiasaan literasi belum menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Melalui TUNAS LITERASI, SDN Kediren mengembangkan ekosistem literasi yang sistematis, kolaboratif, kontekstual, dan menyenangkan. Literasi tidak lagi terbatas pada kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran, tetapi diintegrasikan ke berbagai mata pelajaran, termasuk numerasi, sains, seni, serta kearifan lokal.
Keunggulan inovasi ini juga terletak pada pendekatan literasi bertingkat dan reflektif. Siswa diarahkan tidak hanya membaca dan memahami bacaan, tetapi juga menghasilkan karya melalui Jurnal Literasi, Pohon Literasi, dan antologi cerita pendek. Dengan pendekatan tersebut, proses literasi diharapkan mampu mengembangkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi sekaligus mengekspresikan gagasan secara kreatif.
TUNAS LITERASI turut memperkuat kolaborasi Tri Pusat Pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat. Orang tua dilibatkan melalui program Membaca Bersama Keluarga di rumah, sedangkan sekolah menjalin kemitraan dengan perpustakaan desa dan perpustakaan keliling melalui program Gelas Canting.
Untuk meningkatkan motivasi dan apresiasi terhadap karya siswa, sekolah juga menyelenggarakan Pekan atau Festival Literasi secara berkala. Kegiatan tersebut diisi dengan pameran karya, lomba literasi, serta sesi berbagi bersama penulis atau pegiat literasi lokal.
Pelaksanaan inovasi diawali dengan pembentukan Tim Literasi Sekolah, penyusunan SOP dan modul panduan, penyediaan Pojok Baca atau Sudut Literasi, peningkatan kapasitas guru, serta sosialisasi kepada komite dan orang tua. Selanjutnya dilakukan pembiasaan membaca buku nonpelajaran sebelum kegiatan belajar mengajar, literasi tematik lintas mata pelajaran, kolaborasi perpustakaan, dan festival literasi.
Pelaksanaan program dipantau melalui monitoring keterbacaan buku, jurnal literasi siswa, evaluasi pembelajaran, serta laporan perkembangan program. Langkah ini dilakukan untuk memastikan inovasi berjalan efektif dan berkelanjutan.
SDN Kediren menargetkan 85 persen siswa aktif membaca minimal dua hingga tiga buku nonpelajaran per bulan, peningkatan rerata skor literasi dan numerasi pada Rapor Pendidikan sebesar 20 persen, serta penerbitan antologi karya siswa secara berkala. Sekolah juga menargetkan sedikitnya 80 persen orang tua terlibat dalam pendampingan membaca di rumah dan tingkat kepuasan warga sekolah terhadap program mencapai lebih dari 85 persen.
Melalui TUNAS LITERASI, SDN Kediren tidak hanya membangun kebiasaan membaca dan menulis, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa menjadi pribadi kritis, kreatif, komunikatif, produktif, dan berkarakter. Inovasi ini diharapkan memperkuat identitas SDN Kediren sebagai sekolah literat dan inovatif melalui sinergi sekolah, keluarga, dan masyarakat.



