Lamongan – SDN Sonoadi mengembangkan inovasi OBSESA (Obrolan Sehat Bersama Anak) sebagai upaya memperkuat pencegahan perundungan (bullying) sejak dini melalui pendekatan komunikasi yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Program ini hadir sebagai respons terhadap masih adanya kasus perundungan di lingkungan pendidikan yang berpotensi mengganggu perkembangan mental, emosional, dan sosial anak.
Berdasarkan data UNESCO, sekitar 32 persen anak di dunia pernah mengalami bullying di sekolah. Di Indonesia, persoalan tersebut masih menjadi tantangan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Sementara itu, Rapor Pendidikan Kemendikbud Tahun 2023 menunjukkan indikator pengalaman perundungan di SDN Sonoadi mengalami perbaikan sebesar 14,42 persen. Meski demikian, sekolah menilai upaya pencegahan harus terus diperkuat agar seluruh peserta didik dapat belajar tanpa rasa takut.
Kepala SDN Sonoadi mengatakan bahwa penanganan bullying tidak cukup dilakukan melalui pemberian sanksi kepada pelaku. Menurutnya, sekolah juga harus membangun budaya komunikasi yang sehat sehingga anak memiliki ruang aman untuk menyampaikan perasaan, kesulitan, maupun konflik yang dihadapinya.
“OBSESA memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk didengar. Melalui komunikasi yang terbuka, guru dapat mendeteksi persoalan sejak dini sekaligus mendampingi anak dalam mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara positif,” ujarnya.
Program OBSESA dilaksanakan melalui sesi obrolan antara guru dan siswa yang dilakukan secara berkala, umumnya setiap dua minggu sekali. Dalam setiap pertemuan, guru berperan sebagai pendengar yang empatik sehingga siswa merasa nyaman mengungkapkan kondisi emosional maupun persoalan sosial yang dialami.
Hasil percakapan kemudian dicatat dalam Jurnal OBSESA sebagai dokumentasi perkembangan emosional siswa. Jurnal tersebut menjadi dasar bagi guru untuk melakukan pemantauan sekaligus menyampaikan informasi penting kepada orang tua sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara bersama antara sekolah dan keluarga.
Selain itu, program dilengkapi dengan evaluasi rutin yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas program sekaligus menyusun langkah tindak lanjut dalam menciptakan lingkungan sekolah yang semakin aman, inklusif, dan ramah anak.
Menurut pihak sekolah, salah satu keunggulan OBSESA adalah pendekatan preventif yang berfokus pada akar persoalan. Dengan mengenali kondisi emosional anak sejak dini, potensi munculnya perilaku bullying dapat dicegah sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Kolaborasi sekolah dan orang tua menjadi kunci keberhasilan. Ketika guru dan keluarga memiliki pemahaman yang sama mengenai kondisi anak, maka pembentukan karakter dan penyelesaian masalah dapat dilakukan secara lebih efektif,” kata Kepala SDN Sonoadi.
Selain menekan angka perundungan, OBSESA juga diarahkan untuk membentuk karakter peserta didik yang berlandaskan empati, kepedulian, kemampuan mengendalikan emosi, komunikasi yang santun, serta keterampilan menyelesaikan konflik secara damai. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak dan penguatan pendidikan karakter.
Melalui implementasi yang berkelanjutan, sekolah mulai merasakan dampak positif berupa meningkatnya keterbukaan siswa dalam menyampaikan perasaan, terjalinnya hubungan yang lebih baik antara guru dan peserta didik, serta semakin kuatnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak.
SDN Sonoadi berharap inovasi OBSESA dapat menjadi praktik baik yang menginspirasi sekolah lain dalam membangun budaya pendidikan yang bebas dari bullying. Dengan menghadirkan ruang dialog yang aman dan komunikasi yang sehat, sekolah optimistis dapat mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, empati tinggi, dan mampu hidup berdampingan secara harmonis.



