Lamongan – SD Negeri 1 Mertani menghadirkan inovasi pembelajaran Numerasi RIA (Ringan, Interaktif, dan Asyik) sebagai upaya meningkatkan kemampuan numerasi sekaligus mengubah anggapan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Melalui pendekatan yang kreatif dan kontekstual, siswa diajak belajar matematika secara aktif, menyenangkan, serta dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Program ini lahir dari kebutuhan untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap matematika. Selama ini, pembelajaran yang cenderung berorientasi pada hafalan rumus membuat sebagian siswa kurang percaya diri dan mudah merasa takut saat menghadapi soal-soal numerasi. Karena itu, SD Negeri 1 Mertani mengembangkan model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses belajar.
Kepala SD Negeri 1 Mertani mengatakan bahwa Numerasi RIA dirancang agar siswa memahami manfaat matematika dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar mengejar nilai.
“Kami ingin membangun pengalaman belajar yang menyenangkan sehingga siswa tidak lagi menganggap matematika sebagai beban. Ketika pembelajaran dikaitkan dengan aktivitas nyata, mereka lebih mudah memahami konsep dan lebih percaya diri,” ujarnya.
Numerasi RIA mengusung tiga prinsip utama. Pertama, Ringan, yakni materi disampaikan secara bertahap menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang mudah dipahami. Kedua, Interaktif, di mana siswa aktif mengikuti diskusi, permainan edukatif, simulasi, serta berbagai aktivitas kolaboratif. Ketiga, Asyik, yaitu pembelajaran dikemas melalui cerita, permainan, media kreatif, dan pengalaman langsung sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup.
Implementasi program didukung dengan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan penyusunan pembelajaran kreatif. Guru bersama-sama mengembangkan modul yang memadukan permainan, proyek sederhana, dan penyelesaian masalah berbasis kehidupan nyata. Lingkungan sekolah juga dimanfaatkan sebagai laboratorium belajar, mulai dari menghitung objek di taman sekolah, mengukur panjang lapangan, hingga mengamati berbagai benda di sekitar sebagai bahan pembelajaran numerasi.
Salah satu kegiatan favorit siswa adalah Petualangan Angka di Taman Sekolah, di mana mereka mengumpulkan data dari lingkungan sekitar untuk kemudian digunakan dalam kegiatan berhitung dan pemecahan masalah. Selain itu, melalui permainan Berbelanja Cerdas, siswa belajar menghitung uang, menentukan harga, serta mengelola pengeluaran sederhana melalui simulasi jual beli.
Guru pelaksana Numerasi RIA menilai pendekatan tersebut mampu meningkatkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran.
“Anak-anak lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba menyelesaikan persoalan sendiri. Mereka belajar sambil bermain sehingga konsep matematika menjadi lebih mudah dipahami,” katanya.
Penerapan Numerasi RIA memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa. Minat belajar matematika meningkat, kemampuan memahami konsep numerasi semakin baik, dan rasa percaya diri siswa tumbuh karena pembelajaran berlangsung tanpa tekanan. Selain meningkatkan prestasi akademik, kegiatan kolaboratif dalam program ini juga melatih kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.
Di balik keberhasilannya, sekolah juga menghadapi tantangan berupa keterbatasan media pembelajaran dan waktu persiapan guru. Namun, kendala tersebut diatasi melalui kolaborasi antarpendidik dengan memanfaatkan bahan sederhana dan barang bekas sebagai alat peraga edukatif, sekaligus memperkuat budaya berbagi praktik baik di lingkungan sekolah.
Keberhasilan Numerasi RIA menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dapat dikemas secara kreatif, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan siswa. Inovasi ini tidak hanya memperkuat kemampuan numerasi sebagai salah satu kompetensi dasar abad ke-21, tetapi juga membangun karakter peserta didik yang lebih percaya diri, kreatif, kolaboratif, dan gemar belajar. SD Negeri 1 Mertani berharap praktik baik ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif demi meningkatkan kualitas pendidikan dan budaya literasi numerasi di Indonesia.



